Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf, menegaskan bahwa tidak ada calon presiden ataupun calon wakil presiden atas nama organisasi yang didirikan oleh KH Hasyim Asyari ini.
Pria yang akrab disapa Gus Yahya ini pun menjelaskan bahwa Nahdlatul Ulama tidak boleh diseret-seret dalam ajang kontestasi politik, termasuk Pemilihan Presiden (Pilpres) yang akan digelar pada tahun 2024 mendatang,
"Kantor ulama tidak boleh dibawa-bawa atau dicatut untuk kompetisi politik," ujar Gus Yahya seperti dikutip melalui tayangan kanal YouTube MetroTV pada Minggu (22/1/2023).
"Jadi, kalau nanti ada Pilpres misalnya, kita nyatakan bahwa tidak ada calon presiden atau calon wakil presiden atas nama NU tidak ada," sambungnya.
Pada kesempatan ini, Gus Yahya mengungkapkan bahwa jika ada anggota NU yang ikut dalam kontestasi politik, apalagi mencalonkan diri sebagai calon presiden atau calon wakil presiden, itu bukan serta merta karena NU.
Namun, karena prestasi, kredibilitas, dan track record yang telah dimiliki oleh sosok tersebut.
"Kalau ada orang NU menjadi capres atau cawapres, itu atas nama prestasinya sendiri, atas nama kredibilitasnya sendiri, atas nama track record-nya sendiri, dan bukan atas nama NU," pungkasnya.