PSBB di Kawasan Padat Jakarta: Jaga Jarak Susah, di Rumah Pengap dan Gerah

Arsito Hidayatullah

Rabu, 29 April 2020 | 06:05 WIB
PSBB di Kawasan Padat Jakarta: Jaga Jarak Susah, di Rumah Pengap dan Gerah
Suasana aktivitas warga di salah satu kawasan padat penduduk di Jakarta saat pemberlakuan PSBB di tengah pandemi corona. [BBC]

Oleh karenanya, warga pun mengakali dengan keluar rumah secara bergantian, kata Agus.

"Kondisi di wilayah saya, di Kali Anyar pada umumnya memang satu rumah itu kadang kala ditinggali dua atau tiga KK, bahkan bisa lebih."

"Untuk penerapan physical atau social distancing itu agak sulit ya, kecuali malam, malam itu pun dipaksakan. Sehari-harinya mereka kadang bergantian, ada yang di luar ada yang di dalam," kata Agus.

Menurut Amalinda Savirani, dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM), kebijakan social distancing yang telah diumumkan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus corona hanya ideal bagi keluarga yang terdiri dari anggota inti, yaitu ayah, ibu, dan anak-anaknya.

"Kebijakan tentang social distancing ini hanya memungkinkan dilakukan di kelompok masyarakat tertentu dan atau sektor tertentu. Pengandaian kebijakan itu, misalnya adanya konsep nuclear family yang terdiri dari orang tua dan anak-anak, sementara itu tidak bisa ditemukan di kelompok masyarakat, apalagi di kota."

"Warga miskin kota, yang satu rumah itu terdiri dari beberapa KK. Akibatnya rumah itu sangat padat dan dia di dalam rumah semuanya. Jika ada satu [orang positif virus corona], atau carrier [virus corona] dari luar, itu akan menyulitkan sekali," kata Amalinda.

"Dari sisi kebijakan itu memungkinkan di kelompok keluarga yang sangat nuclear, yang satu rumah terdiri dari satu keluarga, orang tua dan anak-anaknya, sementara di warga miskin itu susah dilakukan."

Sebelum diberlakukan, pemerintah sebaiknya berkonsultasi soal imbauan dan aturan untuk mengurangi penyebaran penyakit Covid-19 di daerah padat penduduk dengan warga setempat yang tahu apa kebutuhan dan solusi yang sesuai bagi wilayahnya.

"Banyak aturan, seperti social distancing, dan imbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah sulit terlaksana di beberapa tempat, sehingga pemerintah sebaiknya tidak hanya memakai satu pendekatan untuk diimplementasikan di semua wilayah," kata Annie Wilkinson, periset di Institute of Development Studies, sebuah organisasi riset masalah pembangunan dari Inggris.

baca juga

"Untuk wilayah padat penduduk, pemerintah sebaiknya memakai pengetahuan warga yang tinggal di sana untuk mempelajari bagaimana mereka memakai wilayahnya, apa kebutuhan dasar yang dibutuhkan, kelompok warga mana saja yang rentan."

"Mungkin solusi yang dicapai tidak sempurna, dan tidak seperti di negara lain, tapi hal itu masih berguna untuk mengurangi kontak antarwarga."

Menurut pengamat sosial, pandemi virus corona ini semakin memperlihatkan ketimpangan ekonomi antara warga kaya dan warga miskin, tidak hanya di Jakarta, namun juga di berbagai kota di dunia.

"Support system harus diberikan juga [di tengah PSBB], misalnya ketersediaan air bersih untuk cuci tangan, lalu dukungan bagi kelompok informal yang [ekonominya] akan terhajar habis dengan kebijakan tinggal di rumah, artinya biaya hidup mereka sehari-hari harus di back-up dan diganti oleh pemerintah," kata Amalinda.

