Demo 4 November, Media Sosial dan Hoax

Ardi Mandiri

Sabtu, 12 November 2016 | 07:00 WIB
Demo 4 November, Media Sosial dan Hoax
Massa Geruduk Istana

Suara.com - Penggunaan bahasa di media sosial (medsos) yang saling menghujat, saling mengejek, dan saling memaki ketika menyoroti demonstrasi damai 4 November 2016 menuai tuah akan pentingnya penerapan etika berkomunikasi.

Sepak terjang media sosial--dengan mengandalkan kredo bahwa aku mengirim pesan maka aku ada--sejatinya dikemukakan secara terang benderang oleh Presiden RI Joko Widodo.

"Coba kita lihat sekarang buka (media sosial) saling menghujat, saling mengejek, dan saling menjelekkan. Apakah itu kepribadian bangsa kita? Apakah itu budi pekerti yang ditanamkan kepada kita? Saya kira tidak. Ini ada infiltrasi lewat media sosial yang tidak kita sadari dan tidak kita saring," kata Presiden dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/11).

Keprihatinan Presiden Jokowi itu jelas-jelas menyasar pada konten media sosial yang bermuatan hasutan, berbobot provokasi, bahkan berita bohong atau hoax.

Jelang dan sesudah demonstrasi 4 November, lalu lintas isu negatif dan bohong dalam waktu singkat merangsek pengguna Facebook, Twitter, ataupun ke aplikasi percakapan WhatsApp.

Ujung-ujungnya, atmosfer pembaca disesaki dengan warta berisi ejekan dan makian, bahkan kebencian antarwarga. Konten media sosial diwarnai berita bohong, atau percakapan semu belaka yang menyebar luas di jejaring sosial dan telepon selular.

Misalnya, warta bohong yang menyebutkan bahwa ada teror bom di demo 4 November. Tidak tanggung-tanggung, beredar telegram palsu yang menggunakan nama Kapolri Jenderal Tito Karnavian. Disebutkan, akan ada aksi penyiapan aksi bom dibarengi penembakan dan pembunuhan.

Serta-merta, hoax itu direspons oleh Divisi Humas Polri, bahwa kepolisian tidak pernah menerbitkan imbauan apa pun terkait dengan ancaman bom pada demo 4 November 2016. "Selamat Pagi Mitra Humas, Mohon Tidak Terprovokasi Pesan Berantai yang Tidak Jelas Asal Usulnya. #Divhumaspolri".

Warta bohong kedua, bertajuk "Hina Ahok, Amien Rais diperiksa polisi". Sontak, nama Amien Rais meroket setelah diwartakan akan diperiksa oleh Bareskrim Polri terkait dengan pernyataan kerasnya tentang Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Di media sosial, muncul warta berisi instruksi Kapolri untuk menangkap dan memeriksa mantan Ketua Umum PAN itu. Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara dengan tegas dan bernas, "Tidak ada perintah saya (periksa Amien Rais), terutama terkait dengan masalah Gubernur Ahok." Warta hoax ketiga, menyebutkan pesan berantai mengenai informasi mengenai kemunculan 500 warga negara Tiongkok yang datang ke Jakarta melalui Bandara Soekarno Hatta. Ratusan orang asing itu membulatkan tekad membela Ahok.

Tertangkap oleh percakapan semu belaka, disebutkan juga bahwa sebanyak 500 warga China itu telah ada di Terminal D Bandara Soekarno Hatta pada hari Jumat, 28 Oktober 2016 sekitar pukul 20.15. Mereka berangkat menggunakan pesawat Cathay Pasific CX719.

"Tidak ada warga negara Tiongkok. Masyarakat jangan mudah percaya dengan isu-isu yang belum tentu kebenarannya," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono.

Tiga warta hoax seputar demonstrasi 4 November 2016 itu terjaring dan terperangkap dalam percakapan semu. Artinya, orang hanya sekadar meneruskan kata-kata asal bisa menjadi bagian dari urusan publik. Cukup hanya dengan omong-omong saja, dan saling berkirim pesan, orang menganggap sudah terlibat dalam keprihatinan dan kebaikan umum (bonum commune).

Hal yang semu dalam media sosial inilah yang dikritik oleh filosof Kierkegaard seputar ruang publik. Menurut dia, ruang publik yang disesaki dan dijejali oleh omongan, hanya akan menghadirkan dunia yang lepas dari keprihatinan sehari-hari.

Dalam lalu lintas media sosial, setiap orang melempar opini dan melepas komentar tentang segala apa dan segala perkara--dalam hal ini demonstrasi 4 November--meskipun tidak seorang pun ikut bersedia terlibat langsung. Meminjam kata peribahasa, lempar batu sembunyi tangan.

Parahnya, dalam kubah pergaulan media sosial--yang tidak jarang diwarnai hoax belaka--tidak ada pihak yang berkeinginan ikut bertanggung jawab. Pada titik pijak inilah--yakni berani bertanggung jawab--pernyataan Presiden Jokowi kontan terjawab seputar kepribadian bangsa dan budi pekerti yang mendesak ditanamkan kepada warga masyarakat Indonesia.

