Israel telah memutuskan untuk menunda serangan darat ke Gaza karena kondisi cuaca buruk, seperti yang dilaporkan oleh New York Times dikutip dari RT. Serangan ini dianggap sebagai operasi besar yang akan melibatkan puluhan ribu anggota militer Israel dan bertujuan untuk menghancurkan kepemimpinan Hamas di wilayah Gaza.
Serangan ini semula direncanakan akan diluncurkan pada akhir pekan, tetapi ditunda beberapa hari karena kondisi cuaca yang menghalangi operasi udara. Hal ini melibatkan penggunaan pesawat tak berawak dan pilot Israel untuk menyediakan perlindungan udara bagi pasukan darat.
Dalam operasi darat yang diantisipasi, Israel berencana untuk membersihkan jaringan terowongan Hamas yang luas dan tersembunyi di bawah tanah. Ini diharapkan memakan waktu berbulan-bulan dan memerlukan upaya besar yang mungkin akan menghasilkan korban dari pihak Israel.
Operasi darat ini direncanakan menjadi yang terbesar dalam lebih dari satu dekade dan belum jelas apakah Israel akan mengendalikan seluruh wilayah Gaza jika berhasil mengusir Hamas dari kekuasaan. Ini juga meninggalkan pertanyaan tentang kemungkinan pemasangan pemerintahan Palestina baru di wilayah tersebut.
Selain itu, dikutip dari Aljazeera, Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian, telah memperingatkan Israel bahwa tindakan tersebut dapat mengakibatkan eskalasi regional. Iran mengancam akan merespons jika Israel melakukan serangan darat di Gaza, dengan potensi perluasan konflik di berbagai front.