Partai Gerindra terus mempromosikan ketua umumnya, Prabowo Subianto, sebagai bacapres 2024. Berbagai narasi dikerahkan, termasuk memuji Prabowo bukanlah seorang petugas partai.
Tentu narasi ini membuat warganet langsung menganggap Prabowo sedang menyindir rival politiknya, Ganjar Pranowo. Sebab narasi "petugas partai" sangat sering dialamatkan kepada Ganjar yang notabene kader PDI Perjuangan.
"Bukan Petugas Partai, Alasan Kalangan Pesantren Pilih Dukung @prabowo di Pilpres 2024," begitulah caption yang dituliskan Gerindra di akun Twitter-nya sambil membagikan tautan berita, seperti dikutip pada Selasa (26/9/2023).
Namun hal ini langsung disentil oleh pegiat media sosial Yusuf Dumdum. Loyalis Ganjar tersebut tampak mengunggah foto materi promosi Prabowo yang belakangan kerap menyandingkan sang Menteri Pertahanan dengan Jokowi.
Yusuf rupanya menilai pernyataan Gerindra kontradiktif sebab Jokowi juga kerap dicap petugas partai. Bahkan menurutnya kubu Prabowo dulu juga sering memberi label tersebut kepada Jokowi.
"Min, bukannya dulu pak Jokowi kalian katain petugas partai ? Tapi sekarang kok sibuk mintak endorse dari petugas partai ?" cuit Yusuf.
"Oh, ya. Pasukan emak-emak di darat sudah door to door bagikan kalender yang ada muka petugas partai nih," sambungnya.
Keresahan Yusuf ini tampak diamini oleh sejumlah warganet, sebagaimana yang terlihat di kolom komentar postingan.
"Jika konteksnya adalah petugas partai maka calon presiden harus ketum partai atau pemilk partai kah ? maka jalanya organisasi dalam pengembangan sumber daya manusia berupa kaderisasi tidak jalan terlaksana karena gagal memuncul kan figur," komentar warganet.
Baca Juga: Momen Kaesang Sewot Ditanya PSI Lebih Dukung Prabowo atau Ganjar: Kok Pak Anies Nggak Disebut?
"Dulu Jokowi dikatain boneka Mega, sekarang malah nempel-nempel terus, muji-muji terus. Modus banget," imbuh warganet lain.
Di sisi lain, narasi petugas partai termasuk salah satu yang kerap dimainkan menjelang Pilpres 2024. Pasalnya Ganjar Pranowo kerap disebut petugas partai hingga boneka Megawati Soekarnoputri.
Narasi yang sama juga sempat dialamatkan kepada Anies Baswedan yang dinilai lebih memilih mengikuti arahan Ketum Partai NasDem, Surya Paloh, untuk menggandeng Ketum PKB Muhaimin Iskandar sebagai bacawapresnya.