Gejala Sindrom Stockholm meliputi:
- Perasaan positif terhadap pelaku atau penculik.
- Simpati terhadap perilaku dan keyakinan pelaku.
- Perasaan negatif terhadap otoritas atau penegak hukum.
- Gejala serupa PTSD, termasuk kilas balik, rasa gelisah, kesulitan berkonsentrasi, dan lainnya.
Diagnosis dan Pengobatan
Meskipun tidak diakui sebagai kondisi resmi oleh American Psychiatric Association, perilaku yang muncul akibat situasi traumatis diakui oleh penyedia layanan kesehatan. Pengobatan yang mirip dengan PTSD mungkin diberikan, termasuk konseling psikologis dan terapi obat-obatan.
Sindrom Stockholm sulit untuk dicegah karena tidak memiliki gejala yang jelas atau dapat diidentifikasi sebelumnya. Penting untuk memberikan dukungan kepada individu yang telah mengalami situasi traumatis, serta mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mengalami situasi traumatis yang melibatkan kekerasan atau penganiayaan fisik maupun mental, penting untuk mencari bantuan medis dan konseling dari profesional yang berpengalaman.
Ingatlah bahwa pemahaman akan Sindrom Stockholm dapat membantu kita merespons secara lebih bijak terhadap individu yang mungkin sedang mengalami kondisi ini.
Dukungan dan pengobatan yang tepat dapat membantu mereka pulih dan mengatasi dampak emosional yang ditimbulkan.
Baca Juga: Cek Fakta: Joe Biden Siap Kawal Putri Ariani Lolos di Ajang Final America's Got Talent