Suami selebgram Tasyi Athasyia, Syech Zaki Alatas menyamakan istrinya dengan Rasulullah SAW. Pernyataan kontroversial dari Zaki Alatas ini pun mendapat sorotan dari publik.
Zaki dalam pernyataan di depan awak media terkait sejumlah kasus yang menimpa istrinya menyebut bahwa Tasyi saat ini tidak mendapat dukungan dari keluarga ataupun saudara.
Hal itu yang kemudian menurut Zaki Alatas menyamakan Tasyi dengan sosok Baginda Rasulullah SAW.
"Kak Tasyi ini kan sekarang semua, se-Indonesia kan saksi. Kayak Rasulullah, tidak ada orangtua yang membela. Rasulullah tuh tidak ada saudara yang membela, di media ya, tidak ada orangtua yang membela, tidak ada saudara yang membela," ujar Zaki seperti dikutip dari matamata.com--jaringan Suara.com
Pernyataan Zaki Alatas ini ternyata masuk dalam kategori pandangan jahiliyah musyrik.
Ulama besar Makkah, As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Malik dalam Kitab "Mafahim an Tusahhah" mengatakan bahwa Nabi dan Rasul adalah manusia, bukan dari bangsa Malaikat dan juga bukan Tuhan.
Namun kata As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Malik, tidak bisa juga menyamakan manusia dengan Nabi atau Rasul karena terdapat perbedaan dalam hal keistimewaan yang diberikan Allah SWT.
Menurut Ustad Miftah el-Banjary, menyamakan manusia biasa dengan Nabi dan Rasul artinya mengesampaikan keistimewaan yang diberikan Allah SWT dan itu termasuk pandangan jahiliyah musyrik.
Di dalam Al-Quran banyak bukti soal pandangan jahiliyah musyrik yang menyamakan manusia biasa dengan Nabi dan Rasul.
Seperti di dalam surah As-Syu'ara ayat 154, kaum Tsamud menghina Nabi Shalih AS dengan menyebutnya sebagai manusia biasa.
Ashabul Aikah juga mengumpat Nabi Syuaib AS dengan menyebutnya sebagai manusia biasa, seperti dijelaskan dalam surah As-Syu'ara ayat 147.
Nabi Muhammad SAW juga pernah dihina oleh kaum musyrikin karena melihat Rasulullah makan dan berjalan seperti manusia biasa ke pasar, ini dijelaskan dalam surah Al-Furqon ayat 7.
"Muhammad itu adalah manusia, namun bukan seperti manusia biasa lainnya, karena Ia bagaikan batu mulia merah Rubi (merah delima) dibanding sembarang batu lainnya." kata ulama Makkah, As-Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki.