Suara.com - Direktur Eksekutif Lembaga Survei Charta Politika Indonesia, Yunarto Wijaya menilai untuk kondisi saat ini faktor rasional kurang terlalu berperan dalam pemilihan kepala daerah DKI Jakarta. Hal itu tercermin dari adanya perbedaan yang besar antara tingkat kepuasan masyarakat atas kinerja calon petahana dengan tingkat pilihan atau elektabilitas yang didapat.
Diketahui, tingkat kepuasan warga DKI akan kinerja Basuki Tjahaja Pumama atau Ahok-Djarot Saiful Hidayat mencapai 63,3 persen. Namun, angka tersebut berbeda jauh dengan elektabilitas Ahok yang hanya mendapatkan angka 23,5 persen.
"Temuan paling menarik dari survei kali ini adalah adanya gap (jarak) yang besar antara tingkat kepuasan publik dengan tingkat pilihan, bahkan Ahok berada di bawah AHY (Agus Harimurti Yudhoyono)," kata Yunarto di kantornya, jalan Cisanggiri III, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (29/11/2016).
Padahal kata dia, seharusnya tingkat kepuasan publik harus sejalan dengan tingkat pilihan atau tingkat elektabilitas sesorang. Hal itu, tergambar dari hasil survei terhadap Walikota Surabaya, Tri Rismaharini yang mendapatkan tingkat kepuasan publik atas kinerjanya mencapai 79 persen dan tingkat elektabilitasnya mencapai 80 persen.
"Ini berbeda dengan Walikota Surabaya, Bu Risma yang pada waktu mau calonkan lagi, tingkat kepuasannya tinggi, dan sejalan dengan itu, tingkat elektabilitasnya juga tinggi, begitu juga dengan Ridwan Kamil, itu kalau sebelum banjir, tidak tahu sesudahnya," kata Yunarto.
Lelaki yang akrab disapa Toto tersebut menilai ada faktor yang paling berperan dalam Pilkada DKI kali ini. Dan yang terjadi saat ini adalah faktor emosional lebih utama dibandingkan faktor kepuasan akan kinerja.
"Ada faktor secara emosional yang melingkupi Pilkada DKI, ada faktor primordial, dan juga karena kasus yang dihadapi oleh Ahok," katanya.
Oleh karena itu, kata Toto situasi dua bulan ke depan bisa saja akan ditentukan oleh faktor emosional tersebut. Hal tersebut terjadi, jika pasangan Ahok-Djarot tidak memperbaiki pola komunikasi yang kerap dinilai Masyarakat begitu kasar (khusunya Ahok).
"Itu (faktor emosional) bisa menentukan pola perilaku pemilih dalam dua bulan ke depan," kata Toto.
Untuk diketahui, pada faktor alasan dipilih dan tidaknya seorang Cagub oleh publik, Ahok mendapatkan penolakan karena gaya bicaranya yang kasar. Meskipun, pada alasan dipilihnya Ahok karena kerja nyata mendapatkan prosentase yang cukup tinggi, yakni 34 persen.