Suara.com - Tradisi Nyandra di Desa Ngantru, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, tak hanya menjadi ritual warisan leluhur. Tradisi tersebut turut menjadi sarana masyarakat dalam menanamkan kepedulian terhadap lingkungan, terutama menjaga sumber air.
Fenomena tersebut tertuang dalam sebuah penelitian berjudul Tradisi Nyadran sebagai Praktik Sosio Ekologis dalam Relasi Antar Manusia, Budaya, dan Lingkungan di Kabupaten Trenggalek.
Penelitian itu terbit dalam jurnal Sosial: Jurnal Ilmiah Pendidikan IPS pada Juni 2026 menemukan bahwa Nyadran sebagai praktik budaya yang menghubungkan masyarakat, tradisi, dan lingkungan.
Salah satu bentuk kepedulian lingkungan dalam tradisi ini terlihat dalam kegiatan membersihkan kawasan sekitar Dam Bagong. Masyarakat bahu-membahu membersihkan area makam, saluran irigasi, hingga tepi bendungan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Nyadran. Di sana warga tidak hanya berkumpul untuk menjalankan ritual, melainkan turut terlibat aktif dalam aktivitas bersama yang berhubungan dengan kebersihan lingkungan.
Nyadran dan Upaya Menjaga Sumber Air
Bahkan keberadaan Dam Bagong ini membawa peran penting bagi keberlangsungan hidup masyarakat setempat. Bendungan tersebut dipandang sebagai sumber pengairan bagi lahan pertanian warga.
Dalam penelitian itu, tim peneliti menekankan keberadaan bendungan itu sering dikaitkan dengan produktivitas pertanian.
Hal ini dikarenakan sebelum bendungan itu dibangun, masyarakat hanya mampu memanen hasil pertanian sekali dalam setahun. Namun, begitu bendungan didirikan, frekuensi panen dapat mengalami peningkatan hingga tiga kali setahun.
Kondisi inilah yang memperlihatkan betapa pentingnya sumber air bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat, terutama bagi mereka yang bergantung pada sektor pertanian.
Demikian, kegiatan membersihkan saluran irigasi dan kawasan bendungan memiliki makna lebih dari sekadar aktivitas gotong royong. Kegiatan tersebut secara tidak langsung dapat memperkuat hubungan masyarakat dengan lingkungan yang menopang kehidupan mereka.
Melalui Nyadran, kepedulian terhadap lingkungan tidak hanya disebarkan melalui nasihat. Nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut turut direalisasikan dengan kegiatan bersama yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Di Bam Bagong ini Nyadran ternyata punya rangkaian ritual yang berkaitan dengan sejarah lokal. Tradisi ini dikaitkan dengan Ki Ageng Menak Sopan, yakni seorang tokoh yang ada hubungannya dengan pembangunan bendungan tersebut.
Salah satu bagian paling menonjol adalah arak-arakan kerbau. Kemudian dilanjutkan dengan pelarungan kepala kerbau ke bendungan. Makna dari pelarungan sendiri sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan syukur terhadap alam serta leluhur.
Makanya, makna ini ditunjukkan pada bagaimana hubungan manusia dengan lingkungan turut dijalin mellaui kepercayaan dan praktik budaya.
Tidak heran jika rangkaian ritual tersebut menjadi bagian dari warisan budaya yang terus dipertahankan oleh masyarakat setempat.
Meskipun begitu, kembali lagi bahwa pelestarian lingkungan dalam Nyadran ini tidak hanya berkaitan dengan simbol atau ritual. Kegiatan membersihkan kawasan bndungan menunjukkan adana praktik nyata yang mengiringi pelaksanaan tradisi tersebut.
Melansir penelitian itu diketahui bahwa Nyadran diposisikan sebagai salah satu wadah untuk menumbuhkan kesadaran mengenai pentingnya menjaga sumber daya alam.
Nilai tersebut diwariskan melalui kegiatan yang dilakukan bersama dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat.
Gotong Royong dan Pembagian Hasil
Alih-alih hanya berfokus pada penghormatan terhadap alam, Nyadran turut mempererat hubungan sosial melalui kebiasaan berbagi.
Daging kerbau dan makanan dibagikan kepada masyarakat setelah rangkaian ritual berlangsung.
Pembagian makanan itu dimaknai sebagai pengingat bahwa manfaat sumber daya perlu dirasakan bersama secara adil dan merata. Nilai ini ada kaitannya dengan gagasan mengenai keadilan dalam pemanfaatan sumber daya yang mendukung kehidupan masyarakat.
Gotong royong dan berbagi menjadi dua unsur yang saling meloengkapi dalam tradisi ini.
Masyarakat tidak hanya merawat hubungan dengan lingkungan, tetapi juga memperkuat solidaritas antarsesama.
Bahkan untuk peran juru pelihat turut tersorot dalam mendorong keberlanjutan tradisi tersebut. Mereka membantu menjaga sejarah dan pengetahuan lokal agar tetap dikenal serta dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Karena pada akhirnya, Nyadran menunjukkan bahwa upaya membangun kesadaran lingkungan dapat berjalan melalui praktik budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Tradisi ini mengintegrasikan penghormatan terhadap alam, pemeliharaan sumber air, dan semangat gotong royong masyarkat.
Namun, tetaplah diperlukan nilai-nilai tersebut untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan menjaga kebersihan saluran air, merawat kawasan bendungan, dan menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab merupakan bagian terpenting agar kepedulian terhadap lingkungan ini tidak berhenti pada pelaksanaan ritual tahunan atau sekadar seremonial belaka.
Penulis: Chairunisa