
BCA, institusi perbankan terkemuka, turut meramaikan melalui myBCA District One, di mana para pengunjung dapat mencoba berbagai fi tur perbankan yang dirancang sebagai pengalaman banking yang nyaman dan inovatif. Pengunjung dapat berpartisipasi dan menikmati beragam aktivitas di booth interaktif ini, yang menampilkan fi tur-fi tur myBCA, termasuk Poket Valas, Poket Rupiah, aktivasi in-app OTP, dan The New Gacha Berhadiah. BCA juga kembali menawarkan penawaran eksklusif untuk setiap transaksi yang berlangsung di Art Jakarta.
Dinamika pameran edisi 2026 kian menguat melalui kolaborasi para Main Partners dengan jajaran perupa dan studio-studio desain.
iForte dan Protelindo Group menyajikan Hutan Kabel, instalasi karya seniman Agnes Hansella. Mengambil sumber dari pola pertumbuhan sejenis beringin di kampung halamannya di Kalimantan Tengah, seniman ini mengandaikan infrastruktur kabel yang beradaptasi dengan ruang arsitektur sebagai jejaring sulur-suluran pepohonan yang saling bertaut. Dibangun dari ribuan meter limbah kabel tak terpakai dari iForte, instalasi ini merentang di ruangan bagaikan kanopi, fiber optik yang terhubung dengan sensor interaktif yang merespons pergerakan pengunjung secara real-time.
TACO, Main Partners yang kembali bergabung, menghadirkan instalasi karya Aji Fajar/Palette Studio, The Curiosity Engine, untuk menjelajahi bagaimana keingintahuan membuka jalan menuju cakrawala baru. Karya ini berpusat pada bentuk melingkar yang merepresentasikan matahari, dikelilingi unsur-unsur taktil yang ganjil tapi akrab, dan terungkap lewat interaksi. The Curiosity Engine mengundang pengunjung untuk mengalami bagaimana mekanisme yang familier dapat terbebas dari fungsinya yang biasa dan membangunkan keingintahuan dari dalam diri.
Dua Main Partners Art Jakarta 2026 hadir dengan mempersembahkan para pemenang kompetisi seni masing-masing. SUPERMUSIC menghadirkan para pemenang dari kompetisi ART MEETS MUSIC. Kompetisi ini mengundang para peserta untuk menerjemahkan energi, gestur, dan gaya hidup skena musik alih-alih sekadar menampilkan atribut genre musik atau representasi harfi ah musisi di panggung. Di sisi lain, MR.D.I.Y. selaku Main Partners baru tahun ini memajang karya dari tujuh pemenang MR.D.I.Y. Indonesia Art Competition 2026 yang mengusung tema “Strength & Resilience”, menyoroti kualitas yang menempa baik individu maupun komunitas. Presentasi ini juga menampilkan enam penerima penghargaan dari rangkaian kompetisinya di Malaysia dan Thailand.
Kolaborasi brand dan produk bersama para perupa juga membuahkan bentuk kreativitas yang memikat.
ALCHEMIST, brand parfum yang menyajikan koleksi wangi-wangian unik, istimewa, dan terkurasi, berkolaborasi dengan pelukis kontemporer asal Jepang, Mai Yokoyama. Di seluruh booth dan pengemasan produk, ia menghadirkan The Sphinx—sosok yang menubuhkan kecerdasan manusia sekaligus kekuatan imajinasi—untuk berdialog dengan ALCHEMIST.
Darbotz terpilih sebagai kolaborator jaringan kafe DJOURNAL, bersama-sama menciptakan desain custom yang diterjemahkan dalam bentuk merchandise eksklusif, tiga kreasi kopi, desain booth, dan karya patung. Perjumpaan identitas ini mengundang pengunjung untuk membangkitkan “Monster of Excitement” dari dalam diri.
Adapun MINI menghadirkan semangat kolaborasi bersama desainer Paul Smith ke booth-nya di Art Jakarta, mengusung individualitas dan optimisme melalui warna-warna menonjol, garis-garis yang khas, dan detail tulisan tangan. Melalui booth-nya, MINI mengajak pengunjung mengeksplorasi beragam gagasan personal tentang pemaknaan “destinasi”.
Art Jakarta tahun ini juga menjadi ajang penyambutan jajaran Main Partners baru, salah satunya AIA. Melalui The Living Legacy, AIA mempersembahkan kolaborasi bersama Maestro Batik Iwan 4
Tirta, menelusuri ingatan dan jejak-jejak yang membentuk masa kini serta apa yang pada gilirannya nanti akan diwariskan kepada generasi mendatang.
EDISII, penerbit karya seni rupa cetak yang pertama di Indonesia, berkolaborasi dengan para seniman untuk memproduksi karya seni cetak museum-grade berkualitas tinggi—berbasis karya yang sudah ada atau yang diciptakan sebagai edisi terbatas. Setelah memberi dukungan pada Art Jakarta Papers Februari lalu, EDISII kembali dengan sepilihan karya oleh Andy Dewantoro, Arin Dwihartanto Sunaryo, Cecil Mariani & Paul Kadarisman, Indra Leonardi, Iwan Effendi, Naufal Abshar, Sunaryo, Ugo Untoro, dan Yusra Martunus.
