Metro, Suara.com- Kementerian Pendidikan, Riset, dan Teknologi, Republik Indonesia (Kemendikbudristek RI) berhasil menggelar Pertemuan Tingkat Menteri di bidang Kebudayaan (Culture Ministers’ Meeting/CMM) G20 pada hari Selasa (13/9) di Borobudur, Jawa Tengah.
Lewat pertemuan ini Kemendikbudristek juga semakin memperkuat pemahaman negara anggota G20 tentang pentingnya kebersamaan dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih baik melalui jalur budaya.
Di forum ini, Kemendikbudristek kembali mempertegas komitmennya dalam memulihkan sektor seni dan kebudayaan guna mencapai bumi lestari melalui Dana Pemulihan Seni dan Budaya Global (Global Arts and Culture Recovery Fund/GACRF) dan praktik budaya hidup berkelanjutan.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim mengapresiasi para delegasi atas kontribusi yang diberikan untuk presidensi G20 di bidang Kebudayaan tahun ini.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada semua delegasi yang sejak awal telah menunjukkan keterlibatan aktif dalam menyelaraskan gagasan terkait bagaimana kita dapat bekerja sama dalam mewujudkan pembangunan berbasis budaya yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Nadiem.
Selain itu Kemendikbudristek juga berhasil menyelaraskan suara para delegasi untuk mempraktikkan hidup yang berkelanjutan, serta mendorong diskusi lanjutan GACRF yang telah diinisiasi Indonesia sebagai platform gotong royong global dalam memulihkan sektor kebudayaan. Inisiatif ini juga diharapkan dapat mendukung para seniman dan pelaku budaya, khususnya di masa pemulihan ekonomi budaya pasca pandemi Covid-19.
Para delegasi juga menegaskan kembali komitmennya dalam berbagi wawasan dan pengalaman dalam memulihkan sektor seni dan budaya, yang sejalan dengan lima agenda prioritas presidensi G20 bidang Kebudayaan tahun ini, yaitu (1) peran budaya sebagai pembuka kemungkinan dan pendorong pembangunan berkelanjutan; (2) manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan dari kebijakan berbasis budaya; (3) upaya untuk menjaga budaya sebagai kepentingan bersama dan memperkuat perlawanan terhadap perdagangan gelap kekayaan budaya; (4) akses merata untuk peluang ekonomi budaya; dan (5) mobilisasi sumber daya internasional untuk pemulihan berkelanjutan melalui inisiasi Dana Global untuk Pemulihan Seni dan Budaya.
Delegasi dari China, Hu Heping yang menyampaikan apresiasinya atas kerja kerasnya atas pergelaran G20 CMM. Ia juga juga mengatakan, “Kami siap untuk bekerja sama dengan semua negara anggota secara aktif, bersatu dan bertindak, memanfaatkan platform CMM G20 dengan baik.”
Apresiasi juga disampaikan oleh delegasi dari Amerika Serikat Lee Satterfield menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri dan seluruh presidensi G20 Indonesia atas usaha yang diberikan sepanjang tahun ini untuk melibatkan masyarakat internasional dalam menciptakan budaya hidup berkelanjutan.
Baca Juga: Klamby Jadi Merek Fesyen Indonesia Pertama di London Fashion Week 2022
"G20 telah menyatukan negara-negara untuk mengkoordinasikan tindakan nyata untuk mengatasi tantangan global termasuk menjaga dan melindungi budaya di seluruh dunia,” ujar Lee Satterfield.
Selain itu, delegasi dari Uni Eropa, Themis Christophidou menyampaikan pentingnya mendukung sektor kebudayaan di presidensi G20.
“Presidensi G20 Italia dan Indonesia pada tahun ini menjadi momentum penting untuk mendorong sektor kebudayaan di tingkat lokal, nasional, dan internasional,” ucap Themis Christophidou.
Indonesia akan menindaklanjuti capaian hasil kerja CMM G20 ke Konferensi Tingkat Tinggi G20 2022 dan akan membawanya ke World Conference on Cultural Policies atau MONDIACULT yang diselenggarakan UNESCO di Meksiko pada akhir bulan September ini.
Nadiem menegaskan kebijakan berbasis budaya adalah kunci untuk menciptakan pembangunan berkelanjutan dengan manfaat nyata, tidak hanya dari segi ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan.
"Dengan mendorong keragaman ekspresi budaya, saya yakin kita dapat membentuk masyarakat yang bergotong royong dan harmonis, serta memantapkan fondasi pembangunan berbasis budaya,”pungkas Nadiem.