Kematian Saksi Kunci Perbudakan Tanda Ketidakberesan di Benjina?

Ardi Mandiri | Suara.com

Kamis, 23 April 2015 | 06:29 WIB
Kematian Saksi Kunci Perbudakan Tanda Ketidakberesan di Benjina?
Menteri Susi menanggapi kasus perbudakan ABK Benjina

Suara.com - Kapal TNI AL yang membawa rombongan Direktur Sumber Daya Perikanan Sere Alina Tampubolon bertolak dengan tenang dari pelabuhan dekat Stasiun Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Tual. Kecepatannya mungkin sekira 5 knot.

Hari itu, Senin, 23 Maret 2015, laut di teluk Kota Tual memang tenang. Sinar matahari cukup menyengat kendati waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIT.

Dalam rombongan ada antara lain Komandan Lanal Tual Kolonel Laut (P) Hari Wijayanto, Kepala Stasiun PSDKP Tual Mukhtar, Kahumas PSDKP Kementerian Keluautan dan Perikanan Sahono, sejumlah satgas PSDKP dan aparat Lanal Tual, dan Yosep Sairlela yang akrab disapa Pak Ocep.

Tujuan mereka meninjau KM Pulau Nunukan yang dipaksa lego jangkar untuk keperluan pemeriksaan terhadap keabsahan muatannya, yakni 660 ton ikan campuran dalam 24 peti kemas berpendingin milik PT. Pusaka Benjina Resources.

Kapal dengan nahkoda Kapten Joni Sulle itu awalnya ditahan Lanal Aru atas permintaan Kementerian Kelautan dan Perikanan, dan kemudian dievakuasi ke Tual untuk pemeriksaan dokumen-dokumennya.

Kunjungan di atas KM Pulau Nunukan berlangsung sekira 90 menit. Setelah berbincang dengan nahkoda Joni Sulle dan melihat-lihat peti kemas berisi ikan yang disegel, rombongan meneruskan peninjauan ke pelabuhan milik Maluku Timur Jaya.

Kendati kapal tidak merapat, terlihat jelas 60-an kapal ikan milik perusahaan itu yang sandar berjejer di perairan sekitar pelabuhan.

Berbeda dari anggota rombongan yang umumnya berbicara mengenai dampak moratorium yang membuat kapal-kapal itu tidak bisa beroperasi, Pak Ocep terlihat "diam-diam saja" dan lebih banyak melempar pandangan mata jauh ke depan.

Kini, Kepala Pos PSDKP Benjina itu telah tiada. Keterangan dari kementerian menyatakan visum telah dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya.

Sabtu, 18 April lalu, Pak Ocep ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di kamar sebuah hotel di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Semua orang bertanya-tanya apa gerangan yang menimpanya.

Sementara kedatangan Pak Ocep ke Ibu Kota diduga untuk memberikan laporan ke kementerian tentang dugaan praktik perbudakan terhadap ratusan ABK (anak buah kapal) asing asal Thailand, Myanmar, Kamboja dan Laos di Benjina.

Ia bahkan disebut-sebut sebagai saksi kunci yang dapat mengungkapkan benar-tidaknya dugaan itu.

Korban Pembunuhan? Kematian Pak Ocep memunculkan pertanyaan apakah ia menjadi korban pembunuhan? Atas pertanyaan itu Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak berani berspekulasi dan menyerahkan semua pada hasil visum yang telah dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta.

Hasil visum itu kabarnya akan diumumkan lewat dua pekan setelah kematian Pak Ocep.

Andi Sairlela, adik kandung almarhum, yang menyatakan pihak keluarga telah menerima keterangan dari Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan Asep Burhanudin, bahwa Yosep Sairlela kemungkinan meninggal dunia akibat serangan jantung.

Menurut Andi, keluarga besar Sairlela siap menerima kenyataan apapun yang terungkap nanti setelah hasil visum diumumkan.

"Keterangannya bahwa hasil autopsi akan diserahkan dua minggu setelah kematian kakak saya," katanya.

Ia juga menyatakan keluarga siap menerima kenyataan apabila memang hasil autopsi itu sama dengan keterangan dari pihak KKP, tetapi bila berbeda, maka misteri kematian Yosep harus diusut tuntas.

"Hasil autopsinya kami minta diserahkan ke Bareskrim Polri," kata Andi.

Harapan keluarga Sairlela agar misteri kematian Pak Ocep diusut tuntas tentu tidak boleh ditanggapi dingin oleh kepolisian.

Hal itu karena seluruh anggota keluarga telah menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri pada wajah almarhum terdapat luka dekat mata kanan, selain luka di belakang telinga kanan, dan lebam bekas hantaman benda tumpul pada bagian kaki.

Indikasi bahwa Pak Ocep adalah korban tindak kekerasan yang kemudian dikaitkan dengan isu perbudakan ABK asing di Benjina karena semasa hidup dia adalah petugas yang ditempatkan untuk melakukan pengawasan di daerah itu.

