Maya Ghazal, Perempuan Pengungsi Suriah Pertama yang Jadi Pilot di Inggris

Siswanto | BBC | Suara.com

Jum'at, 10 September 2021 | 16:11 WIB
Maya Ghazal, Perempuan Pengungsi Suriah Pertama yang Jadi Pilot di Inggris
BBC

Suara.com - Maya Ghazal adalah satu dari jutaan orang yang harus mengungsi dari Suriah karena perang saudara. Keluarganya mendapatkan suaka di Inggris enam tahun lalu, namun dia sempat mengalami kesulitan untuk mengenyam pendidikan. Kini, dia memiliki ijazah sebagai pilot dan Goodwill Ambassador untuk Badan Pengungsi PBB.

"Setiap kali naik pesawat, saya merasa sangat bersemangat… Saya adalah seorang pilot sekarang. Betapa gila pencapaian ini. Saya adalah orang yang dulu ditolak oleh banyak sekolah."

Maya Ghazal meninggalkan Damaskus bersama ibu dan saudara-saudaranya saat usianya 16 tahun. Mereka berangkat ke Inggris, di mana ayahnya sudah terlebih dulu berada.

Baca juga:

Enam tahun kemudian, Maya adalah pengungsi Suriah pertama yang memenuhi syarat untuk mendapatkan lisensi pilot pesawat pribadi, dan kini menjalani pelatihan untuk lisensi pilot pesawat komersial.

Namun jalan yang harus dilaluinya terjal dan berliku.

Ketika pertama kali tiba di Birmingham, Maya berharap bisa melanjutkan pendidikan. Tapi ia mengaku kesulitan masuk ke sekolah.

"Mungkin karena begitu mereka mengetahui bahwa saya dari Suriah, mereka pikir saya tak berpendidikan atau datang ke Inggris secara ilegal. Padahal tidak begitu," kata perempuan 22 tahun itu kepada BBC.

Patah hati

Ketika Maya tiba di Inggris, dia tidak diwajibkan untuk menempuh pendidikan lanjut atau mendapatkan pelatihan, karena usianya sudah lebih dari 16 tahun.

Dia juga telah menyelesaikan pendidikan menengah di Suriah, sehingga tak ada kewajiban bagi sekolah-sekolah di Inggris untuk menerimanya.

Dia mengaku mendaftarkan diri ke empat lembaga pendidikan dan bersedia melakukan tes fisik dan matematika, namun keempat sekolah itu menolaknya.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, berkata Maya ditolak karena ijazah sekolahnya dari Suriah tak diakui di Inggris.

"Tidak ada satu pun yang mau mendengarkan kisah saya dan ini membuat saya sedih. Saya patah hati setiap kali saya ditolak oleh sekolah," ujar Maya. "Saya merasa tak berguna."

Lebih dari 6,6 juta warga Suriah hidup di dunia sebagai pengungsi, menurut UNHCR. Sekitar 20.000 di antaranya mendapatkan suaka di Inggris.

Baca juga:

Di puncak krisis migran enam tahun lalu, foto-foto para pengungsi yang putus asa dan mendatangi Eropa dalam jumlah besar dipublikasikan oleh berbagai media.

Beberapa menyelipkan pesan-pesan kebencian.

"Karena stereotip yang ada di media, beberapa orang menyangka para pengungsi datang ke negara mereka untuk mencuri," kata Maya.

"Saya tidak mau berpikir seperti itu tentang diri saya sendiri. Pengungsi bukanlah kata yang baik untuk dikaitkan dengan diri seseorang."

'Begitu banyak perubahan'

Saat Maya masih kecil, dia bermimpi memiliki karir di bidang diplomasi, dan ingin belajar ilmu politik untuk menjadi duta besar.

Namun karena konflik berkepanjangan, dia kehilangan kepercayaan kepada negaranya sendiri dan tak lagi ingin mewakilinya.

