Pernah Dua Kali Tes Inggris, Pelaut Indonesia Senang Bisa Kerja di Aussie

Siswanto, ABC

Kamis, 25 November 2021 | 14:31 WIB
Pernah Dua Kali Tes Inggris, Pelaut Indonesia Senang Bisa Kerja di Aussie
Ilustrasi Kapal. (Pixabay/Anestiev)

Suara.com - Setelah tiga bulan berada di laut, Aslam Jusuf sudah tak sabar lagi untuk naik ke darat, menikmati liburan selama dua pekan.

"Sekarang saya lagi melaut. Ikut kapal penangkap ikan milik perusahaan yang berbasis di Darwin," ujar Aslam kepada Farid Ibrahim dari ABC Indonesia.

Pelaut asal Makassar ini bersama seorang rekannya, Arfan Uddin, datang ke Australia sejak beberapa bulan lalu di saat perbatasan Australia belum dibuka untuk warga asing.

"Kami mendapatkan pengecualian [untuk datang ke Australia] karena adanya permintaan tenaga kerja sektor perikanan," kata Aslam.

Bulan Oktober lalu, Seafood Industry Australia (SIA), badan nasional yang membawahi industri pangan hasil laut mengatakan industri perikanan merasakan kekurangan pekerja sebagai dampak dari penutupan perbatasan Australia akibat pandemi COVID-19.

"Kurangnya akses mendapat pekerja awak kapal telah menyebabkan banyak kapal penangkap ikan hanya diikat di dermaga dan tidak dapat beroperasi selama dua hingga tiga bulan. Industri perikanan tidak dapat memenuhi target produktivitas dan mengelola pertumbuhan tanpa tenaga kerja terampil," ujar Veronica Papacosta, Direktur Eksekutif SIA.

"Sederhananya, tanpa tenaga kerja dari luar negeri, industri perikanan tidak akan dapat melanjutkan kegiatannya saat ini."

Veronica mengatakan industri perikanan di Australia tidak mampu menarik tenaga kerja terampil dari dalam negeri, karenanya SIA sangat menyambut baik adanya visa khusus pekerja di bidang pertanian dan perikanan yang dikeluarkan Pemerintah Australia bulan Oktober.

Apa saja yang dilakukan nelayan asal Indonesia di Australia?

Bagi Aslam, yang belum lama menikah, kedatangannya ke Australia bukanlah yang pertama kali.

baca juga

Pada tahun 2016 dia pernah ikut kapal penangkap tuna yang berbasis di Queensland.

"Untuk masuk ke sini begitu banyak persyaratan yang harus kami lengkapi. Termasuk karantina di Sydney dan lanjut lagi karantina di Darwin," tuturnya.

"Saya datang berdua dengan teman saya, kemudian ada satu orang lagi yang menyusul belakangan. Kami bekerja di perusahaan yang sama, hanya kadang beda kapal," kata Aslam.

Pelaut-pelaut ini bekerja pada kapal jenis 'trawl', yaitu kapal penangkap ikan dengan menggunakan jaring. 

Aslam menuturkan kapalnya berangkat meninggalkan Pelabuhan Darwin menempuh perjalanan selama satu setengah hari.

"Operasi membuang jaring mulai dilakukan sekitar Pukul 6 pagi. Jaring ini akan ditarik oleh kapal selama tiga jam," jelasnya.

Setelah itu, para awak kapal beristrirahat sambil menunggu sampai waktunya untuk menarik jaring.

"Ikan-ikan yang terjaring ini akan disortir, dipilih jenis-jenis ikan yang diinginkan. Ikan yang tak diinginkan akan dilepas kembali," katanya.

Ikan-ikan yang sudah dipilih kemudian dimasukkan ke wadah untuk disimpan di ruangan bersuhu 2 hingga 3 derajat.

Pada saat ikan sudah dinaikkan ke kapal, jaringnya kembali dilepas ke laut, dan akan ditarik lagi selama tiga jam.

"Rata-rata kami membuang jaring ini sebanyak tujuh kali selama pergantian hari," jelas Aslam. 

Setelah berada di laut sekitar dua minggu, kapal ini biasanya bongkar muatan di pelabuhan. Lalu, setelah menyiapkan perbekalan, mereka kembali melaut.

"Begitulah pekerjaan jadi nelayan di sini. Durasinya kami lakukan selama tiga bulan. Setelah itu kami mendapatkan jatah cuti dua minggu di darat," kata Aslam.

"Sehabis putaran tiga bulan ini, saya akan mendapat libur selama dua minggu," ucapnya.

Penghasilan bersih sekitar Rp30 juta

Soal bayaran, Aslam menyebutkan gaji yang mereka terima dibayarkan setiap tanggal 8 dan tanggal 22. 

