Seminggu di Qatar untuk menonton langsung Piala Dunia 2022, Raffi Ahmad membagikan beberapa pengalaman menarik di negeri orang kepada rekan-rekan presenternya di Indonesia lewat video call.
Rekaman saat video call itu ditayangkan secara langsung di program televisi Ketawa Berkah, yang potongannya diunggah @herimahesah ke TikTok dua hari yang lalu.
Di video tersebut, tampak empat orang berbicara pada Raffi Ahmad: King Nassar, anwar Sanjaya, Ruben Onsu, dan Denny Cagur.
Raffi Ahmad memberi tahu bahwa harga tiket paling murah untuk menonton Piala Dunia di Qatar adalah Rp3 juta. Sementara itu, tiket paling mahal mencapai Rp50 juta.
Suami Nagita Slavina itu lalu memutar kameranya untuk menunjukkan suasana di sekitar stadion. Melihat keramaian di sana, Nassar pun ingin menyusul Raffi Ahmad.
"Aa', kalau masih lama, kita mau nyusul ya ke sana, Aa', boleh enggak?" tanya Nassar.
"Minggu depan yuk," timpal Anwar.
"Bolehlah," jawab Raffi.
Respons itu pun membuat Nassar makin semangat mengajak Anwar, Ruben, dan Denny untuk menyusul Raffi ke Qatar.
Lalu, Raffi tiba-tiba memanggil-manggil Anwar. Rupanya ia ingin meberi tahu bahwa Anwar harus hati-hati jika ingin pergi ke Qatar.
"War, yang lembek-lembek kayak lo , yang kelihatan banget lembek, di sini ditangkep lo, beneran," ujar ayah dua anak itu.
Sontak Anwar melotot dan membuka mulutnya, terkejut mendengarkan peringatan bernada gurauan dari Raffi itu.
"Beneran apa bohongan ditangkep?" tanya dia.
"Iya, Merry aja takut dia," jawab Raffi.
Tak hanya itu, Raffi juga mengabarkan bahwa di Qatar perempuan tidak diizinkan memakai baju seksi. Mereka hanya boleh mengenakan pakaian tertutup. Selain itu, di penjualan minuman beralkohol juga dilarang di sekitar stadion.
Hingga Minggu (27/11/2022) sore, video tersebut telah disukai lebih dari 175 ribu pengguna TikTok.
Sebagai informasi, homoseksualitas di Qatar adalah ilegal dan pelakunya dapat dihukum hingga tiga tahun penjara.
Sebagai Piala Dunia pertama yang diadakan di Timur Tengah, tidak diragukan lagi momen ini merupakan peristiwa bersejarah. Meski demikian, kontroversi juga menyelimuti Qatar sebagai tuan rumah.
Di antaranya kematian pekerja migran dan kondisi yang dialami banyak negara saat Qatar mempersiapkan turnamen tersebut, khususnya bagi kaum LGBTQ dan hak-hak perempuan.
Sebuah laporan dari Human Rights Watch, yang diterbitkan bulan lalu, mendokumentasikan kasus-kasus pada bulan September tentang pasukan keamanan Qatar yang sewenang-wenang menangkap orang-orang LGBT dan menetapkan mereka atas “perlakuan buruk dalam penahanan.”