- Otoritas Jasa Keuangan mencatat sekitar 64,5 persen dari 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.
- Sebanyak 30 pengusaha perempuan mengikuti pelatihan bisnis daring dan pendampingan intensif dari September hingga Oktober 2026.
- Sepuluh peserta terpilih menerima dana bantuan usaha dan dua peserta mengikuti pameran FinExpo OJK Bandung.
Suara.com - Perempuan memiliki peran besar dalam menggerakkan perekonomian Indonesia melalui sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, besarnya kontribusi tersebut belum sepenuhnya diikuti kemudahan dalam mengembangkan bisnis.
Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode 2025–2026, sekitar 64,5 persen dari total 65,5 juta UMKM di Indonesia dikelola perempuan. Jumlah wirausaha perempuan bahkan mencapai sekitar 37 juta orang.
Angka tersebut menunjukkan perempuan bukan sekadar pelaku usaha pendukung ekonomi keluarga, melainkan bagian penting dari penggerak ekonomi nasional.
Meski demikian, perjalanan mengembangkan usaha tidak selalu mudah. Sejumlah perempuan pelaku UMKM masih menghadapi tantangan dalam mengelola arus kas, memasarkan produk secara digital, hingga mengubah interaksi di media sosial menjadi transaksi penjualan.
Persoalan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin bergantung pada platform digital. Memiliki produk berkualitas saja tidak cukup jika pelaku usaha belum memahami cara menjangkau konsumen, mengelola toko daring, dan menyusun strategi pemasaran yang tepat.
Karena itu, peningkatan kapasitas pelaku UMKM perempuan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Tidak hanya melalui akses permodalan, tetapi juga pembekalan keterampilan bisnis, literasi keuangan, serta pendampingan agar mereka mampu mengambil keputusan yang tepat untuk mengembangkan usahanya.
Pemasaran Digital hingga Pengelolaan Keuangan Jadi Tantangan
Salah satu tantangan yang dihadapi womenpreneur adalah mengoptimalkan pemasaran digital. Media sosial dan marketplace memang membuka peluang menjangkau konsumen lebih luas, tetapi pemanfaatannya membutuhkan strategi.
Pelaku usaha perlu memahami bagaimana membangun identitas produk, membuat konten yang relevan, memilih kanal pemasaran, hingga mengelola operasional toko daring. Tanpa strategi yang terarah, aktivitas promosi digital belum tentu menghasilkan peningkatan penjualan.
Selain pemasaran, pengelolaan keuangan juga menjadi aspek penting. Kemampuan memisahkan keuangan pribadi dan bisnis, mengatur arus kas, serta menyusun rencana pengembangan usaha dapat membantu pelaku UMKM menjaga keberlanjutan bisnis.
Kebutuhan inilah yang mendorong pentingnya program edukasi dan pendampingan praktis bagi pengusaha perempuan, terutama mereka yang sedang berada dalam tahap mengembangkan skala usaha.
Pendampingan Jadi Bekal Mengembangkan Bisnis
Salah satu program yang berupaya menjawab kebutuhan tersebut adalah Womenpreneurship Business Bootcamp 2026. Program ini menjaring lebih dari 270 pendaftar dari 24 provinsi di Indonesia.
Setelah melalui proses seleksi, sebanyak 30 womenpreneur dari 14 provinsi terpilih mengikuti rangkaian pelatihan pada September hingga Oktober 2026.
Peserta mendapatkan empat sesi pembelajaran daring yang mencakup penyusunan Business Model Canvas, pengelolaan operasional usaha, optimalisasi marketplace, serta strategi pemasaran dan iklan digital.
Materi disampaikan oleh praktisi kewirausahaan dan pemasaran digital, antara lain Perry Primanda dan Nugraha Andaf. Pembelajaran juga dilengkapi pendampingan melalui WhatsApp, konsultasi bisnis privat melalui Zoom, serta edukasi literasi keuangan.
Salah satu peserta, Soffariati Ummi Rosyidah, pemilik usaha Nyambelin dari Malang, Jawa Timur, mengaku mendapatkan perspektif baru dalam mengembangkan strategi pemasaran bisnisnya.
Menurut Soffariati, materi dan pendampingan yang diterima membantunya mengevaluasi strategi pemasaran digital, mengoptimalkan toko daring, serta menyusun konten yang lebih efektif.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membantu pelaku UMKM melihat kembali potensi bisnis sekaligus mengidentifikasi hal-hal yang perlu diperbaiki.
Dukungan Pengembangan Usaha dan Perluasan Pasar
Setelah menyelesaikan rangkaian pelatihan, 10 peserta terpilih memperoleh dana bantuan pengembangan usaha dengan total nilai lebih dari Rp30 juta. Bantuan diberikan berdasarkan evaluasi akhir program, termasuk kemampuan peserta menyusun rencana pengembangan bisnis yang konkret dan aplikatif.
Para penerima berasal dari berbagai daerah dengan bidang usaha yang beragam, mulai dari kuliner, produk perawatan rambut, fesyen, hingga minuman tradisional.
Mereka adalah Aleta Puling (Almerani) dari Kupang, Azzahra Putri Wahyudi (Wawind) dari Kabupaten Bandung, Kayla Jasmine Panataran (Wikrama) dari Sleman, Novi Risdayanti (Doyami) dari Palembang, Novita Wisudawati (Pak Ombak) dari Pekanbaru, Olya Widowati Putri (deLollie) dari Gunungkidul, Siti Nurul Hidayah (Dapoer Katuyung) dari Martapura, Soffariati Ummi Rosyidah (Nyambelin) dari Malang, Tiurlan Anne Frida S (GKN Jahe Merah) dari Medan, serta Umi Rohana (Rehana Melodi) dari Batu.
Selain bantuan pengembangan usaha, dua peserta, yakni Siti Nurul Hidayah dan Soffariati Ummi Rosyidah, juga memperoleh kesempatan memperkenalkan produknya melalui Pameran FinExpo dalam rangka Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026 yang diselenggarakan OJK di Bandung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026.
Bagi pelaku UMKM, kesempatan mengikuti pameran dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan produk kepada calon konsumen, memperluas jaringan, sekaligus melihat peluang pasar di luar daerah asal.
Siti Nurul Hidayah mengatakan partisipasi dalam pameran tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Dapoer Katuyung untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.
"Kesempatan mengikuti Pameran BIK OJK 2026 menjadi pengalaman berharga bagi Dapoer Katuyung untuk memperkenalkan produk kepada pasar yang lebih luas. Saya berharap kesempatan ini dapat membuka peluang baru dan membantu usaha kami terus berkembang," ujarnya.
Program Womenpreneurship Business Bootcamp 2026 merupakan bagian dari inisiatif GROW with RupiahCepat, program tanggung jawab sosial perusahaan yang berfokus pada literasi keuangan, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Direktur PT Kredit Utama Fintech Indonesia (RupiahCepat), Anna Maria Chosani, mengatakan penguatan kapasitas pelaku usaha perlu berjalan beriringan dengan dukungan untuk mengembangkan bisnis.
Melalui program tersebut, perusahaan berharap para peserta dapat menerapkan pengetahuan yang diperoleh, memperluas akses pasar, dan membangun usaha yang lebih berkelanjutan.