Sastra yang Distigma Anti Islam, dari Gatholoco hingga Sukmawati

Reza Gunadha | Suara.com

Minggu, 08 April 2018 | 11:07 WIB
Sastra yang Distigma Anti Islam, dari Gatholoco hingga Sukmawati
Sukmawati Sokenaro Putri. Buku Darmo Gandul, Gatolotjo dan Langit Makin Mendung (insert). [kolase Suara.com]

Merle Calvin Ricklefs,  sejarawan kontemporer sekaligus “Indonesianis” asal Australia, dalam buku babon berjudul “A History of Modern Indonesia since c.1200” (third edition, Palgrave, 2001), menuliskan karya sastra yang distigma anti-Islam marak pada awal abad ke-19.

“Terdapat gerakan intelektual yang memiliki konten anti-Islam, maupun terkait teosofi. Gerakan-gerakan intelektual semacam itu mengaitkan keadaan Jawa yang tidak bahagia dengan penyebaran Islam, dan mencari revitalisasi melalui persatuan budi ('intelek', di sini berarti pemikiran ilmiah Barat) dan buda (budaya Jawa pra-Islam),” tulis Ricklefs pada halaman 187.

Secara kontras, kala itu, kalangan Islamis di Indonesia—terutama Jawa—mulai menyimpulkan bahwa diperlukan revitalisasi dan “pemurnian” Islam dari pengaruh budaya-budaya Nusantara.

Hal yang sama juga diungkapkan seorang orientalis dan peneliti Islam di Indonesia asal Belanda, Gerardus Willibrordus Joannes Drewes.

Dalam artikelnya yang tersohor, "The Struggle Between Javanism And Islam As Illustrated by The Serat Dermagandul" (Bijdragen tot de Taal—, Land—en Volkenkunde, Deel 122, 3de Afl. 1966, halaman 309-365), Drewes mencatat setidaknya terdapat tiga karya sastra yang dianggap anti-Islam pada abadke-19.

Ketiga karya sastra itu ialah, Babad Kediri, Serat Dermagandul (Darmogandhul), dan Suluk Gatholoco.

Tentang Babad Kediri, dalam artikelnya halaman 317, Drewes menuliskan: "Karya itu kali pertama dipublikasikan pada tahun 1902 oleh PW van den Broek dengan judul 'Babad Kediri'. Isinya bercerita tentang kerugian rakyat Jawa atas masuknya Islam.”

Broek, penyunting babad tersebut, menyebut Babad Kediri dibuat pada tahun 1873.

Tema bahwa masuknya Islam yang merupakan agama tradisi Abrahamik di Timur Tengah merusak kebudayaan dan sistem kepercayaan Jawa, juga terdapat dalam Serat Darmoghandul.

Drewes menuliskan, terdapat perbedaan pendapat mengenai pengarang Serat Darmoghandul.

Ketika kali pertama diterbitkan oleh Penerbit Tan Khoen Swie di Kediri, tahun 1921, Serat Darmoghandul disebut karya Ki Kalamwadi.

Sebagian kalangan menuduh, Ki Kalamwadi adalah nama samaran pujangga besar Ranggwarsito.

"Serat Darmogandhul bercerita tentang ihwal kehancuran kerajaan Majapahit karen masuknya Islam; perbedaan penilaian Raja brawijaya dengan penasihatnya, Sabdapalon tentang Islam. Serat ini terbit dalam bentuk 21 kanto sebanyak 202 halaman," tulis Drewes pada halam 9 artikelnya.

Kanto-kanto Serat Darmoghandul bercerita mengenai kehancuran kerajaan Majapahit; pelarian Raja Brawijaya ke Balambanan; perseteruan Brawijaya dengan Sunan Kalijaga; dan, pernikahan Raden Patah dengan putri Campa yang beragama Islam.

“Juga terdapat perdebatan Brawijaya dengan dua penasihatnya yang tak setuju sang raja masuk Islam, yakni Sabdapalon dan Nayagenggong.”

Lebih dari setengah kanto Darmogandhul juga menceritakan hal yang buruk Wali Songo terhadap rakyat Jawa.

Misalnya, kisah Sunan Bonang yang mengutuk seorang perempuan dan seluruh warga desa hanya gara-gara tersinggung tak diberi air untuk minum dan berwudu.

Terdapat pula hikayat Sunan Bonang yang kalah berdebat mengenai Tuhan, dengan ratu roh Buta Locaya.

Namun, Drewes menilai syair-syair dalam Serat Darmogandhul lebih "bermartabat" ketimbang Suluk Gatholoco.

Sebab, dalam suluk tersebut, terdapat kalimat-kalimat yang melucuti sifat profetik Nabi Muhammad SAW.

Serat itu bercerita tentang Gatholoco yang mengampu diri sebagai sosok Nabi Muhammad SAW. Namun, dirinya mendekonstruksi seluruh citra sang nabi yang  profetik menjadi profan.

Suluk Gatholoco kali pertama diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 1889. Dicetak dan diterbitkan  di Surabaya. Tapi, karya itu baru menjadi polemik dan dikecam Muslim Jawa pada tahun 1918, atau 29 tahun setelahnya,” tulis Drewes halaman 7.

Kemarahan umat Muslim Jawa itu bermula ketika surat kabar Djawi Hisworo, terbitan Serikat Islam afdeling Surakarta, memuat artikel yang menggambarkan Nabi Muhammad seorang pemadat dan penyuka minuman keras.

Artikel yang menyulut amarah itu dibuat oleh Djojodikoro. ”Demi berjaga-jaga, Martadarsana, pemimpin redaksi surat kabar itu, sebenarnya sudah menuliskan catatan tambahan agar para pembaca memahami hakikat kritik sosial dalam artikel Djojodikoro tersebut.”

