Surat Terbuka Komisioner KPAI untuk Mendikbud Nadiem Makarim

Bangun Santoso, Erick Tanjung

Sabtu, 01 Agustus 2020 | 11:49 WIB
Surat Terbuka Komisioner KPAI untuk Mendikbud Nadiem Makarim
Mendikbud Nadiem Makarim. [ANTARA FOTO/Wahyu Putro]

Suara.com - Komisioner Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti melayangkan surat terbuka kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan atau Mendikbud Nadiem Makarim. Surat itu disampaikan secara pribadi sebagai seorang ibu dan warga negara.

"Mas Menteri, tujuan saya menulis surat ini adalah untuk menyampaikan beberapa kritik saya atas konsep berpikir anda sebagai menteri yang mengurusi urusan pendidikan di negeri yang berpenduduk 269,60 juta jiwa dan luas wilayah yang mencapai 1.905 juta kilometer persegi," kata Retno dalam surat terbukanya yang diperoleh Suara.com, Sabtu (1/8/2020).

Retno menyampaikan tiga pertanyaan dan catatan. Pertama, ia mempertanyakan sikap Mendikbud yang menyatakan bahwa sekolah negeri diperuntukkan bagi siswa miskin. Menurutnya pernyataan Nadiem itu belum memahami konstitusi, pasal 31 UUD 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhak dapat pendidikan dasar yang menjadi tanggung jawab pemerintah untuk membiayainya.

"Bunyi pasal 31 tersebut secara terang benderang menyatakan bahwa hak atas pendidikan untuk semua warga negara, bukan khusus warga negara miskin atau kaya," ujarnya.

Selain itu, kewajiban negara dalam pembiayaan dan pemenuhan hak atas pendidikan tertiang dalam konstitusi, Pasal 31 ayat (4) UUD 1945.

Kedua, Retno mempertanyakan mengapa Menteri Nadiem menurunkan jalur zonasi dalam PPDB tahun 2020 dari 80 persen menjadi 50 persen.

Sebelumnya Mendikbud menghubungkan kebijakan PPDB sistem zonasi dengan pernyataannya tentang sekolah negeri lebih tepat untuk anak-anak dari keluarga ekonomi rendah atau anak miskin.

"Saya malah jadi menangkap kesan dari pernyataan Mendikbud bahwa seolah-olah sekolah negeri memang tidak sejajar dengan sekolah-sekolah swasta papan atas yang berbayar sangat mahal, seperti sekolah CIKAL, Al Azhar, Penabur, dan lain-lain," tanyanya.

Sebenarnya, lanjut Retno, PPDB dengan sistem zonasi adalah kebijakan yang dilahirkan oleh Mendikbud Muhajir Effendy pada 2017.

baca juga

Dasar kebijakan PPDB sistem zonasi adalah mencegah pendidikan menjadi pasar bebas sehingga negara harus hadir. Dengan demikian seluruh anak Indonesia, baik kaya maupun miskin, pintar maupun tidak, berkebutuhan khusus atau tidak berhak belajar di sekolah negeri, asalkan rumahnya secara jarak dekat dengan sekolah yang dituju.

Pada pelaksaan PPDB sistem zonasi pada 2019, Mendikbud Muhajir bahkan sudah menetapkan jalur zonasi mencapai 80 persen. Namun di era Mendikbud Nadiem justru diturunkan menjadi 50 persen.

Retno menuturkan, program menambah jumlah sekolah negeri untuk jenjang SMP dan SMA/SMK mutlak dilakukan, terutama untuk daerah-daerah yang padat penduduk. Ini harus didasarkan pemetaan pemerintah daerah dan memerlukan kerjasama dengan pemerintah daerah.

Ia mengingatkan, bahwa lama belajar di Indonesia baru ditingkatkan 9,1 tahun dalam RPJMN 2020/2024, sebelum tahun 2020 lama belajar anak Indonesia rata-rata hanya 7,9 sampai 8,5 tahun.

Lulus SMP normalnya adalah 9 tahun, itu artinya mayoritas SDM lulusan SD. Anak-anak yang putus sekolah atau tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP dan SMA/SMK dikarenakan kemiskinan dan tidak ada sekolah negeri terdekat.

