Suara.com - Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan campuran aspal jalan sangat menjanjikan peluang untuk menekan limbah sekaligus meningkatkan daya tahan infrastruktur. Namun, inovasi tersebut ternyata tetap menyisakan persoalan mengenai potensi pelepasan mikroplastik ke lingkungan.
Sebuah studi yang dipimpin peneliti Penn State, Amerika Serikat, menemukan bahwa aspal yang dimodifikasi menggunakan plastik daur ulang memperlihatkan kinerja jauh lebih baik dari aspal konvensional.
Bahkan material tersebut juga mampu melepaskan lebih sedikit partikel yang mengandung senyawa kimia menyerupai plastik.
Temuan yang dipublikasikan dalam Journal of Cleaner Production itu menunjukkan bahwa peningkatan daya tahan perkerasan jalan berpotensi membantu membatasi pelepasan partikel.
Meski demikian, penelitian lanjutan masih sangat dibutuhkan untuk memastikan apakah hasil serupa berlaku pada jalan raya yang sebenarnya.
Aspal Plastik Daur Ulang Diuji dalam Kondisi Ekstrem
Penelitian tersebut berawal dari peningkatan eksplorasi penggunaan plastik daur ulang untuk material kontruksi jalan. Salah satu bahan yang dikaji adalah low-density polyethylene (LDPE), yakni jenis plastik yang masif digunakan dalam berbagai produk sehari-hari.
Tim peneliti mengkomparasikan aspal konvensional dengan campuran aspal yang mengandugn LDPE daur ulang.
Plastik yang telah dihancurkan kemudian dicampurkan dengan batu pecah dan aspal bekas. Tahap selanjutnya adalah penambahan bahan pengikat untuk menyatukan material.
Kedua jenis aspal tersebut akan melalui tahap pengujian laboratorium yang mensimulasikan tekanan akibat lalu lintas dan paparan kelembapan.
Dalam Hamburg Wheel Tracking Test, roda baja berulang kali melintasi sampel aspal yang terendam air panas. Pengujian ini mensimulasikan pengaruh gabungan beban kendaraan, suhu, dan kelembapan terhadap permukaan jalan.
Di sisi lan, pengujian Moisture Stress Tester memberikan paparan panas tinggi, kelembapan, dan tekanan air secara berulang kali.
Kemudian tim peneliti menggabungkan partikel yang terlepas dari sampel. Mereka akan menganalisis karakteristik kimia partikel menggunakan pencitraan inframerah untuk menelaah partikel yang menyerupai LDPE.
Penelitian tersebut dilakukan dengan maksud untuk memahami kemungkinan pelepasan mikroplastik ketika perkerasan aspal berbahan plastik mengalami kerusakan.
"Tujuan kami adalah untuk memahami apakah perkerasan aspal yang mengandung plastik daur ulang dapat melepaskan partikel mikroplastik seiring waktu saat mengalami kerusakan," kata penulis utama sekaligus profesor di bidang teknik transportasi kereta api, Shihui Shen, dikutip dalam laman Techxplore, Kamis (15/10).
Menurutnya, aspek lingkungan tersebut masih minim mendapat perhatian jika dibandingkan dengan kinerja teknis material perkerasan jalan.
"Pertanyaan lingkungan tersebut kurang mendapat perhatian dibandingkan kinerja teknik perkerasan tersebut," imbuhnya.
Daya Tahan Meningkat Padahal Dampak Lingkungannya Belum Usai
Berdasarkan hasil pengujian, ditemukan aspal yang mengandung plastik daur ulang lebih tahan lama daripada aspal konvensional.
Begitu dilakukan uji ketahanan dan kelembapan, sampel tersebut justru memperlihatkan tingkat partikel mirip LDPE yang lebih rendah.
Hal ini berarti penelitian yang dilakukan dapat membuka peluang terhadap pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembangunan infrastruktur.
Tidak hanya berpotensi mentransformasikan plastik dari tempat pembuangan akhir (TPA), material ini bahkan bisa mendukung pengembangan perkerasan jalan yang lebih tahan terhadap tekanan penggunaan.
Namun, dengan adanya penemuan tersebut tidak otomatis membuat aspal berbahan plastik daur ulang sepenuhnya terbebas dari risiko pencemaran mikroplastik.
Sebab, mikroplastik merupakan partikel plastik yang ukurannya sangat kecil dan bisa menyebar ke seluruh lapisan Bumi, mulai dari tanah, air, hingga udara.
Dalam hal ini, partikel-partikel tersebut berpotensi terlepas melalui keausan permukaan, kerusakan material, maupun aktivitas kendaraan.
Shen menekankan bahwa identifikasi partikel dalam penelitian tersebut memiliki keterbatasan.
Salah satunya adalah pengikat aspal dan LDPE yang memiliki kemiripan karakteristik inframerah. Hal ini mengakibatkan tim peneliti tidak selalu mudah untuk memastikan partikel tersebut benar-benar plastik atau tidak.
"Pengikat aspal dan LDPE memiliki beberapa fitur inframerah yang sama, yang dapat mempersulit proses identifikasi partikel sebagai plastik dan kepastian sumbernya," kata Shen.
Karena itu, hasil penelitian masih belum dapat disimpulkan bahwa penggunaan plastik dalam aspal dalam menghilangkan risiko pelepasan mikroplastik, baik aspak konvensional maupun aspal yang telah dicampur plastik daur ulang.
Perlu Pengujian Langsung di Jalan Raya
Tim peneliti mengungkapkan bahwa pentingnya studi lapangan dilakukan untuk memastikan apakah temuan laboratorium mereka berlaku di jalan yang sesungguhnya dalam jangka waktu yang lebih lama.
Sebab, kondisi jalan raya yang nyata melibatkan faktor jauh lebih beragam. Volume lalu lintas, curah hujan, perubahan suhu, paparan sinar matahari, serta penuaan material dapat memengaruhi ketahanan aspal.
Salah satu penulis utama penelitian sekaligus asisten profesor riset di Chinese University of Hongkong, Zhen Liu menerangkan bahwa pengujian laboratorium memproduksi sejumlah aspek penting kerusakan jalan.
Namun, pengujian tersebut tidak seutuhnya dapat merepresentasikan kompleksitas lingkungan di lapangan.
"Studi lapangan, pengambilan sampel yang andal, dan pemantauan jangka panjang akan memberikan bukti yang lebih kuat kepada badan-badang transportasi untuk menimbang manfaat kinerja perkerasan jalan terhadap potensi dampak lingkungan," kata Shen.
Karena itulah para peneliti memandang studi lapangan dan pemantauan jangka panjang diperlukan untuk memahami perilaku aspal plastik selama penggunaan nyata.
Temuan ini membuktikan bahwa pemanfaatan plastik daur ulang sebagai material jalan tidak cukup dinilai hanya berdasarkan daya tahan dan kemampuannya mengurangi limbah,
"Pada akhirnya, data lingkungan yang lebih andal dapat membantu badan-badang tersebut membuat keputusan yang lebih tepat mengenai teknologi perkerasan jalan berbahan plastik daur ulang," pungkasnya.
Penulis: Chairunisa