"Ada persyaratan-persyaratan untuk social distancing. Selain berada di rumah, berarti [mereka] tidak kerja, artinya [pendapatan mereka] harus diganti, lalu soal akses sanitasinya, perlu dipikirkan bagaimana akses tersebut memasuki warga atau kampung-kampung di Jakarta. Kalau tidak, itu cuma policy yang tidak terlalu menyelesaikan [masalah]."

Menanggapi hal ini, Menteri Sosial Juliari Batubara, mengakui bahwa tidak semua orang bisa menerapkan social distancing dengan disiplin, terutama di tempat padat penduduk seperti di Tambora.

"Memang itu sulit ya, yang bisa dilakukan mereka menggunakan masker semua karena mereka tinggal di situ, tidak mungkin kita pisahkan keluarganya. Social distancing tidak mungkin 100 persen bisa diterapkan secara disiplin, ada satu rumah yang terdiri dari beberapa keluarga."

"Yang pemerintah bisa imbau adalah keluarga-keluarga itu memakai proteksi seperti masker dan menjaga kesehatan diri masing-masing," kata Juliari.

Nongkrong karena menganggur

Selain karena rumah yang sempit dan pengap, alasan lain mengapa masyarakat kampung Tambora masih bercengkrama dengan tetangganya adalah karena mereka kehilangan pekerjaan.

Contohnya adalah Tatiek, pekerja pabrik konveksi yang sekarang menganggur.

"Saya jarang nongkrong, ini lagi nganggur kan jadi duduk-duduk di sini, kalau sudah pegal ya masuk ke rumah," kata perempuan berusia 60 tahun ini.

"Ekonomi lagi sulit. Tidak ada bayaran kalau lagi menganggur begini. Lagi tutup tokonya semua, jadi tidak bisa dikirim barang [yang dibuatnya di pabrik konveksi]."

Hal yang sama juga dikeluhkan oleh Setiawati, yang sebelum wabah, mendapatkan uang dengan berdagang nasi. Suaminya bekerja sebagai tukang pasang antena atau parabola, dan pendapatan keduanya dirasa cukup untuk makan sehari-hari.

Namun setelah pandemi virus corona, Setiawati berhenti berdagang dan pemesanan jasa pemasangan antena berkurang drastis.

"Saya kan kecil-kecilan dagang nasi, ya cukuplah untuk menghidupi keluarga saya. Bapaknya juga kan sebelum ada [wabah virus] corona lumayan, ada pemasangan [antena atau parabola] walaupun tidak setiap hari ya, lumayan untuk makan kami sekeluarga," kata Setiawati.

"Tapi ketika adanya [wabah virus] corona ini pemasangan [antena] sepi, saya berdagang jadi berhenti. Makan sehari-hari seadanya saja. Sekarang [suami saya] cuma [dalam] seminggu kadang sekali masang [antena]. Mudah-mudahan bisa [bertahan], entah [uang] dari mana."

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menganggarkan total Rp3,2 triliun untuk bantuan sosial kepada kurang lebih 4,2 juta warga miskin dan rentan miskin di Jabodetabek yang terdampak aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar, termasuk di Kelurahan Kali Anyar, yang dibagikan mulai dari tanggal 9-23 April. Bantuan yang diberikan berupa kebutuhan pangan, masker, dan sabun.

Agus, ketua RW di Kali Anyar, mengatakan warga di wilayahnya masih nongkrong karena rumah mereka terlalu kecil untuk ditinggali dengan nyaman dalam waktu yang lama.

"Kalau untuk di dalam rumah tidak mungkin ya, melihat rumah di Kali Anyar ini kan kecil-kecil, satu rumah seluas 10 meter ditempati bisa 10, bahkan lebih orang, jadi untuk penerapan physical distancing dengan jarak satu meter itu sepertinya sulit," kata Agus.

Menurut Amalinda, strategi warga yang keluar rumah secara bergantian di Kali Anyar berpotensi memperbesar kemungkinan berkumpulnya warga di satu tempat.