Oleh karena itu, ketimbang menyebar uang APBN dalam program organisasi penggerak (POP) pada organisasi dan yayasan-yayasan yang mayoritas belum jelas rekam jejaknya dalam meningkatkan kapasitas guru dan kepala sekolah, lebih baik mengalihkan anggaran untuk penambahan jumlah sekolah negeri jenjang SMA/SMK yang jumlahnya hanya 6.683 se-Indonesia. Angka itu jauh dari mencukupi, kata Retno.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nadiem Makarim Kurban 1 Sapi di Masjid Baitut Tholibin Kemendikbud

Nadiem Makarim Kurban 1 Sapi di Masjid Baitut Tholibin Kemendikbud

News | Jum'at, 31 Juli 2020 | 21:55 WIB

Kritik Sekolah Online, Fahri Hamzah: Merusak Mata, Otak dan Hati Anak

Kritik Sekolah Online, Fahri Hamzah: Merusak Mata, Otak dan Hati Anak

News | Jum'at, 31 Juli 2020 | 15:09 WIB

Menteri Nadiem: Pandemi Corona Momentum Kebangkitan Pendidikan Indonesia

Menteri Nadiem: Pandemi Corona Momentum Kebangkitan Pendidikan Indonesia

News | Jum'at, 31 Juli 2020 | 09:01 WIB

Profil Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2019-2024

Profil Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Periode 2019-2024

News | Kamis, 30 Juli 2020 | 17:03 WIB

Menteri Nadiem: Kuota Internet Mahal Masalah Utama PJJ

Menteri Nadiem: Kuota Internet Mahal Masalah Utama PJJ

Tekno | Kamis, 30 Juli 2020 | 16:51 WIB

Persatuan Guru NU: Kepemimpinan Mendikbud Nadiem Makarim Terlalu Elitis

Persatuan Guru NU: Kepemimpinan Mendikbud Nadiem Makarim Terlalu Elitis

News | Kamis, 30 Juli 2020 | 08:20 WIB

Kritik Nadiem Makarim, Federasi Guru: Mendikbud Adalah Menteri Jarak Jauh

Kritik Nadiem Makarim, Federasi Guru: Mendikbud Adalah Menteri Jarak Jauh

News | Kamis, 30 Juli 2020 | 07:19 WIB

Terkini

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jelajah IDW 2026 Sambil Bikin Konten, Pengunjung Berpeluang Bawa Pulang Hadiah

Jakarta | Rabu, 23 September 2026 | 23:52 WIB

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Tak Berhenti di Pelatihan, Dosen IKADO Dampingi Warga Simo Gunung Kembangkan Bisnis Digital

Jatim | Rabu, 23 September 2026 | 23:46 WIB

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Harris Arthur Hedar Lantik 120 Pengurus Peradi Profesional di Sultra, Titip Pesan Ini

Sulsel | Rabu, 23 September 2026 | 23:41 WIB

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Revisi UU Keuangan Negara Momentum Memecah Ambiguitas Pengertian Kerugian Negara

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:35 WIB

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Ombudsman Temukan Miras di 'Kamar Khusus' Lapas Cibinong, Diduga Dihuni Narapidana Kelas Kakap

Jabar | Rabu, 23 September 2026 | 23:21 WIB

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Dugaan Keracunan MBG Hantam Batang, 276 Orang Jadi Korban

Jawa Tengah | Rabu, 23 September 2026 | 23:05 WIB

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Cari Hotel untuk Liburan? Ini Empat Pilihan dengan Pengalaman yang Berbeda

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:47 WIB

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Toyota Indonesia Akan Luncurkan Mobil Baru Tahun Ini

Otomotif | Rabu, 23 September 2026 | 22:44 WIB

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

Bawaslu Akui Tak Pernah Dapat Laporan Soal Pendidikan Gibran pada Pilpres 2024

News | Rabu, 23 September 2026 | 22:27 WIB

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Dari Goma hingga Menchi Katsu, Cita Rasa Jepang Makin Akrab dengan Selera Indonesia

Lifestyle | Rabu, 23 September 2026 | 22:26 WIB

×