Suara.com - Letak Masjid Istiglal dan Gereja Katedral di Jakarta berhadapan. Hanya dipisahkan segaris jalan raya. Sejak dulu itu dimaknai sebagai bentuk toleransi antar umum beragama.
Namun itu bukan sekadar makna, Jumat (3/4/2015) Katedral merayakan Paskah. Sementara Istiglal menggelar salat Jumat.
"Salah satu toleransi, misalkan speaker dari Katedral ataupun dari pihak Istiqlal tidak saling keras-kerasan. Kita sama-sama menghormati dalam ring yg seharusnya. Kami sebagai umat seharus seperti itu, saling menghormati," kata Juru Bicara Paskah 2015 Katedral, Robert Kenji saat ditemui suara.com di Gereja Katolik Katedral Jakarta.
Menurutnya, dalam acara keagamaan umat Katolik, pihaknya juga kerap menjalin kerjasama dengan Istiqlal. "Dari tahun ke tahun kita sudah terbiasa. Karena toh, saat-saat Natal dan Paskah pun kita selalu bekerja sama mengenai parkir dan keamanan dengan pihak terkait dari pihak istiqlal," katanya.
Senada dengan Kenji, Humas dan Protokol Mesjid Istiqlal, Abu juga mengakui jika kerukunan antara jemaat Gereja Katedral dan jamaah Mesjid Istiqlal sudah terbangun puluhan tahun silam.
Menurutnya, bentuk kerukunan antar umat beragama itu dibangun dengan cara ikut bekerjasama memfasilitasi umat Katolik yang merayakan acara ke agamaan di Gereja Katedral.
"Sebenarnya dari dulu bukan hanya sekarang2 ini. Dari tahun ke tahun sejak ada acara keagamaan di Katedral, pihak Istiqlal selalu memfasilitasi untuk membantu khususnya untuk parkir kendaraan," kata dia.
"Karena, untuk lahan parkir di Katedral sangat sempit sekali. Sementara, jamaahnya sangat banyak, membludak. Jadi kami menampung kendaraan jamaah yang akan beribadah di gereja," kata Abu.
Bahkan menurutnya pihak keamanan Mesjid Istiqlal kerap membantu menyebrangkan umat Katolik sampai ke pintu masuk Gereja Katedral.
"Tapi tidak hanya sampai di situ, kami membantu memudahkan mereka, memarkir. Petugas kami juga, security membantu jamaah itu menyebrangkan dari Istiqlal ke Katedral," kata Abu
"Dan biasanya itu bukan hanya pada paskah saja atau pada hari natal. Dan biasanya itu sabtu-minggu begitu. Dan sudah berlangsung puluhan tahun," imbuhnya.
Abu menambahkan, para jemaat Gereja Katedral sering juga memberikan makanan kepada petugas keamanan Mesjid Istiqlal sesudah acara keagamaan selesai.
Menurutnya, kerjasama yang dibangun antara pihaknya dengan pihak gereja adalah bentuk kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Indonesia.
"Bahkan kalau sudah selesai (acara) itu ada nasi box, snack-snack diberikan kepada petugas. Dan petugas kami merasa bergembira juga. Tentunya itu halal. Tidak mungkin pihak Katedral memberikan makanan-makanan yang tidak boleh kami konsumsi," kata dia.