Meski begitu, Maya mengaku memiliki banyak kenangan masa kecil yang indah di Suriah, dikelilingi keluarga yang tinggal berdekatan.

Ayahnya menjalankan usaha pabrik kain di pinggiran ibu kota. Ketika area tersebut kemudian dipenuhi oleh tentara, Maya berkata sang ayah tak punya pilihan selain meninggalkan negara dan mencari pekerjaan lain.

Ayah Maya kemudian mencari suaka ke Inggris.

Maya, saat itu berusia belasan tahun, melanjutkan pendidikan di Suriah dan harus pindah sekolah tiga kali untuk menyelesaikan sekolah menengah.

Pada 2015, keluarganya memutuskan melakukan perjalanan ke Inggris. Maya yang berharap ada masa depan baru menantinya, justru menemukan pintu-pintu tertutup di hadapannya.

Kesempatannya untuk meraih kesuksesan sangat rendah. Akses pendidikan adalah penghalang bagi 83 juta pengungsi yang ada di seluruh dunia.

Saat anak-anak pengungsi beranjak dewasa, kesempatan-kesempatan untuk mereka berkurang drastis, menurut UNHCR.

Secara global, hanya 3% pengungsi mendapatkan akses ke pendidikan tinggi, jauh lebih rendah dari populasi non-pengungsi yakni sebanyak 37%.

"Penolakan dan anggapan meremehkan secara terus-menerus inilah yang justru memberi saya kekuatan," ungkap Maya.

Perubahan mimpi

Maya akhirnya diterima untuk menempuh pendidikan diploma di bidang teknik.

Saat hendak mendaftar kuliah, Maya dan ibunya pergi ke London dan menginap di sebuah hotel yang terletak di sebelah Bandara Heathrow.

Maya melihat dengan takjub bagaimana pesawat-pesawat bergantian lepas landas dan mendarat. Mimpi baru terbentuk dalam benaknya, dia memutuskan ingin menjadi pilot.

Tentu saja, banyak yang meragukan mimpinya itu. Beberapa teman dan keluarga bahkan berkata, "Kamu perempuan, mengapa ingin menjadi pilot? Siapa yang mau mempekerjakan pilot perempuan?"

Industri penerbangan komersial hingga kini masih didominasi kaum pria. Secara global hanya satu dari 20 pilot adalah perempuan, menurut data Air Line Pilots Association.

Meski begitu, tekad Maya sudah bulat. Dia kemudian diterima masuk sebuah universitas di London untuk belajar teknik penerbangan jurusan pendidikan pilot pada 2017.

Dia mencari pekerjaan paruh waktu, menjadi pembicara di berbagai acara, meminjam uang, dan menabung untuk bisa masuk kokpit.

"Penerbangan pertama saya sangat membuat tertekan dan saya tak menyukainya. Saya merasa sangat kewalahan dan tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya," kenang Maya.

"Telinga dan kepala saya sakit. Kami lepas landas dan saya sama sekali tidak bisa memahami apa yang dikatakan oleh radio."

Namun empat tahun setelah tiba di Inggris, Maya akhirnya berhasil terbang solo. Ketika sedang bersiap lepas landas, namanya disebutkan di radio dari ruang kontrol lalu lintas udara.

Maya merinding mendengarnya.

"Penerbangan pertama saya sangat cepat. Saya memutari bandara lalu mendarat lagi. Itu sangat menyenangkan, dan saya bangga pada diri sendiri."

'Kisah yang menjadi panutan'

Mimpi Maya belum berakhir. Dia masih ingin mendapatkan gelar master dan mengambil lisensi pilot untuk pesawat komersial.

Untuk bisa melakukannya, dia harus mengumpulkan 150 jam terbang. Untuk setiap jam terbang, dia harus mengeluarkan uang sebesar £200 (Rp3,9 juta).

