Metro, Suara.com-Pameran prasejarah bersama bertema “Jejak Peradaban Prasejarah di Nusantara” dibuka secara resmi di gedung De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (17/9).
Pameran yang digelar hingga 24 September mendatang ini merupakan kerja sama Direktorat Pengembangan dan Pemanfaataan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Balai Pelestarian Situs Manusia Purba, Museum Geologi Bandung, Balai Pelestarian Cagar Budaya seluruh Indonesia, Museum Nasional, Balai Pelestarian Nilai Budaya D.I Yogyakarta dan Balai Konservasi Borobudur.
Kurator pameran Andro Onas menjelaskan Pameran “Kampung Purba” ini merupakan refleksi rekonstruksi kehidupan masa prasejarah dalam bentuk kampung yang terbagi dalam beberapa klaster. Kampung sebagai tujuan ketika pulang dalam mencari tahu dari mana asal usul dan mengenal diri sendiri merupakan makna dalam pemilihan kata “Kampung” dari pameran purba.
“Melalui kampung, kita dapat mengenal asal usul berbagai aspek budaya yang menyebabkan kemajuan peradaban,” ujar Kurator Pameran Kampung Purba, Andre Donas.
Klaster dalam pameran ini disebut dukuh disajikan secara tematis. Berbagai cara hidup dan tradisi besar digambarkan dalam rangka merekonstruksi kehidupan pada masa prasejarah. Andre membayangkan kampung-kampung pada pameran terdiri dari beberapa dukuh yang masing-masing menggambarkan cara-cara manusia hidup beradaptasi dengan alam melalui berbagai tradisi-tradisi besar yang disebut sebagai "Kampung Purba".
"Jangan membayangkan pameran ini ajek dan linear, karena pameran ini memiliki alur sendiri-sendiri," katanya.
Staf Ahli Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Bidang Hubungan Kelembagaan dan Masyarakat, Muhammad Adlin Sila mengatakan melalui upaya konservasi atau pelestarian kita yang hidup di zaman sekarang ini akan jadi tahu asalnya dari mana.
"Lewat pameran ini, diharapkan dapat menarik minat anak muda mempelajari jejak-jejak peradaban manusia purba,"ujarnya.
Sementara itu Asisten 1 Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Karanganyar, Rusmanto berharap lewat pameran ini, diharapkan generasi muda tahu persis asal-usulnya karena generasi muda kalau tidak ada sejarah yang kita tampilkan kadang-kadang lupa.
"Melalui pameran ini diharapkan semangat generasi muda bisa mengerti jati dirinya,” ucapnya.
Senada Direktur Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Restu Gunawan menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah bergotong royong dalam pelaksanaan kegiatan.
Baca Juga: Kemendikbudristek dan Kemenlu Serahkan Sertifikat WBTb UNESCO Gamelan Kepada Masyarakat