Kenapa Serangan Terhadap Minoritas Kristen India Meningkat?

Siswanto | Deutsche Welle | Suara.com

Selasa, 04 Januari 2022 | 11:35 WIB
Kenapa Serangan Terhadap Minoritas Kristen India Meningkat?
DW

Suara.com - Eskalasi tindak kebencian terhadap Kristen di India dianggap sebagai respons atas retorika pemerintah. Tujuannya “untuk mengisolasi dan mendemonisasi minoritas demi sebuah negara Hindu,” kata seorang pengamat kepada DW.

India menyaksikan lonjakan angka serangan terhadap perkumpulan warga Kristen, gereja-gereja dan lembaga pendidikan. Gelombang kekerasan itu terutama dilaporkan di sejumlah negara bagian yang dikuasai partai pemerintah, Bharatiya Janata Party (BJP).

Serangan terhadap warga Kristen yang mencakup 2% dari total populasi nasional, diyakini merupakan bagian dari pergeseran luas di India yang turut mengancam keamanan warga minoritas.

Serangan bereskalasi menjelang perayaan Hari Natal 2021 lalu. Aktivis kemanusiaan menuduh pemerintah dan aparat keamanan setempat menutup mata terhadap agresi kelompok nasionalis Hindu.

Kekerasan sektarian Di Agra, sebuah kota tua di Uttar Pradesh, anggota kelompok garis keras membakar patung Santa Claus di luar sebuah sekolah milik kelompok misioner Kristen.

Mereka menuduh para misionaris ingin menggunakan Natal untuk menjaring pengikut baru. Situasi serupa terjadi di Assam, negara bagian di timur Himalaya, yang juga dikuasai BJP.

Di sana, sekelompok demonstran memasuki sebuah gereja pada malam Natal, karena mengklaim adanya umat Hindu di tengah perayaan.

Teror pada malam Natal juga dirasakan warga Kristen di sebuah sekolah di negara bagian Haryana.

Awal Desember silam, sebuah sekolah Katolik di Madhya Pradesh dirusak oleh sekitar 500 ekstremis Hindu.

Pengelola sekolah sempat meminta pengamanan dari kepolisian sebelum serangan terjadi. Para penyerang dipersenjatai batang besi dan batu, sembari meneriakkan "Jai Shri Ram” (Kejayaan untuk Dewa Rama), yang khas bagi kelompok ultranasionalis Hindu.

Serangan-serangan itu bereskalasi seiring dengan kembalinya isu Kristenisasi paksa yang ramai digaduhkan.

Tuduhan itu sendiri berulangkali dibantah dan tidak pernah diproses di pengadilan menyusul absennya bukti-bukti terkait.

Intoleransi sistematis Sebuah riset oleh Forum Persatuan Kristen, Asosiasi Perlindungan Hak Sipil dan lembaga swadaya, Bersatu Melawan Kebencian, mencatat setidaknya 305 insiden kekerasan terhadap minoritas Kristen di India pada sembilan bulan pertama 2021.

"Serangan-serangan ini punya pola yang bisa dikenali, dan upayanya adalah untuk mempolarisasi atmosfer dan mengontrol kaum minoritas,” ujar sejarahwan gereja, Pius Malekandathil, kepada DW.

"Kejahatan keencian seperti menyerang gereja dan lembaga pendidikan adalah upaya mencari perhatian dan menakuti warga minoritas.”

Pakar politik India, Zoya Hasan, mengatakan perundungan terhadap minoritas, terutama warga Muslim, merupakan bagian dari intoleransi agama yang menguat dalam beberapa tahun terakhir.

"Tujuannya jelas. Rencana ini akan mengisolasi dan mendemonisasi minoritas, demi mengonsolidasikan kekuasaan Hindu dan mendirikan sebuah negara Hindu,” kata Hasan.

"Hal ini sudah dipikirkan secara matang dan bukan tanpa tujuan.”

Sejak BJP berkuasa pada 2014, serangan terhadap warga Kristen meningkat drastis.

Menurut Persecution Relief, sebuah LSM yang memantau tindak kekerasan terhadap kaum Kristen di India, tindak kejahatan terhadap warga minoritas tersebut meningkat 60% dari tahun 2016 ke 2019.

Di beberapa negara bagian, gereja-gereja dirusak, perkumpulan jemaat diserbu massa, pendeta dipukuli dan korban yang luka harus dirawat di rumah sakit.

"Pendeta-pendeta Kristen mengunjungi desa di pedalaman Gujarat dan mengonversi keyakinan suku asli Hindu. Mereka yang baru mejadi Kristen kebanyakan saudara dari kelompok yang sebelumnya sudah berpindah agama,” kata Piyush Shash, Ketua Dewan Vishwa Hindu, kepada DW.

UU anti-konversi

Saat ini setidaknya sembilan negara bagian di India sedang menggodok RUU anti-konversi agama.

Belum lama ini, negara bagian Karnataka mengesahkan UU Perlindungan Hak Beragama yang mengancam hukuman 10 tahun penjara bagi kasus konversi "oleh tipuan atau bujukan.”

Adapun di negara bagian paling padat, Uttar Pradesh, yang akan menjalani pemilu dalam waktu dekat, konversi agama dilarang sepenuhnya.

Pernikahan campur juga akan digugurkan jika dilakukan atas niat untuk mengganti agama seseorang.

