Tijjani Reijnders, pemain keturunan Indonesia selangkah lagi berlabuh ke raksasa Serie A Italia, AC Milan. Reijnders hari ini, Selasa (17/7) waktu setempat telah menjalani tes medis.
Mengutip dari laporan eksklusif media Italia La Gazzetta dello Sport, pemain keturunan Indonesia tersebut tiba di klinik La Madonnina pada pukul 09:00 waktu setempat. Kabarnya setelah jalani tes media, Tijjani Reijnders akan berkunjung ke tempat sesi latihan dan berjumpa Stefano Pioli.
Bergabung ke AC Milan jadi capaian terbaik pemain jebolan akademi FC Twente. Nama Tijjani Reijnders mulai menyita perhatian publik Indonesia pada 2022, saat PSSI tengah gencar mencari pemain keturunan Indonesia untuk dinaturalisasi.
Sempat dilobi untuk bisa membela Timnas Indonesia, Tijjani Reijnders putuskan untuk menolak dinaturalisasi. Hal ini tentu mengejutkan publik Indonesia, namun sepertinya keputusan pemain berposisi sebagai gelandang tengah itu cukup tepat.
Tijjani Reijnders adalah anak pertama dari mantan bomber asal Belanda, Martin Reijnders. Berbeda dengan sang putra, Martin lebih banyak bermain di klub kecil Belanda.
Ia pensiun di klub FC Zwolle pada 2009. Menariknya, Martin diketahui sempat menjadi rekan satu tim eks bek Manchester United, Jaap Stam. Pada musim 1992-93, Jaap Stam membela PEC.
Kini jejak Martin diteruskan oleh putra pertamanya, Tijjani Reijnders. Dan mungkin dalam waktu dekat akan disusul putra keduanya, Eliano Reijnders.
Darah Indonesia Tijjani sendiri didapat dari ibunya yang merupakan wanita asal Maluku bernama Angelina Lekatompessy. Soal darah Indonesia juga diakui kakek dari Tijjani, Jan Lekatompessy.
"Tijjani adalah putra dari pasangan Martin Reynders & Agelina Lekatompessy. Hal ini senada dengan yang di sampaikan Jan Lekatompessy, kakek dari Tijjani. Dirinya mengakui bahwa keluarganya berasal dari Maluku," tulis unggahan akun @FT_IDN.
Baca Juga: Here We Go! Penampakan Pemain Keturunan Indonesia Tijjani Reijnders Jalani Tes Medis di AC Milan
Tijjani Reijnders lahir di Zwolle, pada 29 Juli 1988. Dalam salah satu artikel di media Belanda, Elv Voetbal, Martin menjelaskan soal kemampuan putra pertamanya tersebut. Menurut Martin, putranya itu memiliki ketenangan di lapangan hijau.
"Tijjani sedikit lebih tenang dan bertindak bijaksana. Itu tercermin baik di lapangan ataupun kehidupan sehari-hari. Dia membaca permainan dengan sangat baik," ucap Martin.
"Tijjani memungkinkan pemain lain memainkan sepak bola yang lebih baik. Dia mampu membuat tempo permainan sangat baik, memberikan umpan silang dan mampu membaca ruang di lapangan," tambahnya.