Ini Cara Deteksi Potensi Bahaya Karhutla

Bangun Santoso, Ummi Hadyah Saleh

Jum'at, 23 April 2021 | 07:40 WIB
Ini Cara Deteksi Potensi Bahaya Karhutla
Patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) oleh Tim Masyarakat Peduli Api (MPA) Paralegal Bantaragung di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Bantaragung, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (22/4/2021). [Ummi Hadyah Saleh/Suara.com]

Suara.com - Pendeteksian potensi bahaya kebakaran hutan dan lahan bisa melalui berbagai cara. Salah satu caranya yakni melakukan patroli untuk mendeteksi jenis jenis tumbuhan yang ada di sekitar kawasan hutan.

Anggota Polisi Hutan (Polhut) Wilayah 2 Majalengka Awan Suwandi mengungkapkan bahwa pendeteksian melalui pemeriksaan serasah atau uji remas, terhadap beberapa tumbuhan.

"Kita uji remas dengan beberapa jenis tumbuan sebanyak kurang lebih 10 tumbuhan ambil daunnya dari bawah kita remas. Jadi kita ada klasifikasinya," ujar Awan di Kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Majalengka, Jawa Barat, Kamis (22/4/2021).

Awan menyebut uji remas tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi sekitar, terlebih menjelang musim kemarau. Sehingga pihaknya bisa mengkategorikan zona aman atau zona rawan Karhutla.

"Kita mengadakan uji remas yang artinya untuk mengetahui sejauh mana situasi atau kondisi yang ada di sekitar ini, terhadap kekeringannya dari jenis tumbuhan yang ada di sekitar," ucap dia

Awan menjelaskan dari uji remas tersebut bisa terlihat tingkat kebasahan atau tingkat kekeringan sebuah tumbuhan.

Kata Awan temuan patroli pencegahan kebakaran hutan dan lahan bersama MPA Paralegal menunjukan kondisi daun masih hijau lantaran masih musim hujan.

"Ada yang sudah mulai kering, atau masih basah atau sudah basah. Kalau saat ini masih basah untuk saat ini kan masih basah, karena masih musim hujan. Tapi nanti sekitar bulan Juli Agustus kesana sudah mulai kering," katanya.

Koordinator MPA-Paralegal Batuagung Sunarsa menyampaikan hal yang sama.

baca juga

Ia menyebut bahwa patroli pencegahan karhutla dilakukan dengan pemeriksaan serasah tumbuhan untuk mengecek tingkat kekeringan.

Jika tumbuhan-tumbuhan di kawasan sekitar masih banyak yang hijau, berati menandakan bahwa kondisi masuk zona aman dari potensi Karhutla.

Sementara jika sudah banyak tumbuhan yang kering saat uji remas, menunjukan kondisi sudah masuk zona rawan

"Kita melakukan pemeriksaan serasah
atau tingkat kekeringan rerumputan. Ini kalau seperti ini namanya masih aman, masih hijau. Kalau rumput udah kuning kita remas berarti udah masuk rawan. Kalau rumputan masih hijau ini masih cukup sehingga aman," ucap Sunarsa.

Namun kata Sunarsa, jika dalam patroli ditemukan banyak tanaman kering mencapai 60 persen, para MPA langsung melakukan pembersihan atau sekat bakar.

Sekat bakar tersebut yakni melakukan pembersihan tumbuhan sekitar untuk mencegah merembetnya titik api jika ada.

"Patrolinya ini harus lebih ditingkatkan untuk tadi mengawasi keluar masuk warga ke kawasan,karena pencegahan yang paling mudah daripada kita mengantisipasi kebakaran, salah satunya, ini sudah menguning seperti ini 60 persen sudah menguning dengan sekat bakar atau pembersihan," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