Rekan Aslam, Arfan Uddin, mengatakan penghasilan bersih yang mereka peroleh sekitar Rp30 juta setelah dipotong dengan pengeluaran untuk makan.

Bagi Arfan, tantangan terberat yang dia alami di kapal trawl yakni harus banyak belajar karena ini pengalaman pertamanya.

"Saya harus belajar menjahit jaring, cara menata ikan di wadahnya serta menyusun wadah di palka," ujarnya.

Pria yang telah memiliki seorang anak berusia enam bulan ini mengaku masih harus belajar juga persiapan ketika bongkar muat di pelabuhan.

"Kita harus mengecek jaring, tali kawat penarik jaring dan membongkar puluhan ton ikan," kata Arfan.

Meski kedengarannya mudah untuk datang ke Australia dan bekerja di kapal ikan, namun Arfan menyebut apa yang dialaminya tidaklah segampang itu.

"Ketika saya masih bekerja di Taiwan ada informasi dari agen di Jakarta tentang lowongan kerja di kapal ikan Australia," jelasnya.

"Setelah balik ke Indonesia, ternyata syarat untuk pergi ke Australia harus ada sertifikat bahasa Inggris IELTS," tambahnya.

Karena kemampuan bahasa Inggrisnya sangat terbatas, Arfan bersama Aslam dan rekan pelaut lainnya yakni Harifuddin, Iswan dan Akbar, pergi ke Pare di Kediri, Jawa Timur untuk belajar.

"Setelah belajar sekitar tiga bulan, kami ikut tes IELTS di Jakarta dan tak satu pun di antara kami yang lulus," ujarnya.

Tak berputus asa, anak-anak muda ini kembali ke Pare, lalu setelah tiga bulan mereka ikut tes lagi dan lulus.

Setelah memiliki sertifikat IELTS, kelima pelaut ini pun pulang ke kampung masing-masing, karena tabungan mereka dari hasil bekerja di kapal Taiwan sudah habis.

Sambil menunggu panggilan ke Australia, mereka melakukan berbagai macam pekerjaan. Afran dan Aslam bahkan pergi ke Kendari untuk ikut di kapal ikan tradisional.

"Setelah bekerja sekitar tiga bulan, salah satu dari kami berlima sudah ada panggilan bekerja ke Australia," katanya.

Beberapa bulan kemudian Arfan juga menerima panggilan melalui agennya di Jakarta.

"Masih ada prosedur yang harus dilakukan seperti cek kesehatan, perpanjangan sertifikat pelaut dan tanda tangan kontrak. Sebelum berangkat pun kami harus membayar ke agen sekitar Rp25 juta," jelasnya.

Merasa senang bekerja di Australia

Membandingkan pengalamannya saat bekerja di kapal Taiwan, Aslam menyebut, pekerjaan mereka saat ini jauh lebih menyenangkan.

"Setelah tamat sekolah perikanan di Kabupaten Bone, saat pembagian ijazah, guru kami memperkenalkan salah satu perusahaan yang menyalurkan pekerja ke kapal Taiwan," katanya.

Ada 12 pelaut yang mendapatkan kontrak kerja di kapal Taiwan selama dua tahun. 

"Kami bekerja di kapal ikan dan cumi selama 6 hingga 7 bulan per trip. Tapi setelah satu trip ternyata banyak teman kami yang pulang karena tidak tahan," ucap Aslam.

Ia menyebut seringkali terjadi kekerasan di atas kapal serta gaji yang diterimanya terbilang minim. Mereka bekerja bersama pelaut dari Filipina, China, Vietnam, dan Taiwan.

Dari 12 rekannya, tinggal lima orang yang bertahan di kapal Taiwan tersebut termasuk Aslam sendiri.

Ia menyebutkan kelima orang ini kemudian disalurkan ke kapal ikan di Australia pada tahun 2016 hingga 2019.

"Kami bertahan di kapal Taiwan karena ingin menginjakkan kaki di benua kanguru," ujar Aslam.

"Akhirnya kami berlima berada di Australia bekerja di kapal perikanan," katanya.

Di kapal tempatnya bekerja sekarang, ada tujuh orang yang terdiri atas kapten, mekanik, dan kru.

"Saya berdua orang Indonesia, satu orang Prancis, orang Australia, dan Selandia Baru. Mereka semua baik dan ramah," tuturnya.

"Tapi dibandingkan dengan kerja sebelumnya, kami merasa sangat senang sekarang," ucap Aslam.

Aslam dan Arfan menggunakan fasilitas 'WiFi' di kapal untuk menelepon istri mereka di Indonesia setiap hari.

