Ganjar Pranowo menjadi Bacapres 2024 dengan harta kekayaan yang "sedang-sedang saja" bila dibandingkan dengan dua rivalnya.
Dikutip dari e-LHKPN tahun 2022 miliknya, Ganjar tercatat mempunyai harta senilai total Rp13,4 miliar. Angka ini membuatnya berada di urutan kedua, jauh di bawah Prabowo Subianto dan berbeda tipis dengan Anies Baswedan.
Walau begitu, harta sebesar Rp13,4 miliar tentu bukan angka yang kecil. Namun rupanya Ganjar dan istrinya, Siti Atikoh, tetap berusaha mengajarkan agar sang anak hidup sederhana.
Hal ini seperti diungkap dalam wawancara keluarga Ganjar dengan Rosiana Silalahi di YouTube KOMPASTV. Bahkan Atikoh mengaku meminta sopir untuk tidak membukakan pintu setiap kali mengantarjemput agar sang anak tak bersifat manja.
"Begitu kita di Jawa Tengah, saya bilang ke driver-nya, 'Tolong ya, Pak, jangan pernah bukain pintu Alam. Perlakukan Alam seperti anaknya, atau cucunya, bawa tas sendiri'," ujar Atikoh, dikutip pada Jumat (22/9/2023).
Atikoh menilai perilaku memanjakan anak adalah bentuk menebar racun yang akan berpengaruh buruk terhadap masa depan sang buah hati.
Apalagi karena pemuda bernama Muhammad Zinedine Alam Ganjar tersebut merupakan anak tunggal seorang gubernur sehingga membuatnya menjadi sorotan banyak pihak.
"Kalau semua difasilitasi, semua dipermudah, anaknya nanti tidak berkembang. Nanti dia menganggap sesuatu itu bisa instan, padahal kan proses itu yang paling penting," jelas Atikoh.
Tampaknya ajaran ini pun diserap dengan baik oleh Alam hingga sempat membuat Atikoh heran. Pasalnya saking sederhananya, Alam sampai rela tidak meminta ganti tas sejak SD sampai SMA.
Baca Juga: Jokowi Paling Happy Kalau Prabowo-Ganjar 'Dikawinkan': Tiga Poros Anies Bisa Menang
"(Alam) nggak pernah jajan. Tas... sampai emaknya itu (bilang), 'Kamu tasnya dari SD sampai SMA itu belum diganti', (dijawab) 'Masih bisa dipakai, Bunda'. Jadi ketika membeli sesuatu itu bukan karena keinginan, tapi kebutuhan," terang Atikoh.
Namun hal berbeda diterapkan Atikoh apabila Ganjar dan Alam hendak membeli buku. Paling Atikoh hanya membatasi agar ayah dan anak tersebut tidak memborong banyak buku fiksi.