Waspada! Pantai Kuta Bali Abrasi Mencapai Puluhan Meter

Erick Tanjung | BBC | Suara.com

Minggu, 18 Oktober 2020 | 05:05 WIB
Waspada! Pantai Kuta Bali Abrasi Mencapai Puluhan Meter
Pantai Kuta, Bali. (Shutterstock)

Suara.com - Pantai yang membentang di Kecamatan Kuta, Provinsi Bali terus menerus diancam abrasi. Sejumlah pihak khawatir, pantai-pantai ini akan hilang dalam beberapa dekade mendatang.

Dilansir dari BBC News Indonesia—jaringan Suara.com, dengan mengenakan kaos hitam, celana olahraga, kacamata dan topi di kepala, Made Supatra Karang berjalan perlahan di atas pasir menuju bibir Pantai Kuta.

Sesampainya di pinggir pantai, pria berusia 65 tahun itu memulai ritual sembahyang dengan memegang sesajen atau canang di tangan kiri dan dupa menyala di tangan kanan. Wajahnya lurus ke depan, menatap laut Pantai Kuta.

Berdoa pagi semacam ini rutin dilakukan Made Supatra Karang sebagai ungkapan syukur sekaligus upaya mendapatkan energi sebelum memulai aktivitas.

Pada penghujung ritual, dia meletakkan canangnya di atas pasir, yang kala itu langsung tersapu ombak karena air laut sedang pasang.

Made Supatra Karang sudah sejak kecil akrab dengan kehidupan di Pantai Kuta. Ia sudah tumbuh bersama pantai jauh sebelum ramainya wisatawan domestik maupun turis mancanegara berdatangan ke Kuta.

Satu hal yang paling dirasakannya adalah semakin berkurangnya lahan Pantai Kuta, dibanding masa kecilnya dulu. Menurutnya, abrasi yang terjadi di pantai Kuta cukup fatal.

"Yang kami rasakan di Kuta ini, boleh dikatakan sangat fatal. Dari umur lima tahun saya di sini, saya sudah melihat perubahannya. Di titik sini misalnya," katanya menunjuk pinggir pantai.

"(Dulu) ada bangunan, kebun-kebun, sehari-hari orang lihat di sini ada pohon katang-katang."

"Kita telah kehilangan sekitar 100 meter akibat abrasi di pantai Kuta ini," katanya menaksir dampak abrasi.

Sebera Parah Abrasi di Kuta?

Pernyataan Made Supatra Karang mengenai abrasi bukan intuisinya belaka.

Secara umum, dari total pesisir Bali yang mencapai 633 km, lebih dari sepertiganya, sepanjang 230 km, kini tengah dilanda abrasi, menurut Made Denny Satya Wijaya selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Air dari Balai Wilayah Sungai Bali Penida.

Spesifik di Kecamatan Kuta, yang pesisirnya mencakup antara lain Pantai Tuban, Kedongganan, Kuta, Legian, hingga Seminyak, rekam jejak abrasi tampak jelas.

Data pemerintah menunjukkan bahwa pada 1981-2010, Pantai Legian dan Seminyak mengalami kedalaman abrasi sejauh 5-15 meter.

"Kalau kita bicara kondisi pantai yang ada di Kuta, sebenarnya tahun 1970-an dan 1980-an itu sudah terjadi [abrasi]. Kami juga pernah melakukan studi di tahun 2009, itu kita potret melalui citra satelit. Ternyata di beberapa ruas pantai di Kuta, kemundurannya cukup besar. Rata-sata 5-15 meter kemundurannya," papar Made Denny Satya Wijaya.

Untuk memastikan bahwa pesisir sepanjang Kecamatan Kuta terjadi abrasi, sekelompok wartawan dan pegiat lingkungan yang didukung oleh Indonesian Data Journalism Network dan Internews' Earth Journalism berupaya menganalisis citra satelit dengan menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS).

Seperti diketahui, perbedaan panjang gelombang elektromagnetik yang ditangkap oleh satelit dapat memisahkan obyek darat dengan laut. Garis pertemuan dari kedua obyek tersebut digambarkan sebagai garis pantai.

Melalui data lembaga United States Geological Survey yang dapat diakses publik ini, Sigit Purwono, Hanggar Prasetio, dan Komang Robby Patria bisa memahami tingkat keparahan abrasi pantai di Kecamatan Kuta.

Data menunjukkan tren abrasi pantai di sepanjang Kecamatan Kuta mencapai -0,46, yang artinya, dari 1972 hingga 2020, terjadi pengikisan pantai sebesar 46 cm per tahun.

Di beberapa titik terparah, abrasi bisa mencapai sekitar 55 meter dalam 48 tahun terakhir (1972-2020).

Hasil pantauan melalui satelit Landsat menunjukkan bahwa pada setiap tahun pengamatan, garis pantai Kuta berubah-ubah seperti pada gambar di bawah ini.

Bagaimana Penanganannya?

Menyusutnya garis pantai di Bali, dan secara khusus di Kuta, mendapat perhatian pemerintah provinsi setempat. Lebih dari 100 kilometer garis pantai telah ditangani, kata Made Denny Satya Wijaya selaku Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan Air dari Balai Wilayah Sungai Bali Penida.

Salah satu wujudnya, pantai yang berada di belakang Mall Centro, Jalan Kartika Plaza, dipasangi tumpukan batu-batu kapur untuk menahan air laut.

"Abrasinya parah, sudah berlangsung lama. Sampai beberapa waktu lalu masih kita lakukan penanganan," ujarnya.

Dia menambahkan, proyek pengamanan pantai di sepanjang Kuta sudah selesai pada 2009. Namun mereka juga terus melakukan survei setelah ada indikasi terjadinya abrasi di satu wilayah. Setelah diidentifikasi penyebab, solusi konstruksi akan diajukan dan dieksekusi.