Pada akhir November ini, ketika trip tiga bulan kapal mereka telah berakhir, Aslam dan Arfan sudah punya rencana jalan-jalan mengisi jatah libur dua minggu.

"Mungkin akan menikmati pemandangan kota Darwin," katanya.

Ikuti artikel lainnya dari ABC Indonesia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

Warga Australia Habisi 2 Anak Kandung dengan Sadis di Bali, Lalu Bunuh Diri

News | Selasa, 15 September 2026 | 16:16 WIB

Hubungan Seks di Halaman Rumah Warga! WNA Australia Dilarang ke Indonesia 10 Tahun

Hubungan Seks di Halaman Rumah Warga! WNA Australia Dilarang ke Indonesia 10 Tahun

News | Rabu, 09 September 2026 | 15:10 WIB

Warga Australia Diblokir Masuk Bali Selama 10 Tahun karena Kasus Asusila

Warga Australia Diblokir Masuk Bali Selama 10 Tahun karena Kasus Asusila

News | Rabu, 09 September 2026 | 14:29 WIB

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

Tampang Pria Australia Pembunuh Ibu Dua Orang Anak Asal Indonesia di Melbourne

News | Selasa, 08 September 2026 | 16:23 WIB

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Australia Tersingkir, Kreator yang Nyinyir Timnas Indonesia U-20 Jadi Sasaran Netizen

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 14:57 WIB

Dibuat Malu Timnas Indonesia U-20, PSSI-nya Australia Ngamuk: Kami Di Bawah Standar

Dibuat Malu Timnas Indonesia U-20, PSSI-nya Australia Ngamuk: Kami Di Bawah Standar

Bola | Selasa, 08 September 2026 | 12:53 WIB

Anak Krakatau dan Lewotobi Erupsi, Pemerintah Australia Ungkap Bahaya Lain yang Mengintai Turis

Anak Krakatau dan Lewotobi Erupsi, Pemerintah Australia Ungkap Bahaya Lain yang Mengintai Turis

News | Senin, 07 September 2026 | 14:23 WIB

Sedang Berlangsung! Link Streaming Timnas Indonesia U-20 vs Australia: Garuda Muda Unggul 1-0

Sedang Berlangsung! Link Streaming Timnas Indonesia U-20 vs Australia: Garuda Muda Unggul 1-0

Bola | Minggu, 06 September 2026 | 17:02 WIB

Mengenal Tiga Karakter Daging Sapi Australia dan Cara Tepat Mengolahnya

Mengenal Tiga Karakter Daging Sapi Australia dan Cara Tepat Mengolahnya

Lifestyle | Jum'at, 04 September 2026 | 23:29 WIB

Impor Logam Mulia RI dari Australia Naik Gila-gilaan, Tembus 2 Kali Lipat

Impor Logam Mulia RI dari Australia Naik Gila-gilaan, Tembus 2 Kali Lipat

Bisnis | Selasa, 01 September 2026 | 16:09 WIB

Terkini

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

6.622 Warga Pekanbaru Alami Gangguan Kesehatan Akibat Kabut Asap Karhutla

Riau | Kamis, 24 September 2026 | 08:04 WIB

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

Iran Tolak Buka Selat Hormuz Jika Perang Berlanjut: Ogah Tunduk ke Amerika Serikat

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

40 Ribu Balita Terserang ISPA Akibat Karhutla! Pemerintah Didesak Beri Perlindungan Ekstra

News | Kamis, 24 September 2026 | 08:03 WIB

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Menyesap Dieng Dari Hulu ke Hilir: Jejak GI Tourism yang Dirintis DJKI

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 08:00 WIB

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

BSI Dorong Produk Halal Lokal Naik Kelas hingga Pasar Global lewat International Expo 2026

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 07:58 WIB

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Tak Terima Hasil Sabung Ayam, Pria di Mesuji Tembak Lawan dari Jarak 2 Meter

Lampung | Kamis, 24 September 2026 | 07:53 WIB

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Di Balik Kemewahan AI Indonesia: Ada Bumi yang Kian Gerah

Your Say | Kamis, 24 September 2026 | 07:50 WIB

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

Sri Lanka Jadi Calon Markas Baru Sindikat Penipuan Siber Internasional di Asia Pasifik

News | Kamis, 24 September 2026 | 07:45 WIB

Masa Kerja Tak Berlaku Lagi, TPP ASN Kota Malang Kini Murni Berdasarkan Kinerja

Masa Kerja Tak Berlaku Lagi, TPP ASN Kota Malang Kini Murni Berdasarkan Kinerja

Malang | Kamis, 24 September 2026 | 07:44 WIB

Kementan Stop Impor, Kini Harga Singkong Mulai Naik

Kementan Stop Impor, Kini Harga Singkong Mulai Naik

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 07:42 WIB

×