Pro kontra mengenai proyek pembangungan Masjid Raya Al Jabbar yang menghabiskan dana Rp 1 miliar terus berlanjut. Kekinian, netizen menyerang Instagram milik pemenang proyek pembuatan konten Masjid Al Jabbar.
Banyak netizen yang menyerang proyek pembuatan konten Masjid Al Jabbar dengan nilai pagu anggaran Rp 20 miliar dan HPS Rp 16,3 miliar (Rp16.306.988.804).
Diketahui, proyek pembuatan konten Masjid Al Jabbar itu dimenangkan oleh PT Sembilan Matahari, perusahaan yang dipimpin Adi Panuntun alumni ITB satu almamater dengan Ridwan Kamil.
“Dapat duit berapa bang,” sindir akun @viscount_of_memes di kolom komentar Istagram @sembilan_matahari belum lama ini.
“Ssst sudah jangan ditanya, yang penting masyarakat dapat eduksi katanya,” jawab @reneureayani sambil menyematkan emoticon tertawa.
“Rp20 miliar? Tendernya mantap,” sindir akun @ziqryan.
“Kontrak Rp16 miliar bikin konten sampai berapa tahun bang,” sindir akun @husnipradanam.
“Kontraknya gede ya kang,” sindir akun @ubaidillahmou.
Sebelumnya, Beyond Anti Corruption (BAC) mensinyalir adanya dugaan penyimpangan dalam pembangunan Masjid Al Jabbar.
Baca Juga: 5 Hero Mobile Legends Paling Sering Kena Ban di M4 World Championship, Skillnya Terlalu Sakit!
BAC menemukan beberapa kejanggalan dari proyek pembuatan konten Masjid Al Jabbar.
Koordinator BAC Dedi Haryadi mengungkapkan setidaknya ada dua indikasi adanya praktik KKN di proses penyediaan proyek senilai Rp20 miliar untuk pembuatan konten Masjid Al Jabbar. Indikasi pertama ada di proses lelang proyek ini.
Penyelusuran BAC menemukan jika proyek pengadaan konten mengalami kegagalan selama dua kali akibat tidak adanya peserta lelang yang dianggap layak. Sehingga pada akhirnya dilakukan penunjukkan langsung.
“Bisa jadi kegagalan (lelang) ini (sudah) diskenariokan agar bisa menjadi proyek yang pemenangnya ditunjuk langsung, karena menurut Perpres 16/2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa maksimal plafon untuk pengadaan langsung hanya untuk proyek senilai dibawah Rp. 200 juta," ujar Dedi melalui keterangan resmi, Senin (9/1/2023).
Indikasi kedua dari adanya KKN dalam proyek pengadaan ini adalah dari sisi pemenang tender. Dari laman LPSE ditemukan jika pihak yang memenangkan tender ini adalah Sembilan Matahari.
Padahal perusahaan ini sudah dinyatakan gagal ketika mengikuti tender sebelumnya dengan alasan tidak lulus evaluasi penawaran.