KLHK Patroli Pohon Pinus Mengering di Taman Nasional Gunung Ciremai

KLHK Patroli Pohon Pinus Mengering di Taman Nasional Gunung Ciremai

Jabar | Jum'at, 23 April 2021 | 01:05 WIB

Cegah Karhutla, KLHK Gelar Patroli di Taman Nasional Gunung Ciremai

Cegah Karhutla, KLHK Gelar Patroli di Taman Nasional Gunung Ciremai

Jabar | Kamis, 22 April 2021 | 21:36 WIB

Instruksi Jokowi, Kementerian LHK Fokus Pencegahan Karhutla

Instruksi Jokowi, Kementerian LHK Fokus Pencegahan Karhutla

Jabar | Rabu, 21 April 2021 | 23:34 WIB

Kisah Kartini Masa Kini dari Riau, Jadi Pemadam Api sebagai Pilihan Hidup

Kisah Kartini Masa Kini dari Riau, Jadi Pemadam Api sebagai Pilihan Hidup

Riau | Rabu, 21 April 2021 | 11:50 WIB

Tahun 2021, Sumsel Fokus Penanganan 10 Daerah Rawan Karhutla

Tahun 2021, Sumsel Fokus Penanganan 10 Daerah Rawan Karhutla

Sumsel | Kamis, 15 April 2021 | 04:05 WIB

Sumsel Gelar Sejuta Selawat, Polda Ajak Anak Yatim Berdoa Cegah Karhutla

Sumsel Gelar Sejuta Selawat, Polda Ajak Anak Yatim Berdoa Cegah Karhutla

Sumsel | Minggu, 11 April 2021 | 08:40 WIB

Jelang Kemarau, Polda Kalbar Peringatkan Warga Tak Bakar Lahan

Jelang Kemarau, Polda Kalbar Peringatkan Warga Tak Bakar Lahan

Kalbar | Rabu, 07 April 2021 | 17:35 WIB

Terkini

Jangan Lewatkan Promo Spesial BRI di XXI: Acara Nonton Bareng di Bioskop Makin Seru Juga Hemat

Jangan Lewatkan Promo Spesial BRI di XXI: Acara Nonton Bareng di Bioskop Makin Seru Juga Hemat

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:14 WIB

Putusan MK Batasi Penunjukan Langsung IUP, Bahlil Pastikan Prioritas Tetap Ada

Putusan MK Batasi Penunjukan Langsung IUP, Bahlil Pastikan Prioritas Tetap Ada

Bisnis | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:12 WIB

KPK Ungkap 3 Dugaan Korupsi Bupati Lombok Barat usai OTT

KPK Ungkap 3 Dugaan Korupsi Bupati Lombok Barat usai OTT

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:12 WIB

Kerap Dianggap Limba, Pakar IPB Ungkap Kepala Hingga Sisik Ikan Bisa Bernilai Ekonomis

Kerap Dianggap Limba, Pakar IPB Ungkap Kepala Hingga Sisik Ikan Bisa Bernilai Ekonomis

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:08 WIB

Cerita Bayi-bayi Nigeria Bayar Mahal Dampak Perang AS - Iran

Cerita Bayi-bayi Nigeria Bayar Mahal Dampak Perang AS - Iran

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:08 WIB

Dody Hanggodo Ngaku Tak Tahu Soal Doxing Dosen UGM: Demi Allah!

Dody Hanggodo Ngaku Tak Tahu Soal Doxing Dosen UGM: Demi Allah!

Video | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:08 WIB

Masuk Jajaran 10 Hotel ibis Terbaik Dunia, Ibis Jakarta Raden Saleh Hadirkan Promo Menginap Spesial

Masuk Jajaran 10 Hotel ibis Terbaik Dunia, Ibis Jakarta Raden Saleh Hadirkan Promo Menginap Spesial

Jakarta | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:07 WIB

Pabrik Masih Menganggur Pemerintah Dorong Isuzu Kejar Target Produksi 500 Ribu Unit

Pabrik Masih Menganggur Pemerintah Dorong Isuzu Kejar Target Produksi 500 Ribu Unit

Otomotif | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:06 WIB

PWI Laporkan Hotman Paris, Polisi Mulai Dalami Dugaan Penghinaan Wartawan

PWI Laporkan Hotman Paris, Polisi Mulai Dalami Dugaan Penghinaan Wartawan

News | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:05 WIB

3 Contoh Teks Pidato Hari Anak Nasional 2026 yang Singkat dan Penuh Makna

3 Contoh Teks Pidato Hari Anak Nasional 2026 yang Singkat dan Penuh Makna

Lifestyle | Selasa, 21 Juli 2026 | 11:05 WIB

×