alexametrics

Profil Haji Lulung, Karier Politik dan Bisnis yang Menggurita

Rifan Aditya
Profil Haji Lulung, Karier Politik dan Bisnis yang Menggurita
Profil Haji Lulung, Karier Politik dan Bisnis yang Menggurita - Politikus PAN Abraham Lungggana alias Haji Lulung. (Suara.com/Novian).

Sebenarnya belum banyak yang tahu mengenai profil Haji Lulung itu sendiri.

Suara.com - Mungkin tak sedikit publik yang masih ingat dengan sosok Haji Lulung, yang sempat banyak berdebat dengan Basuki Tjahaja Purnama beberapa tahun yang lalu. Dan mungkin juga, sebenarnya belum banyak yang tahu mengenai profil Haji Lulung itu sendiri.

Maka mari kita mengenal lebih dekat dan mengetahui profil Haji Lulung, di bawah ini!

Profil Haji Lulung

Haji Lulung merupakan nama tenar yang dikenal publik Indonesia. Namun sebenarnya nama asli beliau adalah Abraham Lunggana. Pria kelahiran 24 Juli 1959 ini sendiri merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia periode 2019 hingga 2021.

Baca Juga: Sempat Kritis dan Tak Sadarkan Diri, Haji Lulung Mulai Siuman

Beliau sendiri merupakan anak dari Ibrahim Tjilang, yang merupakan anggota tentara BKR berpangkat Peltu. Haji Lulung memiliki satu orang istri bernama Hj. Emma Mutmainah, yang merupakan putri dari KH. Abdullah Syafi'i yang merupakan pendiri Perguruan Islam Asy-Syafiiyyah.

Keduanya dikaruniai tiga orang anak, dengan nama Guruh Tirta Lunggana, Lista Puspita Indah, dan Sutera Cendika Gana Cipta.

Karier Haji Lulung

Sempat terkenal akibat kontroversi yang dulu menyertainya, kini Haji Lulung bergelut di bidang usaha. Setidaknya ia tercatat dalam beberapa persusahaan sebagai pemilik, diantaranya PT. Putraja Perkasa, PT. Tirta Jaya Perkasa, Koperasi Kobita, PT. Tujuh Fajar Gemilang, dan PT. Satu Komando Nusantara.

Tentu saja dengan bisnisnya yang menggurita, ia mendapatkan pemasukan yang cukup besar.

Baca Juga: Dualisme Bamus Betawi, Kubu Lulung Dapat Hibah Rp 3 M, Bang Oding Rp 1,2 Miliar

Untuk karir politiknya sendiri, ia pernah berafiliasi dengan setidaknya tiga partai. Pertama Partai Bintang Reformasi pada tahun 2002, kemudian sempat bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan dan Partai Amanat Nasional, dan belakangan kembali mengenakan seragam dari Partai Persatuan Pembangunan.

Komentar