Selain melanjutkan kuliah, Maya juga terus mengkampanyekan hak-hak untuk para pengungsi. Dia berbicara di TED talk dan tahun ini ditunjuk menjadi duta persahabatan (goodwill ambassador) untuk UNHCR.

UNHCR berharap bisa mengajak Maya ke kamp-kamp pengungsian dan bertemu dengan para pengungsi setelah pembatasan perjalanan karena Covid telah diangkat.

Badan PBB ini menargetkan 15% populasi pengungsi bisa melanjutkan pendidikan tinggi hingga 2030.

Maya sendiri meyakini bahwa pendidikan adalah hal yang penting, seperti halnya makanan dan minuman, namun dia berkata prioritas utamanya saat ini adalah mengubah persepsi tentang pengungsi dan mendapatkan lebih banyak dukungan dari masyarakat.

"Membantu pengungsi bisa dengan hal-hal mudah. Dari memberikan kebaikan kecil seperti tersenyum pada mereka, membantu mereka mengenali kota dengan lebih baik, dan membantu mereka mendapatkan keterampilan untuk mendapat pekerjaan."

Dia mengungkapkan kesuksesannya bisa menginspirasi pengungsi lain untuk melewati segala kesulitan dan meneruskan pendidikan.


Tonton juga video ini:


"Saya ingin orang tahu kalau kesuksesan tidak akan diraih dengan mudah. Saya datang dari Suriah, saya datang dari tengah-tengah konflik dan saya seorang pengungsi.

"Saat saya pertama kali sampai di Inggris, saya sangat membutuhkan kisah-kisah sukses dari pengungsi. Saya ingin tahu, apakah ada orang yang telah melalui hal yang sama dengan saya, dan berhasil sukses.

"Menurut saya, sangat penting untuk menggambarkan itu. Untuk menunjukkan kepada mereka, jangan pernah menyerah, percaya pada diri sendiri dan bekerja keraslah."

Dia juga mengatakan, saat orang-orang mendengar ceritanya, mereka terperangah — dan ini, lanjutnya, sangat membantu mengubah persepsi tentang pengungsi.

"Saya distereotip karena saya pengungsi. Jangan berasumsi tentang saya, hanya karena saya seorang pengungsi, Muslim, etnis Arab, dan perempuan," kata Maya.

"Tak satupun stereotip atau label itu mengubah saya. Saya dapat mengendalikan hidup saya sekarang, sama seperti saya dapat mengendalikan pesawat."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

PERADI Profesional Dikukuhkan, Bawa Standar Baru Profesi Advokat

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 23:15 WIB

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

Tinggal di Kawasan Industri, Warga Pasirranji Justru Sulit Dapat Air Layak Konsumsi

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:18 WIB

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

Megawati Terima Utusan Presiden Korsel, Bahas Perdamaian Semenanjung Korea?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:10 WIB

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

Mantan Ketua KPPU Soroti Denda Rp 755 Miliar untuk Pinjol, Sebut Ada Kekeliruan Fundamental

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 22:09 WIB

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

Suasana Hangat Warnai Kunjungan Rajiv ke SLB Lembang, Bantuan PIP hingga Kursi Roda Disalurkan

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:54 WIB

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

Modus Pijat dan Doktrin Patuh Guru, Cara Keji Kiai Ashari Berkali-kali Cabuli Santriwati

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:35 WIB

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

Peringati Usia ke-80, Persit Kartika Chandra Kirana Mantapkan Pengabdian Dalam Berkarya

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:58 WIB

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

Indonesia Darurat Kekerasan Anak? MPR Soroti Celah Sistem Perlindungan Anak

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:47 WIB

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

Polisi Bongkar Gudang Penadah HP Curian di Bekasi, 225 iPhone dan Android Disita

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:38 WIB

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

Yuk Liburan ke Surabaya! Jelajahi Panggung Budaya Terbesar Tahun Ini di Perayaan HJKS ke-733

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 20:30 WIB