alexametrics

Atase Pendidikan dan Kebudayaan Tokyo dan PPI Jepang Kembangkan Aplikasi Keanggotaan

Fabiola Febrinastri
Atase Pendidikan dan Kebudayaan Tokyo dan PPI Jepang Kembangkan Aplikasi Keanggotaan
Website pelajar Indonesia di Jepang. (Dok: Kemendikbudristek)

Pelajar dan mahasiswa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat akademik yang strategis.

Suara.com - Setiap tahun, Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang (PPIJ) melakukan pendataan pelajar Indonesia di Jepang dari jenjang sekolah menengah ke atas, mahasiswa, hingga mahasiswa pascasarjana, yang tersebar dari Hokkaido hingga Kyushu melalui perpanjangan tangan koordinator daerah (korda) dan juga komisariat (komsat). Namun belum semua mahasiswa Indonesia di Jepang terdata oleh PPIJ.

Untuk itu, PPI Jepang melalui Bidang Media dan Publikasi bekerja sama dengan Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) KBRI Tokyo mengembangkan aplikasi keanggotaan pelajar Indonesia di Jepang berbasis situs web site.ppijepang.org/front/keanggotaan yang mudah diakses oleh pelajar/mahasiswa Indonesia di Jepang.

“Pelajar dan mahasiswa Indonesia merupakan bagian dari masyarakat akademik yang strategis, yang menjadi kontributor dalam peningkatan kerja sama bilateral Indonesia-Jepang. Pendataan ini dapat menjadi sumber informasi bagi Kemendikbudristek bahwa Jepang banyak memiliki universitas unggulan yang dapat mendukung program internasionalisasi dan kebijakan Merdeka Belajar-Kampus Merdeka, seperti program Indonesia International Student Mobility Award (IISMA),” ujar Dubes, Heri saat memberikan sambutan secara virtual, Sabtu (17/7/2021).

Ia berharap, laman tersebut dapat menunjang program peningkatan mahasiswa di Jepang dengan menunjukan profil alumni dan sebaran mahasiswa sehingga data tersebut dapat diberikan kepada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Baca Juga: HAN 2021, Kemendikbudristek Selenggarakan Panggung Anak Indonesia Merdeka

“Saya rasa pendidikan di Jepang tidak kalah dalam segi kualitas dengan negara lainnya, bahkan mungkin lebih baik untuk beberapa bidang. Selain itu, sesungguhnya jauh lebih murah tuition fee-nya dibandingkan Amerika Serikat atau Inggris,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, Atdikbud, Yusli Wardiatno mengatakan, program ini sudah direncanakan sejak tahun lalu, dan pengembangan aplikasinya murni dilakukan oleh anggota PPI.

“Berdasarkan informasi dari Japan Student Services Organization (JASSO), jumlah mahasiswa Indonesia yang terdata hingga tahun 2019 hampir mencapai 7.000 orang, tetapi yang terdata sampai saat ini hanya sekitar 3.000 orang,” ungkap Yusli.

Aplikasi berbasis situs web ini diharapkan dapat memperbaiki kualitas data yang ada, dan melengkapi serta memperbaiki mekanisme yang selama ini dilakukan berupa pengiriman formulir yang diisi.

“Aplikasi ini memudahkan semua. Aplikasi ini juga dapat menyediakan distribusi mahasiswa berdasarkan wilayah tempat studi ataupun berdasarkan bidang keilmuan yang ditekuni," tutur Yusli.

Baca Juga: Kemendikbudristek Luncurkan Program Beasiswa Magang dan Studi Independen Bersertifikat

Sementara itu, Ketua Umum PPI Jepang, Yudi Ariesta Chandra menyampaikan bahwa pangkalan data anggota PPI Jepang ini diperlukan untuk mengetahui jumlah anggota PPI Jepang tanpa harus melakukan survei setiap tahunnya. Kemudian, sistem ini juga penting untuk melakukan berbagai inovasi untuk memajukan organisasi dan meningkatkan kebermanfaatan PPI Jepang.

Komentar