Namun, massa sudah bergejolak. Djawi Hisworo dianggap menistakan agama, dan Suluk Gatholoco dikecam sehingga tak lagi diterbitkan secara terang-terangan.

Indonesianis asal Amerika Serikat, Benedict Anderson, yang memublikasikan Suluk Gatoloco dalam bahasa Inggris di jurnal "Indonesia" Nomor 32 Oktober 1981 dan Nomor 33 April 1982, juga menyinggung mengenai protes tersebut pada kata pengantarnya.

Ben Anderson menuturkan, penerbitan artikel Djojodikoro berdasarkan Suluk Gatholoco itu juga membuat friksi antara Muhammadiyah yang berkembang di Yogyakarta dengan Sarekat Islam di timur Jawa.

”Selain friksi itu, ada pula yang menyebut Suluk Gatholoco sebenarnya dibuat oleh kolonial Belanda untuk memecah belah persatuan kekuatan elite di Indonesia,” tulis Ben pada halaman 110.

Sementara Drewes menyebutkan, gara-gara artikel tersebut, HOS Cokroaminoto, pemimpin tertinggi Sarekat Islam, membentuk ”Tentera Kandjeng Nabi Muhammad” dan mengobarkan semangat demonstrasi di 42 daerah Jawa.

”Tapi, aksi Tjokroaminoto itu dinilai sebagai langkahnya untuk mengimbangi faksi kiri Sarekat Islam yang berpusat di Semarang. Tjokroaminoto menggunakan isu Suluk Gatholoco untuk menyaingi popularitas Semaun, pemimpin komunis Islam SI Semarang,” tulis Drewes pada halaman 315.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pingsan, 23 Pendemo Anti Puisi Sukmawati Langsung Dikasih Makan

Pingsan, 23 Pendemo Anti Puisi Sukmawati Langsung Dikasih Makan

News | Jum'at, 06 April 2018 | 17:27 WIB

GP Ansor Cabut Laporan Polisi soal Puisi Sukmawati Soekarnoputri

GP Ansor Cabut Laporan Polisi soal Puisi Sukmawati Soekarnoputri

News | Jum'at, 06 April 2018 | 15:38 WIB

Massa Anti Puisi Sukmawati Gelar Demonstrasi di Bareskrim Polri

Massa Anti Puisi Sukmawati Gelar Demonstrasi di Bareskrim Polri

News | Jum'at, 06 April 2018 | 14:11 WIB

6.500 Polisi dan Tentara Jaga Demo 'Puisi Sukmawati' di Bareskrim

6.500 Polisi dan Tentara Jaga Demo 'Puisi Sukmawati' di Bareskrim

News | Jum'at, 06 April 2018 | 10:45 WIB

Diperiksa Kasus Sukmawati, Pelapor Sebut Nama Menteri Susi

Diperiksa Kasus Sukmawati, Pelapor Sebut Nama Menteri Susi

News | Jum'at, 06 April 2018 | 07:15 WIB

Terkini

Misteri Pelimpahan Kasus Air Keras Andrie Yunus ke Puspom TNI, Kuasa Hukum: Tak Ada Alasan Hukumnya

Misteri Pelimpahan Kasus Air Keras Andrie Yunus ke Puspom TNI, Kuasa Hukum: Tak Ada Alasan Hukumnya

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:41 WIB

Langit Mencekam! Rudal Kiamat Iran Gempur Israel, Kilang Minyak Meledak

Langit Mencekam! Rudal Kiamat Iran Gempur Israel, Kilang Minyak Meledak

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:38 WIB

Penetapan Tersangka Baru Kasus Haji Patahkan Klaim Yaqut Tak Terima Uang

Penetapan Tersangka Baru Kasus Haji Patahkan Klaim Yaqut Tak Terima Uang

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:32 WIB

MBG Dibagikan Lagi, BGN Ancam Suspend SPPG yang Mark Up Bahan Baku: Gila-gilaan, Langsung Disanksi

MBG Dibagikan Lagi, BGN Ancam Suspend SPPG yang Mark Up Bahan Baku: Gila-gilaan, Langsung Disanksi

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17 WIB

Pesan Haru Keluarga Andrie Yunus di DPR: Orang Lampung Itu Pelampung Penyelamat Demokrasi

Pesan Haru Keluarga Andrie Yunus di DPR: Orang Lampung Itu Pelampung Penyelamat Demokrasi

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:11 WIB

Setahun Prabowo: Deforestasi Melonjak, Potensi 'Juara Dunia' Hutan Gundul

Setahun Prabowo: Deforestasi Melonjak, Potensi 'Juara Dunia' Hutan Gundul

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:08 WIB

TAUD: Belasan Orang Terlibat Operasi Intelijen Serang Aktivis KontraS

TAUD: Belasan Orang Terlibat Operasi Intelijen Serang Aktivis KontraS

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02 WIB

Curhat Terakhir Praka Farizal Sebelum Gugur: Ungkap Situasi Lebanon Mencekam, Sering Masuk Bunker

Curhat Terakhir Praka Farizal Sebelum Gugur: Ungkap Situasi Lebanon Mencekam, Sering Masuk Bunker

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:59 WIB

KontraS Kritik Pelimpahan Kasus Andrie Yunus ke Puspom TNI: Berpotensi Ada Manipulasi Hukum

KontraS Kritik Pelimpahan Kasus Andrie Yunus ke Puspom TNI: Berpotensi Ada Manipulasi Hukum

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:58 WIB

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pasukan Segera Ditarik Pulang

Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Pasukan Segera Ditarik Pulang

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:56 WIB