Aesop, brand perawatan kulit, rambut, dan tubuh dari Australia, hadir dengan Aesop Women’s Library, di mana dipajang rak-rak buku yang memuat lebih dari 1.500 buku oleh pengarang perempuan, yang dapat dikoleksi pengunjung sebagai hadiah sastra. Edisi 2026 ini, berjudul “Body of Work: from pulse to page”—merayakan bagaimana penulisan yang berpusat pada tubuh perempuan bisa memperlihatkan lebih jauh identitas-identitas yang terlewatkan, serta menyingkapkan kecantikan tersembunyi saat pengalaman ketubuhan timbul melalui bahasa.
Merentang di sepanjang kisaran topik dan genre, seleksi khusus tahun ini terdiri atas tujuh judul dalam bahasa Inggris dan Indonesia dari penerbit-penerbit lokal bergengsi, termasuk Gramedia.
Terakhir, The Transformation Lounge menawarkan sepintas pandang pada The Art of Transformation di The Solitaire, pusat bedah estetik dan kesehatan umur panjang kelas dunia, yang dibuka di Kawasan Ekonomi Khusus Sanur. The Solitaire menghadirkan dokter bedah plastik kelas dunia dan mitra klinik yang terkurasi cermat: World Class Plastic Surgeons, Hestia Women’s Clinic, Banobagi Plastic Surgery, Woori Plastic Surgery, Mojelim Hair Transplant, and Biogenix Regenerative Medicine & Longevity. Di sinilah presisi medis bertemu dengan keahlian seni.
Art Jakarta 2026 kembali menghadirkan segmen-segmen yang telah mendapat pengakuan luas, serta dilengkapi dengan sebuah segmen baru untuk pertama kalinya.
SPOT kembali hadir dengan karya dan presentasi yang melampaui format booth konvensional, memungkinkan galeri menjajaki beragam skala dan pendekatan spasial dalam menampilkan seni. Tahun ini, SPOT menghadirkan seniman Indonesia dan Asia Tenggara: Nguyn Phng Linh (Vietnam, ara contemporary), yang mengeksplorasi estetika di mana lanskap dan tubuh, baik alami maupun buatan, terus-menerus saling membentuk; Henryette Louise (Indonesia, ArtSociates), yang memperluas praktiknya melalui intaglio yang dicetak pada gipsum, memandang proses berkarya sebagai rangkaian gestur penyelarasan (attunement) yang saling terhubung dan menandingi logika kecepatan serta kemajuan linier; Albertho Wanma dan Budi Santoso (Indonesia, ROH), yang karya-karya patungnya sarat muatan politis dan diliputi kedalaman emosional serta spiritual, serta bersumber dari keterlibatan jangka panjang masing-masing seniman dengan bentuk dan material; dan Angki Purbandono (Indonesia, SAL Project), yang menyoroti gerakan berbasis komunitas di Papua Selatan untuk membela tanah adat.
SCENE merupakan sebuah platform yang menyoroti kolektif seniman serta proyek kolaboratif, yang mencerminkan keberagaman serta budaya praktik kolektif yang kuat dalam medan seni rupa Indonesia. Tahun ini, segmen ini berkembang hingga mencakup 39 partisipan dari berbagai kota di seluruh Indonesia.
AJX hadir sebagai segmen yang mengusung kolaborasi antara Art Jakarta dengan berbagai institusi dan lembaga kebudayaan, baik lokal maupun internasional. Menginjak tahun kedua kehadirannya, Korea Focus, hasil kerja sama Korean Ministry of Culture, Sports and Tourism dengan the Korea Arts Management Service, memboyong 14 galeri dari Korea Selatan. Di samping itu, Natta-Cita Art Space (N-CAS) dari ISI Bali turut menampilkan karya seni kontemporer Bali dari para seniman-akademisi, menegaskan komitmen segmen ini dalam memperlihatkan keberagaman karakteristik seni rupa kontemporer kawasan regional.

AJ Talk adalah platform percakapan antara pengamat, seniman, kolektor, galeris, dan kurator, memberikan peluang bagi mereka untuk membagikan pengalaman dan pengetahuan kepada pengunjung. Program tahun ini meliputi presentasi dari EDISII, MTN Seni Budaya, DJOURNAL, BCA, Gang Kabel, Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, dan The Solitaire, dengan host Mature.idn.
Hadir perdana tahun ini, SCOPE, yang didukung oleh Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya—program yang dikelola oleh Kementerian Kebudayaan RI—menghadirkan MTN Market. Segmen ini memboyong seleksi emerging art fair dari penjuru Nusantara ke Jakarta. Mini Art Malang (Malang), Artists Art Fair (Pekanbaru), ART HEY (Banyumas), Maa Ledungga (Gorontalo), Hello Goodbye Photo Market (Bekasi), dan Watercolor Art Fair (Yogyakarta) menjadi pekan seni rintisan yang terpilih melalui panggilan terbuka (open call), dan akan tampil di segmen khusus ini.
Secara keseluruhan, deretan program ini mempertegas komitmen berkelanjutan Art Jakarta sepanjang tahun dalam merangkul berbagai praktik artistik, komunitas kolektor, serta ekosistem seni rupa, sembari mempererat jejaring antara kancah seni rupa Indonesia dengan pasar seni Asia yang lebih luas. Rangkaian program ini menyajikan gambaran komprehensif terhadap lanskap seni rupa kontemporer Indonesia, seraya terus mendukung dan memelihara ekosistem seni melalui platform Art Jakarta. ***