Sejak laporan wartawan Associated Press berjudul "Was Your Seafood Caught By Slaves?" yang menggambarkan adanya penjara dan kuburan di Benjina dikutip berbagai media cetak dan elektronik nasional, empat negara yakni Thailand, Myanmar, Laos dan Kamboja mengirim utusan ke Dobo, Benjina dan Tual.

Selain itu, tim penyelidik dari Mabes Polri dan Komnas HAM pun hadir di sana, tidak terkecuali utusan dari IOM (International Organization for Migration) yang peduli pada masalah-masalah migrasi manusia untuk alasan mencari kehidupan layak.

Sampai saat ini, sedikitnya ada 347 ABK asal Myanmar, Kamboja dan Laos yang sudah dievakuasi dari Benjina ke Pelabuhan Perikanan Nusantara Tual, menunggu proses pemulangan mereka ke negara asal.

Para ABK itu mengaku ingin pulang karena tidak tahan terhadap siksaan, sementara mereka digaji tidak setimpal bahkan ada yang tidak dibayar sama sekali.

Dari penyelidikan yang dilakukan, Bareskrim Polri mendapati adanya ABK di bawah umur, sementara Komnas HAM menarik kesimpulan ada praktik perdagangan manusia di Benjina.

Meskipun empat negara asing yang terlibat, yakni Thailand, Myanmar, Kamboja dan Laos sejauh ini belum memberikan komentar apapun, hasil yang didapat Bareskrim Polri dan Komnas HAM patut dijadikan pegangan untuk dilakukan penyelidikan yang lebih intens oleh aparat penegak hukum.

Lebih dari itu, pengungkapan kematian Pak Ocep bisa menjadi titik berangkat bagi upaya keras untuk mengungkapkan isu perbudakan itu. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kasus Perbudakan, KKP Bertemu BKPM Bahas Perizinan PBR Benjina

Kasus Perbudakan, KKP Bertemu BKPM Bahas Perizinan PBR Benjina

News | Rabu, 22 April 2015 | 15:34 WIB

Terkini

Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran

Serangan AS-Israel di Malam Takbiran Tewaskan Jubir Garda Revolusi Iran

News | Sabtu, 21 Maret 2026 | 00:39 WIB

Pramono Sebut Kebun Binatang Ragunan Bakal Tutup Saat Hari Pertama Lebaran, Buka Kembali Lusa

Pramono Sebut Kebun Binatang Ragunan Bakal Tutup Saat Hari Pertama Lebaran, Buka Kembali Lusa

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 23:07 WIB

Pramono Anung dan Bang Doel Bakal Salat Idul Fitri di Balai Kota, Khatib Diisi Maruf Amin

Pramono Anung dan Bang Doel Bakal Salat Idul Fitri di Balai Kota, Khatib Diisi Maruf Amin

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 22:46 WIB

Klaim Angka Kecelakaan dan Fatalitas Turun, Kakorlantas: Mudik Aman, Keluarga Bahagia

Klaim Angka Kecelakaan dan Fatalitas Turun, Kakorlantas: Mudik Aman, Keluarga Bahagia

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 22:39 WIB

Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri 1447 H, Ajak Perkuat Persatuan dan Bangun Indonesia Lebih Kuat

Prabowo Ucapkan Selamat Idulfitri 1447 H, Ajak Perkuat Persatuan dan Bangun Indonesia Lebih Kuat

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 22:30 WIB

Puncak Mudik 2026 Terlewati, Polri: Naik 4,26 Persen dan Tetap Terkendali

Puncak Mudik 2026 Terlewati, Polri: Naik 4,26 Persen dan Tetap Terkendali

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 22:19 WIB

Malam Takbir di Bundaran HI, Pramono: Pemprov Jakarta Ingin Hadirkan Ruang Aman dan Nyaman

Malam Takbir di Bundaran HI, Pramono: Pemprov Jakarta Ingin Hadirkan Ruang Aman dan Nyaman

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 22:04 WIB

Pengiriman Pasukan Perdamaian Indonesia ke Gaza Ditunda, Prabowo Tegaskan Bukan untuk Lucuti Senjata

Pengiriman Pasukan Perdamaian Indonesia ke Gaza Ditunda, Prabowo Tegaskan Bukan untuk Lucuti Senjata

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 21:50 WIB

Cerita Warga Pilih Takbiran di Bundaran HI, Ogah Mudik Gegara Takut Ditanya Kapan Nikah

Cerita Warga Pilih Takbiran di Bundaran HI, Ogah Mudik Gegara Takut Ditanya Kapan Nikah

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 21:43 WIB

Ucapkan Selamat Idulfitri, Prabowo Subianto Ajak Masyarakat Pererat Persatuan

Ucapkan Selamat Idulfitri, Prabowo Subianto Ajak Masyarakat Pererat Persatuan

News | Jum'at, 20 Maret 2026 | 21:41 WIB