Suara.com - Di sekitar Desa Aik Berik, Nusa Tenggara Barat (NTB), lobe-lobe tumbuh sebagai bagian dari kekayaan alam yang sudah lama dikenal masyarakat. Namun, buah ini dulu lebih sering dianggap sebagai makanan burung daripada sesuatu yang bisa memberi nilai ekonomi.
Marwita melihatnya dengan cara berbeda.
Ketika melihat lobe-lobe yang melimpah di sekitar tempat tinggalnya, ia mencoba mencari cara agar buah tersebut bisa dimanfaatkan. Percobaan pertamanya adalah membuat permen. Hasilnya belum sesuai harapan. Pembeli menilai rasanya terlalu manis.
Marwita tidak membuang percobaan itu begitu saja. Ia mengubah cara pengolahannya hingga lobe-lobe kemudian menjadi sirup.
"Bahan baku yang melimpah ini seperti lobe-lobe, saya putar otak, buatlah jadi permen. Ternyata katanya kemanisan. Saya ubah lagi, jadilah sirup itu," ungkap Marwita.
Dari sana, Marwita belajar bahwa menjaga potensi alam tidak selalu berarti membiarkannya tetap seperti semula. Ada cara lain untuk menjaganya tetap bernilai, yakni dengan mengolah hasilnya tanpa kehilangan hubungan dengan sumber alamnya.
Tetapi jalan menuju sana tidak sesederhana mengubah buah menjadi produk.
Ketika Potensi Hutan Belum Menjadi Penghidupan

Marwita merupakan bagian dari KUPS Benang Stokel. Sebelum aktif kembali, kelompok tersebut sempat tidak banyak bergerak karena anggotanya berpencar dengan kesibukan masing-masing.
Pada saat yang sama, Desa Aik Berik memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Kehadiran Desa Wisata Air Terjun Benang Stokel membuat Marwita melihat ada ruang untuk menghidupkan kembali kelompok tersebut.
"Awalnya itu sebenarnya kita punya kelompok, cuma kelompok itu belum aktif karena anggotanya masih buyar ke sana ke mari. Jadi, saya membangkitkan UMKM itu karena ada desa wisata di sana," jelasnya.
Persoalannya bukan hanya bagaimana menghasilkan produk. Kelompok juga perlu mengetahui bahan apa yang bisa dimanfaatkan, bagaimana mengolahnya, bagaimana menjaga kualitas, sampai bagaimana membuat produk tersebut bisa diterima pasar.
Pendampingan melalui Women Forest Defenders (WFD) kemudian menjadi salah satu bagian dari proses tersebut.
Marwita bersama kelompoknya belajar mengenali berbagai bahan lokal yang dapat dimanfaatkan dan mengolahnya tanpa bergantung pada pewarna maupun pengawet. Dari proses itu, lobe-lobe menjadi salah satu produk yang dikembangkan.
Kopi lokal juga dicoba dikembangkan melalui metode stek batang agar tanaman lebih mudah dikembangkan dan dipanen.
Bagi Marwita, proses tersebut membuat hasil alam di sekitar mereka tidak berhenti sebagai bahan yang dikonsumsi atau dijual mentah. Ada kesempatan untuk memberikan nilai tambah melalui pengetahuan dan pengolahan.
Namun, Alam Tidak Selalu Memberi Hasil yang Sama
Di sinilah tantangan lain muncul. Usaha yang bertumpu pada hasil alam sangat bergantung pada kondisi lingkungan. Marwita merasakan perubahan cuaca ikut memengaruhi ketersediaan bahan baku.
Produksi kopi yang sebelumnya bisa mencapai lebih dari lima kuintal, misalnya, kini hanya sekitar 1,5 kuintal. Tanaman mengalami kerusakan sehingga hasil panen menurun.
Pisang juga terdampak. Ketika produksinya berkurang, harga komoditas tersebut ikut meningkat.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa mengembangkan hasil hutan menjadi produk ekonomi tidak cukup hanya dengan meningkatkan kemampuan produksi. Kelompok juga perlu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan tempat bahan baku itu tumbuh.
Karena itu, pengetahuan yang diterima Marwita tidak berhenti pada pengolahan.
Ia belajar mengenai pemasaran, kemasan, dan manajemen kewirausahaan. Produk yang sebelumnya dikemas sederhana mulai dikembangkan agar lebih layak dipasarkan dan memiliki daya tahan yang lebih baik.
Dengan begitu, ketika hasil satu komoditas menurun, kemampuan kelompok untuk mengolah dan mengembangkan berbagai potensi lokal tetap menjadi modal.
Dari Lobe-Lobe hingga Membiayai Pendidikan Anak

Bagi Marwita, perubahan itu tidak berhenti pada kegiatan kelompok. Hasil dari usaha yang dikembangkan bersama perlahan ikut menopang kehidupan keluarganya.
Salah satunya untuk membiayai pendidikan anak hingga kuliah.
"Saya tidak pernah berpikir untuk bisa sampai sejauh ini dan mampu membiayai anak hingga kuliah juga dari hasil ini," ucapnya.
Pengalaman tersebut juga membawanya ke ruang yang lebih luas. Keterlibatan dalam Women Forest Defenders (WFD) membuat Marwita semakin berani terlibat dalam urusan desa. Ia kemudian terpilih menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Di posisi itu, ia memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan mengenai penghidupan perempuan dan pengelolaan potensi lokal, yang sebelumnya lebih banyak ia kerjakan bersama kelompok.
Marwita berharap pengalaman tersebut dapat mendorong lebih banyak perempuan di desanya untuk berani menyampaikan pendapat dan terlibat dalam organisasi.
"Saya berharap akan ada perempuan-perempuan desa yang mau menyuarakan pendapatnya, mau berorganisasi juga. Mau tidak mau, perempuan harus bergerak harus mengambil segala-galanya demi perubahan ekonomi," harapnya.
Jalan yang ditempuh Marwita bukan tanpa tantangan. Bahan baku tetap bergantung pada kondisi alam. Perubahan cuaca telah memengaruhi hasil kopi dan pisang. Di saat yang sama, kelompok juga perlu terus belajar agar hasil hutan yang mereka olah memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau pasar.
Namun, dari persoalan tersebut, muncul cara-cara baru untuk bertahan. Bahan lokal yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan mulai diolah. Kelompok yang sempat tidak aktif kembali bergerak. Pengetahuan tentang pengolahan, kemasan, pemasaran, dan pengelolaan usaha terus dikembangkan.
Penulis: Chairunisa