"Warga selalu punya taktik dan strategi untuk memastikan mereka semua sehat dan selamat termasuk [keluar rumah secara bergantian], tapi masalahnya, ketika di luar jalan pun gang padat."

"Kalau semua warga melakukan shift itu, pada akhirnya mereka tetap berkumpul, mereka bisa bertabrakan dengan orang lain, akhirnya tetap tradisi nongkrong yang terjadi, karena secara fisik tata kota di kampung itu sangat padat," kata Amalinda.

Menteri Sosial Juliari Batubara mengatakan bahwa pemerintah tidak bisa mengawasi karantina wilayah yang diterapkan oleh masyarakat secara ketat karena jumlah polisi dan penegak hukum yang tidak sebanding dengan jumlah penduduk.

"Berapa banyak polisi atau pihak-pihak yang mengawasi, pasti tidak mencukupi, pelanggaran pasti ada saja. Kita tidak bisa berharap polisi harus tegas, polisi berapa jumlahnya? Dibanding dengan ratusan juta penduduk jauh sekali. Maka kita berharap masyarakat harus disiplin."

"Kalau mereka merasa tidak akan kena [Covid-19] kan konyol, maka kita harus disiplin dan sama-sama melewati masa sulit begini supaya lebih cepat recovery-nya," kata Juliari.

Tidak semua bisa kerja dari rumah

Sebagian besar warga yang tinggal di kawasan padat penduduk seperti di Kali Anyar adalah pekerja informal seperti Setiawati dan Tatiek.

Menurut Cecilia Tacoli, periset di International Institute for Environment and Development yang bermarkas di London, kelompok demografi ini tidak bisa diacuhkan oleh negara-negara di dunia mengingat mereka akan menjadi kontributor utama pertumbuhan populasi dunia dalam 20 tahun ke depan.

"Ketika membuat kebijakan, banyak pemerintah yang tidak mempertimbangkan bahwa ada sekitar satu miliar penduduk wilayah kumuh di dunia ini, dan pertumbuhan populasi dunia dalam waktu 20 tahun ke depan sebagian besar akan didorong oleh warga miskin, di kota-kota miskin di dunia, yang tinggal di wilayah kumuh," kata Cecilia.

Menurut Cecilia, solusi jangka pendek bagi mereka yang harus tetap bekerja di tengah wabah virus corona adalah dengan memberikan mereka masker, alat perlindungan diri, dan fasilitas cuci tangan, terlebih bagi mereka yang pekerjaannya penting, seperti pengumpul sampah.

"Sebagian besar warga yang tinggal di wilayah kumuh atau wilayah informal hanya mendapat cukup uang untuk makan sehari-hari, jika mereka tidak bekerja maka mereka tidak bisa makan keesokan harinya. Ini perlu jadi bahan pertimbangan pembuat kebijakan," kata Cecilia.

"Di India, ketika warga disuruh berhenti bekerja, mereka harus berpindah lokasi dan hal itu menyulitkan semua orang."

Selain itu, pemerintah juga diimbau untuk menekankan pendekatan edukatif jika mendapati warga di kawasan padat penduduk yang melanggar aturan PSBB.

"Jangan kriminalisasi warga yang tidak bisa menaati aturan tersebut, penegak hukum harus mempertimbangkan bagaimana situasi rumah mereka, berapa banyak orang yang tinggal di rumah tersebut, jumlah kamar di rumah itu, bagaimana mereka mendapat air bersih," kata Annie.

"Jangan menyarankan sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan."

Menurut Juliari, pemerintah pusat tidak turun ke kawasan padat penduduk secara langsung, melainkan mendapatkan data dari pemerintah daerah tentang manfaat dan bantuan sosial yang dibutuhkan oleh warganya.

"Saat ini bukan waktunya lagi untuk survei, yang dibutuhkan adalah kecepatan. Pemerintah paham bahwa semua masyarakat merasa pemerintah kurang cepat, kurang tanggap, tapi harus diingat juga tidak ada pemerintahan di dunia ini yang siap menghadapi Covid-19."

