- Kebiasaan belanja masyarakat semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial, live shopping, dan marketplace.
- Perubahan ini mendorong pelaku usaha untuk menyesuaikan strategi penjualan melalui berbagai kanal digital.
- Integrasi platform menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan efisiensi bisnis sekaligus menjawab kebutuhan konsumen.
Suara.com - Kebiasaan masyarakat dalam berbelanja online terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya konsumen cenderung langsung membuka marketplace saat membutuhkan suatu produk, kini perjalanan belanja bisa dimulai dari berbagai platform digital.
Sebuah produk bisa saja pertama kali dikenal melalui video kreator di media sosial, menarik perhatian saat sesi live streaming, kemudian dibeli melalui marketplace atau toko online resmi milik brand.
Perubahan ini membuat pengalaman berbelanja semakin terhubung dengan aktivitas digital sehari-hari. Konsumen tidak hanya mencari produk, tetapi juga melihat ulasan, membandingkan pilihan, hingga mempertimbangkan rekomendasi sebelum memutuskan membeli.
Situasi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru bagi pelaku usaha. Mereka tidak cukup hanya mengandalkan satu kanal penjualan, tetapi perlu memastikan pengelolaan bisnis berjalan terpadu di berbagai platform.
CEO BigSeller, Shirley Xie, menilai integrasi berbagai kanal penjualan atau strategi omnichannel menjadi salah satu hal penting dalam menghadapi perkembangan industri e-commerce.
Hal tersebut disampaikannya dalam BigSeller Indonesia E-Commerce Summit 2026 yang berlangsung di Swissôtel Jakarta PIK Avenue, Jumat (23/10/2026).
Mengusung tema "All Channels, One Winning Future", konferensi tersebut membahas perkembangan perdagangan digital sekaligus strategi yang dapat diterapkan pelaku usaha untuk menghadapi perubahan pasar.

Menurut Shirley, masa depan e-commerce bukan lagi tentang memilih satu platform untuk berjualan. Pelaku usaha perlu mengintegrasikan berbagai kanal, mulai dari media sosial, marketplace, hingga platform direct-to-consumer (D2C).
Dengan pengelolaan yang terpusat, penjual diharapkan dapat mengurangi kerumitan operasional, termasuk dalam mengatur persediaan barang dan memproses pesanan dari berbagai platform.
"Masa depan e-commerce bukan lagi tentang memilih satu platform tunggal untuk berjualan. Masa depan adalah milik mereka yang mampu mengintegrasikan seluruh kanal penjualan, baik media sosial, marketplace, maupun platform D2C, menjadi satu kesatuan yang terpusat, cerdas, dan efisien," ujar Shirley.
Selain pengelolaan toko online, perkembangan social commerce juga menjadi salah satu topik yang dibahas dalam konferensi tersebut.
Ikrar Pradana, Agency Partnerships Lead, Global Business Solutions TikTok, membahas potensi social commerce dan kolaborasi dengan agensi dalam meningkatkan konversi penjualan.
Sementara itu, Rivel Sumigar, kreator konten sekaligus social commerce strategist, membagikan perspektif mengenai peran kreator dalam membangun kepercayaan konsumen.
Di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin akrab dengan konten digital, kreator tidak hanya berperan menyampaikan informasi produk, tetapi juga membantu calon pembeli mengenal produk melalui pengalaman dan rekomendasi.
Aspek lain yang tidak kalah penting adalah pengelolaan operasional bisnis. Leo Zhao, Country Manager BigSeller Indonesia, memaparkan pentingnya otomatisasi dan manajemen inventori lintas platform untuk membantu penjual mengelola aktivitas bisnis.
Baskara Aji dari Accurate turut membahas pentingnya integrasi pembukuan keuangan, sedangkan Tomy Jaya dari Meta memaparkan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam ekosistem periklanan digital.
Konferensi ini juga menghadirkan pembicara dari Blibli, Shopify, Lazada, dan Speeds yang berbagi perspektif mengenai strategi kampanye, perdagangan langsung ke konsumen, kemitraan platform, serta pengembangan brand lokal.
Melalui penyelenggaraan summit tersebut, BigSeller mendorong pelaku usaha, termasuk UMKM, untuk menyesuaikan strategi bisnis dengan perubahan perilaku konsumen.
BigSeller sendiri merupakan platform manajemen toko online berbasis Software as a Service (SaaS) yang menyediakan sistem pengelolaan operasional e-commerce, mulai dari pemrosesan pesanan, manajemen inventori, pengelolaan gudang, hingga pencatatan keuangan.
Perusahaan menyebut platformnya telah digunakan lebih dari 1,1 juta penjual di Asia Tenggara dan terintegrasi dengan 17 platform e-commerce utama, termasuk Shopee, TikTok Shop, dan Lazada.
Melalui pendekatan omnichannel, pelaku usaha diharapkan dapat mengelola berbagai kanal penjualan secara lebih efisien sekaligus mengikuti perubahan cara konsumen menemukan dan membeli produk di era digital.