Sosok Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, kembali akan maju sebagai calon presiden (capres) di Pemilu 2024 mendatang.
Seperti pada dua pilpres sebelumnya, Prabowo Subianto dinilai kembali melakukan pendekatan politik populisme pada pilpres 2024 ini.
Populisme sendiri adalah pendekatan politik yang dengan sengaja menyebut kepentingan rakyat yang sering kali dilawankan dengan kepentingan suatu kelompok yang disebut elite.
Hal ini disebut oleh Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya, dalam cuitannya di akun Twitter @yunartowijaya.
Yunarto Wijaya menyoroti pernyataan Prabowo Subianto yang menyebut bahwa kelas pekerja di Indonesia harus mendapat upah yang layak, tidak hanya sebatas upah minimum regional (UMR).
Hal itu dikatakan Prabowo Subianto pada saat berpidato di acara The First Defend ID's Day di PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jumat (15/6/2023).
"Kita tidak mau anak-anak Indonesia, kita tidak mau rakyat Indonesia hanya selalu menerima UMR, UMR, UMR," ucap Prabowo Subianto, yang disambut dengan tepuk tangan para pendukungnya.
"Nah khan, mulai balik ke gaya populis 2014 dan 2019," cuit Yunarto Wijaya mengomentari pernyataan Menteri Pertahanan tersebut.
Diketahui, Prabowo Subianto dua kali maju menjadi capres pada Pemilu 2014 dan 2019 lalu melawan Joko Widodo. Pada 2014, ia berpasangan dengan Hatta Rajasa. Sedangkan pada 2019, ia didampingi oleh Sandiaga Uno sebagai cawapres.
Baca Juga: Didemo Warga, Santri Ponpes Al Zaytun Malah Nyanyi Lagu Yahudi