"Jadi pendataan, kita berharap sangat-sangat dari daerah agar pemerintah pusat bisa konsentrasi mulai dari anggarannya, mekanismenya, administrasinya."

"Kami tidak melakukan hal yang sama. Kalau itu terjadi jadi kacau dan amburadul. Makanya kita tidak terlalu jauh ke daerah untuk mencari data, itu tanggung jawabnya pemerintah daerah masing-masing," kata Juliari.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

2 Pekan PSBB, Pasien Positif Corona di Jakarta Hampir Sentuh 4.000 Orang

2 Pekan PSBB, Pasien Positif Corona di Jakarta Hampir Sentuh 4.000 Orang

News | Selasa, 28 April 2020 | 23:09 WIB

PSBB Disetujui, Gubernur Gorontalo: Jangan Jual Bahan Pokok ke Luar Daerah

PSBB Disetujui, Gubernur Gorontalo: Jangan Jual Bahan Pokok ke Luar Daerah

News | Selasa, 28 April 2020 | 22:48 WIB

Tak Hanya Tarawih, Pemprov Akui Masih Ada Masjid Gelar Jumatan Berjamaah

Tak Hanya Tarawih, Pemprov Akui Masih Ada Masjid Gelar Jumatan Berjamaah

News | Rabu, 29 April 2020 | 03:05 WIB

Terkini

Sukseskan Program Presiden, Mendagri Tinjau Program BSPS di Jayapura

Sukseskan Program Presiden, Mendagri Tinjau Program BSPS di Jayapura

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 19:06 WIB

Roy Suryo dan dr Tifa Sakit Usai Ditangkap Kasus Ijazah Jokowi, Gibran: Semoga Segera Sembuh!

Roy Suryo dan dr Tifa Sakit Usai Ditangkap Kasus Ijazah Jokowi, Gibran: Semoga Segera Sembuh!

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 18:27 WIB

Bantah Cuma Galak ke Ojol, Dishub DKI: Mobil Pribadi Parkir Liar Banyak Kami Derek!

Bantah Cuma Galak ke Ojol, Dishub DKI: Mobil Pribadi Parkir Liar Banyak Kami Derek!

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:48 WIB

Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser

Tanpa APBD! Pramono Anung Bangun Pedestrian Deck Dukuh Atas, Jamin Patung Sudirman Tak Digeser

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 17:00 WIB

Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal

Buntut Kasus Sulis, Dishub DKI Janji Siapkan Parkir Khusus Ojol di Mal

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:45 WIB

Penyintas Bencana di Pidie Jaya Ubah Dana Stimulan Jadi Modal Usaha

Penyintas Bencana di Pidie Jaya Ubah Dana Stimulan Jadi Modal Usaha

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 16:40 WIB

Mulai Besok! Eks Karyawan Hotel Sultan Wajib Lapor ke Posko GBK Demi Kepastian Nasib

Mulai Besok! Eks Karyawan Hotel Sultan Wajib Lapor ke Posko GBK Demi Kepastian Nasib

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 15:58 WIB

'Efisiensi Tebang Pilih', Ekonom CELIOS: Dana Transfer Dipangkas Bikin Daerah Mandul!

'Efisiensi Tebang Pilih', Ekonom CELIOS: Dana Transfer Dipangkas Bikin Daerah Mandul!

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 15:10 WIB

Predator Anak di Cakung DItangkap: Nekat Jebol Atap Rumah Demi Kabur usai Kepergok Warga

Predator Anak di Cakung DItangkap: Nekat Jebol Atap Rumah Demi Kabur usai Kepergok Warga

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 14:15 WIB

Wasekjen PBNU: Usulan Perubahan Ketentuan AHWA Berasal dari Syuriyah PWNU Jateng

Wasekjen PBNU: Usulan Perubahan Ketentuan AHWA Berasal dari Syuriyah PWNU Jateng

News | Minggu, 21 Juni 2026 | 13:29 WIB