Kebakaran Hutan Indonesia Tahun 2019 Lebih Parah dari Amazon

Reza Gunadha, Rifan Aditya

Kamis, 28 November 2019 | 08:33 WIB
Kebakaran Hutan Indonesia Tahun 2019 Lebih Parah dari Amazon
Presiden Jokowi pantau kebakaran hutan. (Biro Pers Kepresidenan)

Suara.com - Kebakaran hutan yang terjadi di Indonesia menciptakan lebih banyak karbon dioksida daripada kebakaran yang terjadi di Amazon, berdasarkan laporan Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS).

Disadur dari Straitstimes, Rabu (27/11/2019), kebakaran hutan yang menutupi sebagian wilayah Asia Tenggara dengan awan tebal abu dan asap, diperkirakan telah melepaskan 709 juta ton karbon dioksida hingga 15 November. Ini hampir sama dengan emisi tahunan Kanada.

CAMS menyebut kebakaran hutan di Indonesia beberapa waktu lalu lebih besar 22 persen dari kebakaran di Amazon. Diperkirakan 579 megaton karbon dioksida dikeluarkan dari pembakaran hutan Amazon.

Kebakaran di Indonesia dipicu oleh petani yang membuka lahan, membakar sebidang hutan yang tersebar di lebih dari 4.000 km. Daerah yang paling parah terkena dampaknya berada di pulau Sumatra dan Kalimantan.

Kekeringan berkepanjangan dan musim hujan yang terlambat memperparah situasi. Kabut asap mengganggu transportasi udara dan menyebabkan penyakit pernapasan bagi ribuan orang di wilayah itu.

"Yang menjadi sorotan pada kebakaran di Indonesia ini adalah tinggiya total intensitas kebakaran harian dan perkiraan emisi dan seberapa jauh dampaknya lebih tinggi daripada rata-rata 16 tahun sebelumnya," kata Copernicus.

Mereka mengatakan sulit untuk membuat perbandingan langsung antara bencana di Indonesia dan Amazon karena perbedaan jenis vegetasi.

Namun Copernicus menyebut kebakaran hutan di Indonesia tahun ini adalah yang terburuk dibandingkan 2015.

Menurut laporan Straitstimes, pemerintah Indonesia memperkirakan sekitar 2,6 juta hektar lahan terbakar pada tahun 2015, yang menyebabkan kerugian ekonomi sebesar US $ 16 miliar (Rp 225,6 triliun).

baca juga

Sementara itu, Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) merupakan salah satu dari enam layanan yang membentuk Copernicus, program pengamatan Bumi Uni Eropa yang mengamati bumi dan lingkungannya demi keuntungan utama semua warga negara Eropa.

CAMS diimplementasikan oleh European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) bagian dari European Commission.

ECMWF adalah organisasi antar pemerintah independen yang didukung oleh 34 negara. Ini adalah lembaga penelitian dan layanan operasional 24/7, yang memproduksi dan menyebarkan prediksi cuaca numerik ke negara-negara anggotanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pupuk Indonesia Grup Raih The Asia Sustainability Reporting Rating 2019

Pupuk Indonesia Grup Raih The Asia Sustainability Reporting Rating 2019

Bisnis | Minggu, 24 November 2019 | 11:21 WIB

Perusahaan Ini Akan Produksi Daging yang Terbuat dari Udara

Perusahaan Ini Akan Produksi Daging yang Terbuat dari Udara

Lifestyle | Rabu, 20 November 2019 | 10:31 WIB

Sesuai Instruksi Gubernur, Pemprov DKI Perketat Uji Emisi Kendaraan Umum

Sesuai Instruksi Gubernur, Pemprov DKI Perketat Uji Emisi Kendaraan Umum

News | Jum'at, 01 November 2019 | 18:09 WIB

Terkini

Donald Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir Usai Pemilu AS

Donald Trump Sebut Perang Iran Segera Berakhir Usai Pemilu AS

News | Minggu, 13 September 2026 | 07:25 WIB

Apa Perbedaan antara Cleansing Gel dan Cleansing Foam?

Apa Perbedaan antara Cleansing Gel dan Cleansing Foam?

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 07:18 WIB

Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"

Saat Cinta Datang Terlambat: Belajar Merelakan dari Lagu Raim Laode "Dunia yang Nanti"

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 07:15 WIB

Kata-kata Andika Mahesa Setelah Kangen Band Bubar

Kata-kata Andika Mahesa Setelah Kangen Band Bubar

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 07:05 WIB

Update Terkini 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda, SAR Temukan 4 Benda Ini

Update Terkini 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda, SAR Temukan 4 Benda Ini

News | Minggu, 13 September 2026 | 07:03 WIB

294 Karhutla Terjadi di Ogan Ilir hingga September 2026

294 Karhutla Terjadi di Ogan Ilir hingga September 2026

Foto | Minggu, 13 September 2026 | 07:00 WIB

Pejabat Desa di Bengkalis Jual Hutan Cagar Biosfer UNESCO Senilai Rp2 Miliar

Pejabat Desa di Bengkalis Jual Hutan Cagar Biosfer UNESCO Senilai Rp2 Miliar

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 06:58 WIB

Denis Kolinger Puji Dukungan Jakmania Saat Persija Bungkam Persib di Menit Akhir

Denis Kolinger Puji Dukungan Jakmania Saat Persija Bungkam Persib di Menit Akhir

Bola | Minggu, 13 September 2026 | 06:57 WIB

4 Shio yang Menarik Keberuntungan 13 September 2026: Masa Sulit Segera Berlalu

4 Shio yang Menarik Keberuntungan 13 September 2026: Masa Sulit Segera Berlalu

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 06:56 WIB

Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan

Kemarau Jabar: 325 Hektare Lahan Terbakar dan 215 Ribu KK Terdampak Kekeringan

Jabar | Minggu, 13 September 2026 | 06:50 WIB

×