Umumnya, selain disebabkan faktor cuaca ekstrem, abrasi di Bali juga disebabkan oleh ulah manusia seperti pembangunan di pesisir yang tak berkelanjutan.

"Lokasi-lokasi tertentu yang memang itu diakibatkan adanya konstruksi oleh pihak swasta yang memang dalam proses perencanaannya, pelaksanaan, tidak dilakukan dengan koordinasi yang baik dan perhitungan yang tepat," kata Made Denny Satya Wijaya.

Menanggapi pernyataan tersebut, pakar tata ruang Rumawan Salain menyoroti pembangunan di pesisir yang tidak dilengkapi dengan upaya perlindungan alam yang memadai.

Dia mendorong pemerintah untuk bergerak cepat, sehingga kerusakan dapat diminimalisir.

"Pantai itu ada dewanya, Baruna. Saat orang meninggal, upacaranya ada urusannya dengan laut. Di satu sisi, pantai juga fungsi publiknya. Dan, bukankah setiap perhelatan [agama] jadi pertunjukan di Bali ini? (Pantai) jangan sampai hilang, segera ditangani, segera didata, ambil prioritas," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

225 Ribu Pelaku UMKM Dapat Fasilitas Perluas Pangsa Pasar di Kanal Digital

225 Ribu Pelaku UMKM Dapat Fasilitas Perluas Pangsa Pasar di Kanal Digital

Bisnis | Kamis, 27 Juni 2024 | 17:54 WIB

World Water Forum 2024: Tol Bali Siapkan Jalur Khusus untuk Para Delegasi

World Water Forum 2024: Tol Bali Siapkan Jalur Khusus untuk Para Delegasi

Bisnis | Jum'at, 17 Mei 2024 | 16:52 WIB

Bertepatan Hari Raya Nyepi, Warga Muslim Desa Adat Tuban-Badung Bali Sepakat Shalat Tarawih Pertama di Rumah

Bertepatan Hari Raya Nyepi, Warga Muslim Desa Adat Tuban-Badung Bali Sepakat Shalat Tarawih Pertama di Rumah

News | Kamis, 23 Maret 2023 | 05:10 WIB

Cegah Laka Lantas Saat Libur Nataru 2022, Forkom Lalu Lintas Provinsi Bali Gelar Kolaborasi

Cegah Laka Lantas Saat Libur Nataru 2022, Forkom Lalu Lintas Provinsi Bali Gelar Kolaborasi

Otomotif | Rabu, 21 Desember 2022 | 19:15 WIB

Pariwisata Bali Berangsur Pulih, Untuk Memudahkan Wisatawan Digitalisasi Layanan Makin Ditingkatkan

Pariwisata Bali Berangsur Pulih, Untuk Memudahkan Wisatawan Digitalisasi Layanan Makin Ditingkatkan

Lifestyle | Rabu, 21 Desember 2022 | 22:05 WIB

Mengkhawatirkan! Kasus Gangguan Ginjal Akut Pada Anak di Bali Bertambah Jadi 18 Orang

Mengkhawatirkan! Kasus Gangguan Ginjal Akut Pada Anak di Bali Bertambah Jadi 18 Orang

News | Sabtu, 29 Oktober 2022 | 14:29 WIB

Digitalisasi Penebusan Pupuk Bersubsidi Dimulai di Bali

Digitalisasi Penebusan Pupuk Bersubsidi Dimulai di Bali

Bisnis | Senin, 18 Juli 2022 | 16:38 WIB

Terkini

Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung

Serangan Iran ke Israel Berlanjut: Puluhan Warga Jadi Korban, Sirene Terus Meraung

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 21:14 WIB

Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg

Iran: Ada Negara Arab yang Mau Bantu AS Kuasai Pulau Kharg

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 21:12 WIB

Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber

Belajar dari Perang ASIsrael vs Iran, Indonesia Harus Perkuat 'Character Building' dan Perang Siber

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 21:00 WIB

Remaja 20 Tahun Gugat Meta dan Youtube Gegara Kecanduan Sosmed, Dapat Ganti Rugi Rp90 M

Remaja 20 Tahun Gugat Meta dan Youtube Gegara Kecanduan Sosmed, Dapat Ganti Rugi Rp90 M

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:59 WIB

Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit

Senator AS Curigai Trump di Kasus Trader Misterius yang Raup Rp800 M dalam 15 Menit

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:46 WIB

Geger! Niat Cari Kepiting, Nelayan di Jambi Malah Temukan Kerangka Manusia Setinggi 155 Sentimeter

Geger! Niat Cari Kepiting, Nelayan di Jambi Malah Temukan Kerangka Manusia Setinggi 155 Sentimeter

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:43 WIB

Pakar Ungkap Alasan Iran Tak Terkalahkan: AS Ingin 'Total Surrender', Iran Balas dengan 'Total War'!

Pakar Ungkap Alasan Iran Tak Terkalahkan: AS Ingin 'Total Surrender', Iran Balas dengan 'Total War'!

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:30 WIB

Demi Hemat Anggaran, Nyala Lampu dan AC di Gedung DPR Dibatasi hingga Jam 8 Malam

Demi Hemat Anggaran, Nyala Lampu dan AC di Gedung DPR Dibatasi hingga Jam 8 Malam

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:28 WIB

Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini

Arus Balik Susulan, 14 Ribu Kendaraan Diprediksi Lewat GT Purwomartani Sabtu Ini

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:22 WIB

Donald Trump Blokade Minyak Kuba, Raul Castro Turun Gunung

Donald Trump Blokade Minyak Kuba, Raul Castro Turun Gunung

News | Kamis, 26 Maret 2026 | 20:19 WIB