Berlandaskan viral dan demi konten sampai review jujur, terpikirkah akan ada kejadian gulung tikar?
Warung Nyak Kopsah alias Madun Oseng yang beralamat di Bendungan Sipon, dekat sebuah rumah sakit ternama di Kota Tangerang jadi pembicaraan viral. Dimulai dari review jujur, berlanjut saling bela dan saling serang, sampai dibumbui topik menyangkut fisik, semuanya bisa dijumpai di media sosial TikTok.
"Gelombang banjir" selanjutnya, calon konsumen berduyun-duyun menyatakan terima kasih telah mendapatkan gambaran jujur. Lainnya ada yang memanfaatkan situasi dan membuat ulasan lagi, demikian berulang-ulang hingga trending dan viral kembali. Termasuk laporan pandangan mata terbaru. Mulai harga sampai kondisi terupdate diberitakan lagi.
Akan tetapi, di luar situasi ini hadir pandangan mencerahkan. Bukan pembelaan, namun anti-memojokkan, sekaligus wacana bagaimana membuat peran media sosial tidak lebih dominan dalam situasi begini.
Salah satunya adalah pendapat Anne Avantie, desainer kondang Tanah Air yang berbincang dengan Helmy Yahya dalam podcast Helmy Yahya Bicara.
"Jangan sedikit-sedikit kamu posting, mesakake sing dodolan, mati mereka," demikian dipaparkan Anne Avantie sebagaimana bisa disimak di media sosial TikTok atas nama akun pribadinya.
Maknanya adalah, jangan semua yang diamati dan dilihat atau disimak langsung bablas posting selalu. Kasihan yang berjualan, bisa mati mereka dibuatnya.
![Desainer Anne Avantie yang selalu mengangkat kekayaan kain Nusantara sebagai busananya. Ia menjadi tokoh pertama asal Indonesia yang dibuatkan Boneka Barbie [[Suara.com].]](https://media.suara.com/suara-partners/metro/thumbs/1200x675/2023/09/25/1-desainer-anne-avantie-jadi-tokoh-pertama-asal-indonesia-yang-dibuatkan-boneka-barbie-ist.jpg)
Lebih detail, dalam podcast Helmy Yahya Bicara itu, Anne Avantie yang selalu berbusana menjunjung tinggi kriya Tanah Air antara lain kain batik ini memaparkan, "Sebenarnya media sosial itu kalau kita gunakan untuk sesuatu yang baik pasti dampaknya akan luar biasa. Karena itu salah satu teknologi yang memang benar-benar mengubah dunia."
"Persoalannya, banyak orang terbunuh hajat hidupnya karena mungkin terlalu bebasnya media sosial yang tidak terkendali lewat jari-jari. Apa-apa diposting. Mosting dulu mikir keri," jelas Anne Avantie, kalimat paling belakang artinya adalah posting dahulu, berpikir nanti saja atau belakangan.
Dampaknya ada dua, pertama membuat orang lain lebih hidup, atau berkembang lebih baik. Namun dampak satu lagi adalah mematikan hajat hidup banyak orang melalui kekurangan-kekurangan yang sebetulnya masih bisa kita perbaiki.
"Hidup kok revia review revia review, kalau kamu nggak suka, nggak usah kembali. Selesai," tandas desainer yang banyak menangani busana pengantin selebritis Tanah Air ini.
Menurutnya, tidak hanya membunuh karakter orang, akan tetapi hajat hidup seseorang yang direview bisa kandas.
"Hajat hidup orang kok harus dibunuh, dimatikan oleh tangan-tangan, jari-jari yang tidak bertanggung jawab," ungkap Anne Avantie.
Menegur itu harus, karena kita butuh teguran untuk introspeksi. Namun ada caranya.
Lebih jauh, Anne Avantie mencontohkan, semisal memotret warung yang ada lalatnya. Bagaimana bila tempat makan itu kemudian tutup? Banyak orang yang ikut di dalamnya. Para karyawannya, dengan keluarga yang bergantung hidup dengan usaha itu.
"Juga supplier, petani, peternak, tukang parkir," ujar Helmy Yahya menambahkan.
Dan akan menjadi masalah seumur hidup bila mereka tidak bisa bekerja lagi.
Kesimpulannya, think before posting. Penjual bukannya tidak mau dikoreksi atau dikritik, namun sederet cara bisa dilakukan. Dalam agama pun dikenal pemahaman: bila ingin menegur, lakukan di bawah empat mata saja. Katakan pada supervisornya, manajernya, pemiliknya. Lantas solusinya apa.
Sekali lagi, pikirkan dahulu sebelum posting. Bila ada pihak keluarga sendiri mengalami PHK atau Pemutusan Hubungan Kerja atau diberhentikan dari pekerjaan karena review seseorang mungkin baru bisa paham sebenar-benarnya.