- Detak jantung 180 BPM saat lari dapat terjadi akibat intensitas tinggi, tetapi belum tentu berbahaya bagi setiap orang.
- American Heart Association menyatakan detak jantung maksimal dapat diperkirakan melalui rumus 220 dikurangi usia seseorang.
- Pelari harus segera mencari pertolongan medis jika detak jantung tinggi disertai nyeri dada atau pusing berat.
Suara.com - Apakah 180 BPM normal saat lari? Pertanyaan ini kerap muncul di kalangan pelari, terutama pemula yang memantau detak jantung menggunakan smartwatch atau jam olahraga.
Angka 180 BPM tergolong tinggi, tetapi belum tentu berbahaya karena kondisi tersebut bergantung pada usia, intensitas latihan, dan kondisi fisik masing-masing orang.
Heart rate atau detak jantung adalah jumlah denyut jantung dalam satu menit yang diukur menggunakan satuan beats per minute (BPM). Saat berlari, detak jantung meningkat untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan energi otot.
Menurut American Heart Association (AHA), detak jantung maksimal dapat diperkirakan menggunakan rumus 220 dikurangi usia. Sementara itu, zona detak jantung sasaran saat berolahraga berada pada kisaran persentase tertentu dari angka maksimal tersebut.

Namun, hasil perhitungan ini hanya menjadi panduan umum, bukan batas medis yang berlaku untuk semua orang.
Apakah 180 BPM Normal Saat Lari?
Detak jantung 180 BPM bisa terjadi saat berlari dengan intensitas tinggi, seperti sprint atau latihan interval. Namun, angka tersebut perlu diperhatikan jika muncul ketika seseorang hanya melakukan jogging santai.
Sebagai contoh, seseorang berusia 20 tahun memiliki perkiraan detak jantung maksimal 200 BPM. Dengan demikian, detak jantung 180 BPM setara dengan 90 persen dari perkiraan maksimalnya.
Sementara itu, pada orang berusia 40 tahun, perkiraan detak jantung maksimalnya adalah 180 BPM. Artinya, jika detak jantung mencapai 180 BPM, angka tersebut sudah menyentuh perkiraan maksimal berdasarkan rumus usia.
Meski demikian, angka tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan kesehatan. Detak jantung maksimal setiap orang bisa berbeda meskipun usianya sama.
Hal yang perlu diperhatikan adalah intensitas latihan, bagaimana tubuh merespons aktivitas tersebut, dan apakah terdapat gejala lain. Jika detak jantung terasa terlalu tinggi saat berlari santai, kurangi kecepatan atau beralih berjalan untuk sementara.
Apabila detak jantung tinggi disertai nyeri dada, sesak napas yang tidak wajar, pusing berat, atau hampir pingsan, hentikan aktivitas dan segera cari pertolongan medis darurat.
Cara Menghitung Heart Rate Maksimal Sesuai Usia
Salah satu cara paling sederhana untuk memperkirakan detak jantung maksimal adalah menggunakan rumus berikut:
HR maksimal = 220 − usia
HR maksimal atau maximum heart rate merupakan perkiraan jumlah denyut jantung tertinggi per menit saat tubuh melakukan aktivitas intensitas maksimal.
Contohnya, jika seseorang berusia 30 tahun, perhitungannya adalah: