Dukungan Presiden Joko Widodo ke Ketua Umum Partai Gerinda Prabowo tampaknya bukan hanya basa-basa belaka.
Pasalnya, relawan terbesar Jokowi yakni Projo atau Pro Jokowi bahkan menyebut bahwa presiden memang menginginkan Prabowo menang di Pemilihan Presiden 2024 mendatang.
Hal ini dinyatakan oleh Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi dlaam perbincangannya di Total Politik.
"Kita melihat bahwa Pak Jokowi tentu sedang tidak bergurau atau memuaskan banyak orang dengan statement 'Pak Prabowo enggak perlu restu, saya sudah restui' dan lanjut statement Pak Prabowo selenjutnya, itu saya pikir bukan basa-basi," ujar Budi.
"Kalau Pak Jokowi jelas, bahwa Pak Jokowi mengharapkan Pak Prabowo menang, nanti kita lihat kompetisinya," imbuhnya.
Menurut Budi, ada empat penentu kemenangan calon presiden (capres) di 2024 mendatang. Pertama soal koalisi partai, capres, cawapres, dan ke mana arah relawan dan Jokowi mendukung.
"Kalau capres hari ini yang punya tiket Pak Prabowo, punya partai, elektabilitasya tinggi, kan udah memenuhi syarat," kata Budi.
"Pak Jokowi enggak basa-basi, dan itu kan jangka pendek, senin bilang rabu juga bilang," imbuhnya.
Bagaimana Nasib Ganjar?
Baca Juga: Mutia Ayu Mulai Berani Pamer Wajah Anak, Netizen Teringat Paras Glenn Fredly
Pakar dan sosiolog Roby Muhamad di acara terpisah juga menyebutkan bahwa Prabowo memang Subianto lebih dekat dengan restu Jokowi ketimbang Ganjar Pranowo.
Roby menyebutkan bahwa orang yang bakal lebih mungkin didukung Jokowi adalah mereka yang memiliki ketergantungan secara politik.
"Harus ada ketergantungan yang rasional, enggak bisa selera-selera doang," tegas Roby dalam perbincangannya di Total Politik.
"Pertanyaanya apa Ganjar butuh Jokowi 100 persen, dan Jokowi bisa percaya betul Ganjar bisa dipegang, tinggal dilihat siapa yang ketergantungan politiknya paling kuat ke Jokowi," imbuhnya.
Orang yang tergantung secara politik ke Jokowi menurut Roby adalah mereka menjadi bukan siapa-siapa di dunia politik jika tanpa Jokowi.
Roby mencontohkan orang yang tergantung pada Jokowi adalah Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pratikno, hingga Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok.