Covid di India: Warga Memburu Tabung Oksigen dan Obat-obatan di Pasar Gelap

Siswanto, BBC

Rabu, 28 April 2021 | 12:30 WIB
Covid di India: Warga Memburu Tabung Oksigen dan Obat-obatan di Pasar Gelap
BBC

Suara.com - Ketika rumah sakit-rumah sakit di Delhi dan banyak kota lainnya kehabisan ranjang, warga India terpaksa mencari cara-cara lain untuk merawat pasien Covid-19 di rumah, lapor wartawan BBC News di Delhi, Vikas Pandey.

Banyak di antara mereka mencari di pasar gelap meskpun harga tabung oksigen, oksigen kosentrator dan obat-obatan yang diperlukan telah meroket. Selain itu, obat-obatan yang diragukan keasliannya juga menjamur.

Langkah itu antara lain dilakukan oleh Anshu Priya. Ia gagal mendapatkan tempat tidur di rumah sakit di seluruh kota Delhi atau di kawasan pinggiran Noida untuk ayah mertuanya padahal kondisi kesehatannya memburuk.

Anshu menghabiskan waktu sehari penuh mencari tabung oksigen tetapi tidak juga berhasil.

Ia akhirnya mencari tabung oksigen di pasar gelap. Ia terpaksa merogoh koceh 50.000 rupee (atau sekitar Rp9,6 juta) padahal harga normalnya 6.000 rupee (sekitar Rp1,1 juta) per tabung.

Karena ibu mertuanya juga kesulitan bernapas, Anshu tahu ia mungkin tak akan bisa mendapatkan tabung oksigen lagi di pasar gelap atau bisa membayarnya.

Kejadian ini tidak hanya dialami warga di Delhi tetapi juga di Noida, Lucknow, Allahabad, Indore dan begitu banyak kota lainnya. Warga berusaha mati-matian untuk memberikan perawatan di rumah.

Namun sebagian besar penduduk India tidak mampu melakukannya. Sejauh ini sudah muncul laporan bahwa sejumlah warga sekarat di pintu rumah sakit karena mereka tidak mampu membeli obat-obatan yang diperlukan dan oksigen di pasar gelap.

BBC menghubungi penyalur tabung oksigen dan rata-rata mematok harga 10 kali lipat dari harga normal.

baca juga

Kondisi berbahaya khususnya terjadi di Delhi dengan seluruh tempat tidur ruang ICU sudah habis. Keluarga yang mampu membayar akhirnya mempekerjakan perawat secara mandiri dan melakukan konsultasi daring dengan dokter untuk menyelamatkan anggota keluarga.

Tetapi warga harus berjuang keras untuk mendapatkan layanan tes darah hingga pencitraan CT atau sinar x.

Laboratorium penuh dan diperlukan waktu hingga tiga hari untuk menunggu hasil tes. Kondisi ini menyulitkan para dokter untuk mengetahui perkembangan penyakit pasien.

Pemeriksaan CT juga digunakan oleh dokter untuk memeriksa kondisi pasien tetapi untuk mendapatkan pelayanan itu, orang harus menunggu sampai berhari-hari.

Tes PCR juga memerlukan berhari-hari sampai hasilnya keluar.

Membeli obat di pasar gelap

Seorang warga, Anuj Tiwari, menyewa perawat untuk membantu merawat saudaranya di rumah setelah begitu banyak rumah sakit menolaknya.

Sebagian rumah sakit beralasan tak mempunyai ranjang yang tersisa dan sebagian lainnya mengatakan tidak menerima pasien baru karena adanya ketidakpastian tentang kelanjutan suplai oksigen. Sejumlah pasien meninggal dunia di Delhi karena kehabisan oksigen.

Rumah sakit-rumah sakit di ibu kota India itu mengeluarkan peringatan harian bahwa oksigen yang mereka miliki hanya cukup untuk beberapa jam saja. Pemerintah menanggapinya dengan mengirimkan tangki oksigen yang mencukupi keperluan sehari.

Seorang dokter di Delhi menceritakan bagaimana rumah sakit beroperasi dan "sekarang muncul ketakutan bahwa tragedi besar mungkin terjadi".

Dengan kondisi rumah sakit seperti itu, Tiwari mengeluarkan uang banyak untuk membeli konsentrator - yang dapat mengekstrak oksigen dari udara - agar saudaranya tetap bisa bernapas.

Dokter meminta Tiwari membeli obat antiviral remdesivir. Di India, remdesivir telah diberi lampu hijau penggunaan darurat dan lazim diresepkan dokter.

Tiwari tak bisa menemukan obat itu di semua apotek dan akhirnya ia berpaling ke pasar gelap. Kondisi saudara laki-lakinya terus memburuk dan dokter yang merawatnya mengatakan ia mungkin akan segera memerlukan perawatan di rumah sakit. Di sana ia kemungkinan akan diberi obat remdesvir.

"Tak ada tempat tidur. Apa yang seharusnya saya lakukan? Bahkan saya tidak bisa membawanya ke mana pun karena saya sudah menghabiskan uang banyak dan saya kehabisan uang sekarang," ungkapnya.

Harga remdesivir 100 mg biasanya US$12-51 (sekitar Rp174.000-768.000) tetapi di pasar gelap, obat itu dijual dengan harga US$330-1.000 (sekitar Rp4,8 juta-14,5 juta).

BBC menghubungi sejumlah penjual obat-obatan di pasar gelap yang mengatakan persediaan terbatas sehingga mereka mematok harga begitu tinggi.

Pemerintah India mengeluarkan izin kepada tujuh perusahaan untuk memproduksi remdesivir di negara itu dan mereka diperintahkan untuk menggenjot produksi.

Menurut epidemiolog dr Lalit Kant, keputusan meningkatkan produksi itu telah terlambat dan seharusnya sudah disiapkan untuk mengantisipasi gelombang kedua.

"Tetapi entah bagaimana caranya obat itu tersedia di pasar gelap, jadi ada kebocoran dalam sistem suplai yang tak terkendalikan oleh pihak redulator," kata dr Lalit.

"Kami tidak memetik pelajaran dari gelombang pertama."

Obat palsu

Obat remdesivir palsu juga muncul di pasar gelap. Kepada seorang penyalur, BBC mempertanyakan keaslian obat karena nama produsennya tidak tertera dalam daftar perusahaan yang memegang izin produksi di India. Namun si penyalur hanya menjawab "100% asli".

Tulisan dalam bungkus obat penuh dengan kesalahan ejaan. Tetapi si penjual itu hanya mengangkat bahu dan menyarankan BBC untuk melakukan pengetesan di laboratorium. Nama perusahaan yang tertera dalam bungkus obat itu juga tidak muncul di internet.

Tetapi warga begitu putus asa sehingga mereka tetap saja membeli obat-obatan yang keasliannya diragukan. Sejumlah warga juga ditipu. Mereka terus menerus saling berbagi nomer suplier yang menyediakan segala keperluan, mulai dari oksigen hingga obat-obatan. Namun tak satu pun nomer telepon itu diverifikasi.

"Begitu saya mengirimkan uangnya, pemilik nomer langsung memblokir nomer saya," cerita seorang pekerja di bidang teknologi informasi yang tidak mau namanya ditulis.

Ia mendapatkan nomer itu dari Twitter ketika perlu segera membeli tabung gas dan remdesivir. Pemilik nomer memintanya membayar uang muka 10.000 rupee.

Keputusasaan mendorong orang mempercayai apa saja di saat-saat genting dan tampaknya menyuburkan pasar gelap. Beberapa negara bagian berjanji memberantas pasar gelap obat remdesivir dan telah pula melakukan penangkapan. Tetapi pasar gelap tampaknya tidak terpengaruh.

Menurut Anuj Tiwari, orang-orang seperti dirinya tidak mempunyai pilihan lain kecuali membayar lebih.

"Tampaknya kami tidak bisa mendapatkan peratawan di rumah sakit, dan sekarang kami tidak bisa menyelamatkan nyawa anggota keluarga tercinta bahkan di rumah sendiri," pungkasnya sebagaimana dilaporkan oleh wartawan BBC News, Vikas Pandey.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India

News | Minggu, 28 Juni 2026 | 21:54 WIB

Bom Waktu BLT India saat Pengangguran Anak Muda Makin Kronis

Bom Waktu BLT India saat Pengangguran Anak Muda Makin Kronis

News | Jum'at, 19 Juni 2026 | 13:47 WIB

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

Heboh Kereta Kuda Turis Central Park New York Mengamuk, Turis India Tewas Mengenaskan

News | Kamis, 18 Juni 2026 | 16:32 WIB

Mengejutkan! India Blokir Telegram, Ada Apa?

Mengejutkan! India Blokir Telegram, Ada Apa?

News | Selasa, 16 Juni 2026 | 13:31 WIB

Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947

Ulasan Film Main Vaapas Aaunga: Romantisme Pilu di Balik Tragedi Tahun 1947

Your Say | Selasa, 16 Juni 2026 | 11:10 WIB

Sinopsis Main Vaapas Aaunga, Film India Terbaru Diljit Dosanjh dan Sharvari

Sinopsis Main Vaapas Aaunga, Film India Terbaru Diljit Dosanjh dan Sharvari

Your Say | Senin, 15 Juni 2026 | 12:50 WIB

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Prabowo Mau Borong Rudal BrahMos dari India, Ekonom Ingatkan Risiko Utang Rp7 Triliun

Bisnis | Jum'at, 12 Juni 2026 | 11:19 WIB

Sinopsis Maa Behen, Film Terbaru Madhuri Dixit dan Triptii Dimri di Netflix

Sinopsis Maa Behen, Film Terbaru Madhuri Dixit dan Triptii Dimri di Netflix

Your Say | Kamis, 11 Juni 2026 | 11:25 WIB

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam

Writing with Fire Bukan Film, Mengulik Orang-Orang yang Menolak Dibungkam

Your Say | Rabu, 03 Juni 2026 | 18:09 WIB

10 Hari Jelang Kick-off Warga India Akhirnya Bisa Nonton Piala Dunia 2026 tapi...

10 Hari Jelang Kick-off Warga India Akhirnya Bisa Nonton Piala Dunia 2026 tapi...

Bola | Selasa, 02 Juni 2026 | 13:10 WIB

Terkini

Ada Pihak Bantu Bupati Kuansing Saat OTT, KPK Sempat Kehilangan Jejak

Ada Pihak Bantu Bupati Kuansing Saat OTT, KPK Sempat Kehilangan Jejak

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 21:54 WIB

Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen

Wamensos Tinjau Pembangunan Sekolah Rakyat Permanen Kulon Progo, Progres Capai 91 Persen

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 21:46 WIB

Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan

Polri Diminta Kuasai KUHP-KUHAP Baru, Kepastian Hukum Jadi Taruhan

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 21:13 WIB

Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Bertambah, 3 Taruna Meninggal Dunia

Korban Ledakan Kapal Aceh Hebat 2 Bertambah, 3 Taruna Meninggal Dunia

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 20:56 WIB

Diduga Didiskriminasi Sekolah, Pendidikan Siswa Disabilitas Psikososial Ini Terancam

Diduga Didiskriminasi Sekolah, Pendidikan Siswa Disabilitas Psikososial Ini Terancam

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 20:47 WIB

Terdakwa TPPU Sebut Ada Permintaan Dana Pilpres Rp21,5 M, Nama Eks Pangdam Terseret

Terdakwa TPPU Sebut Ada Permintaan Dana Pilpres Rp21,5 M, Nama Eks Pangdam Terseret

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 20:15 WIB

Label A-D Dinilai Membingungkan, BPOM Diminta Revisi Peraturan Nilai Gizi

Label A-D Dinilai Membingungkan, BPOM Diminta Revisi Peraturan Nilai Gizi

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 19:50 WIB

Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!

Keras Koalisi Sipil di Hari Bhayangkara: Polisi Alat Rakyat, Bukan Partai Cokelat!

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 19:49 WIB

Parkir Ditutup Tenda Didirikan, PN Jaktim Antisipasi Massa Pendukung Sidang Perdana dr Tifa

Parkir Ditutup Tenda Didirikan, PN Jaktim Antisipasi Massa Pendukung Sidang Perdana dr Tifa

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 19:42 WIB

Dari Pajero ke Land Cruiser, Bupati Kuansing Disebut 'Main' Jual Beli Jabatan Sejak 2021

Dari Pajero ke Land Cruiser, Bupati Kuansing Disebut 'Main' Jual Beli Jabatan Sejak 2021

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 19:41 WIB

×