Tidak bisa dipungkiri bahwa media sosial mampu membangun kesetiakawanan sosial dan mewarnai gerakan politik. Tercatat di Indonesia terjadi dalam kasus "Gerakan Satu Juta Facebooker Mendukung Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto", dan gerakan "Koin untuk Keadilan" yang gegap gempita didukung komunitas maya.

Media sosial dalam jagat maya layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, dapat membangun dan menggairahkan roda kehidupan masyarakat; di lain sisi, masyarakat dapat saja terjebak dalam pemberdayaan yang semu belaka.

Disebut semu karena orang mengira bahwa opini yang dilontarkan, dan komentar yang disebarluaskan--yang dikira berdampak baik dan benar--justru berakibat sebaliknya bagi kebaikan dan kemaslahatan bersama.

Disebut semu karena orang mengira sudah sangat produktif dengan bermedia sosial lewat Facebook, Twitter, atau percakapan WhatsApp, padahal yang dikerjakan sekadar mengumpulkan, meneruskan, dan mengomentari informasi kepada orang-orang lain.

Dua hal yang semu inilah yang menjadi tipu daya medsos ketika menyebarkan warta berisi hoax belaka. Sejatinya, komunikasi berisi relasi dari beberapa pihak, antara "saya", "engkau", dan "kita", bertujuan menjunjung tinggi nilai kebenaran (locutio secundum mentem).

Implikasinya, bahasa yang digunakan dalam medsos (wajib) mengandung dan memuat kebenaran. Artinya, "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu".

Artinya, pesan dalam medsos, hendaknya tidak menimbulkan skandal, tidak memuat kepalsuan, dan memerangi kemunafikan. Perlu penegakan dan penerapan etika berkomunikasi yang dipandu aksioma klasik bahwa hati nurani yang lurus sejatinya bersumber pada kebenaran.

Kebenaran dalam komunikasi merupakan ciri khas hubungan antarpribadi, sebagaimana ditulis oleh pemikir etika komunikasi Giannino Piana. Kebenaran dalam komunikasi via medsos pada akhirnya menyoroti autentisitas diri dengan memperhatikan lima pertanyaan.

Pertama, apakah isi pemberitaan itu sungguh benar? Apakah isi pemberitaan dalam medsos dapat dipertanggungjawabkan? Kedua, apakah pemberitaan dalam medsos merupakan hasil rekayasa dan mengandung bobot politis tertentu? Ketiga, apa motivasi penulisan, penyiaran, dan pengiriman setiap warta dalam medsos? Keempat, apa keuntungan dan kerugian yang muncul dari penggunaan dan pemanfaatan medsos? Kelima, nilai-nilai dasar apa yang hendak ditebar dalam bermedsos? Kelima pertanyaan itu menyasar kepada penegasan bahwa medsos wajib memprioritaskan nilai kemanusiaan, perdamaian, dan kesejahteraan hidup bersama masyarakat majemuk.

Kelimanya itu bersumber pada nilai keindonesiaan yang ditegaskan oleh Presiden Jokowi di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, sebagaimana dikutip dari siaran pers Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, Senin (19/9/2016).

"Nilai jati diri, identitas, karakter, budi pekerti, sopan santun, nilai kerja keras, dan optimisme," kata Presiden. [Antara]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Fadli Zon dan Fahri Hamzah Dilaporkan ke MKD karena Orasi Demo

Fadli Zon dan Fahri Hamzah Dilaporkan ke MKD karena Orasi Demo

News | Jum'at, 11 November 2016 | 13:18 WIB

Jokowi Beri Pengarahan Kepada Semua Anggota Brimob di Kelapa Dua

Jokowi Beri Pengarahan Kepada Semua Anggota Brimob di Kelapa Dua

News | Jum'at, 11 November 2016 | 09:55 WIB

Terkini

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Bukan Sekadar Mendampingi, Ini Peran Perawat dalam Perawatan Pasien Kanker

Health | Senin, 21 September 2026 | 23:37 WIB

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Dari Pesantren ke Layar Lebar, Syakir Daulay Ingin Santri Kuasai Dunia Film

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:31 WIB

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

4 Kreasi Minuman Unik, Dipadukan Serai, Jahe hingga Cabai

Lifestyle | Senin, 21 September 2026 | 23:16 WIB

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Erick Thohir Semangati Atlet Indonesia, Emas Asian Games Diganjar Rp3 Miliar

Video | Senin, 21 September 2026 | 23:10 WIB

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

vivo X500 Bikin Pangling, Modul Kamera Kini Lebih Kecil dan Bodi Bisa Berkilau

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 23:02 WIB

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

FIS Unimed Jadi Tuan Rumah Rapat Tahunan HISPISI 2026 di Danau Toba

Sumut | Senin, 21 September 2026 | 22:53 WIB

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Kasus Video Asusila Viral di Bogor Terbongkar: 2 Tersangka Bikin 20 Konten, Positif HIV

Bogor | Senin, 21 September 2026 | 22:52 WIB

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Gandeng PPM Manajemen, AAJI Dirikan 'Pusat Keunggulan' Asuransi Jiwa

Bisnis | Senin, 21 September 2026 | 22:45 WIB

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Bukan Ultra Lagi, vivo X500 Pro Max Jadi Flagship Tertinggi dengan Kamera 200MP

Tekno | Senin, 21 September 2026 | 22:44 WIB

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

×