- Prosesi penancapan gunungan wayang membuka kegiatan Tata Hati Indonesia – Yogyakarta di UGM sebagai simbol upaya merawat kesejahteraan batin.
- Acara yang digelar YCCK ini menghadirkan sesi temu wicara dan meditasi SOUL Reflection untuk membantu peserta mengenali serta melepaskan luka batin.
- Kegiatan tersebut memadukan refleksi diri dan nilai spiritual yang terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang agama.
Suara.com - Kayon wayang atau penancapan gunungan wayang digunakan untuk membuka kegiatan Tata Hati Indonesia – Yogyakarta yang digelar di Gedung Grha Sabha Pramana (GSP), Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Rabu (14/10/2026).
Prosesi penancapan gunungan wayang tersebut tidak hanya menandai dimulainya acara, tetapi juga dimaknai sebagai simbol awal upaya merawat kesejahteraan batin.
Dalam tradisi pewayangan, kayon atau gunungan ditancapkan untuk menandai dimulainya sebuah lakon. Simbol budaya Jawa ini kemudian dihadirkan dalam kegiatan temu wicara dan meditasi yang diselenggarakan Yayasan Cahaya Cinta Kasih (YCCK) bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia.
Pendiri YCCK, Bunda Arsaningsih, memaknai prosesi tersebut sebagai simbol dimulainya upaya merawat kesejahteraan Nusantara dari Yogyakarta, kota yang memiliki rekam jejak panjang sebagai pusat spiritual.
Penggunaan kayon dalam kegiatan tersebut membuka ruang pembahasan mengenai bagaimana simbol dan ekspresi budaya dapat menjadi pengantar untuk melakukan refleksi diri.
Center for Public Mental Health (CPMH) UGM, misalnya, pernah menggelar pertunjukan seni bertajuk A Visual Symphony for Mental Health di Taman Budaya Yogyakarta pada 15 Februari 2024.

Kegiatan ini bagian dari upaya advokasi kesehatan mental melalui seni, yang melibatkan jaringan Arts for Mental Health Advocacy (AMHA).
Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Psikologi UGM, Dr. Wenty Marina Minza, M.A., menjelaskan bahwa jejaring tersebut ingin memanfaatkan seni sebagai sarana untuk mempromosikan kesehatan mental.
"Berawal dari CPMH kita mengenal AMHA, sebuah jejaring yang ingin menjadikan seni sebagai media untuk mempromosikan kesehatan mental," ujar Wenty mengutip laman resmi UGM.
Dalam kegiatan Tata Hati Indonesia – Yogyakarta, pendekatan refleksi diri tidak berhenti pada simbol kayon. Acara tersebut dibagi menjadi dua sesi, yakni temu wicara dan meditasi SOUL (Spirit of Universal Life) Reflection.
Pada sesi temu wicara, sejumlah peserta yang dipilih secara acak mendapat kesempatan untuk menceritakan persoalan yang sedang mereka hadapi. Mereka kemudian berdialog langsung dengan Bunda Arsaningsih dan dr. Rastho Mahotama.
Sesi berikutnya diisi meditasi yang diikuti peserta secara langsung di GSP maupun secara daring melalui Zoom. Dalam meditasi tersebut, peserta dipandu untuk terhubung dengan Tuhan melalui kesadaran jiwa, dengan perantara tokoh agama masing-masing.
Peserta juga diajak mengenali luka batin dan perasaan negatif yang selama ini dipendam, kemudian melepaskannya dan mengisi kembali batin dengan afirmasi positif. Menurut penyelenggara, pendekatan tersebut tidak terikat pada satu agama tertentu sehingga dapat diikuti masyarakat dari berbagai latar belakang.