Oktober silam, dua biarawati Ordo Fransiskan, dibawa paksa ke kantor polisi oleh sekelompok warga Hindu.

Pendeta James Panvelil dari Gereja Santo Georgius, juga meyakini serangan dan aksi perundungan oleh kelompok nasionalis Hindu bukan sekedar kebetulan.

Dia bisa merasakan adanya agenda politik untuk memecah belah masyarakat berdasarkan agama, dan menggunakan isu konversi paksa sebagai umpan.

"Pemilihan legislatif tidak lama lagi,” kata dia kepada DW. "Kami bisa melihat kelas-kelas politik mengejar mimpi mereka mengubah India sebagai sebuah negara Hindu. Lalu di mana kaum Kristen dan muslim akan ditempatkan?” (rzn/pkp)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Awas Dana Asing Kabur! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Turun

Awas Dana Asing Kabur! Bobot Saham Indonesia di MSCI Terancam Turun

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB

Pegadaian Raih Predikat 'Best of the Best' di BUMN Entrepreneurial Marketing Awards 2026

Pegadaian Raih Predikat 'Best of the Best' di BUMN Entrepreneurial Marketing Awards 2026

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB

Menyelamatkan yang Terbuang: Perjalanan Dr. Susana Membangun Pejaten Shelter

Menyelamatkan yang Terbuang: Perjalanan Dr. Susana Membangun Pejaten Shelter

Lifestyle | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:07 WIB

Rapor Penjualan Honda Awal 2026: Wajib Berbenah Biar Nggak Punah

Rapor Penjualan Honda Awal 2026: Wajib Berbenah Biar Nggak Punah

Otomotif | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:04 WIB

Bandara Soetta Perketat Pengawasan Penumpang dari 4 Negara Antisipasi Hantavirus

Bandara Soetta Perketat Pengawasan Penumpang dari 4 Negara Antisipasi Hantavirus

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:04 WIB

Loloskan Motor Listrik MBG, Purbaya Copot Dirjen Anggaran Luky Alfirman

Loloskan Motor Listrik MBG, Purbaya Copot Dirjen Anggaran Luky Alfirman

Video | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:02 WIB

Rio Ferdinand Puji Senne Lammens, Bisa Jadi Kiper Utama Manchester United 10 Tahun ke Depan

Rio Ferdinand Puji Senne Lammens, Bisa Jadi Kiper Utama Manchester United 10 Tahun ke Depan

Bola | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:01 WIB

Fraksi Gerindra DPR: Juri LCC Empat Pilar Harus Minta Maaf ke Ocha

Fraksi Gerindra DPR: Juri LCC Empat Pilar Harus Minta Maaf ke Ocha

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 11:00 WIB

Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp17.501, Beban Rakyat Kian Berat Akibat Harga Pangan yang Naik

Rupiah Tembus Rekor Terburuk Rp17.501, Beban Rakyat Kian Berat Akibat Harga Pangan yang Naik

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 10:59 WIB

9 Pemain Kejar Rekor Gila di Piala Dunia 2026: Dari Messi hingga Kylian Mbappe

9 Pemain Kejar Rekor Gila di Piala Dunia 2026: Dari Messi hingga Kylian Mbappe

Bola | Selasa, 12 Mei 2026 | 10:58 WIB

Terkini

Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari

Sisi Lain Perlintasan Liar: Ladang Ekonomi Warga Bantaran, Ada yang Raup Rp500 Ribu Sehari

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:07 WIB

Donald Trump Ingin Venezuela Jadi Negara Bagian AS, Preisden Delcy Rodriguez Buka Suara

Donald Trump Ingin Venezuela Jadi Negara Bagian AS, Preisden Delcy Rodriguez Buka Suara

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:54 WIB

7 Fakta Penemuan 11 Bayi di Sleman, Berawal dari Kecurigaan Warga hingga Biaya Penitipan Rp 50 Ribu

7 Fakta Penemuan 11 Bayi di Sleman, Berawal dari Kecurigaan Warga hingga Biaya Penitipan Rp 50 Ribu

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:48 WIB

Donald Trump Pertimbangkan Kembali Operasi Militer di Timur Tengah

Donald Trump Pertimbangkan Kembali Operasi Militer di Timur Tengah

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:45 WIB

Menkes Budi Gunadi Sadikin Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Pemalsuan Gelar Akademis

Menkes Budi Gunadi Sadikin Dilaporkan ke Polisi Atas Dugaan Pemalsuan Gelar Akademis

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:34 WIB

6 Fakta Video Dua WNI Ngaku Dijadikan 'Budak' dan Layani 450 Pria di Arab Saudi

6 Fakta Video Dua WNI Ngaku Dijadikan 'Budak' dan Layani 450 Pria di Arab Saudi

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:32 WIB

Petugas Damkar Masih Lakukan Pendinginan di Lokasi Kebakaran Pergudangan Miami Kalideres

Petugas Damkar Masih Lakukan Pendinginan di Lokasi Kebakaran Pergudangan Miami Kalideres

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:24 WIB

Progres MRT Fase 2A Sudah Separuh Jalan, Pramono Targetkan Tersambung hingga Kota Tua pada 2029

Progres MRT Fase 2A Sudah Separuh Jalan, Pramono Targetkan Tersambung hingga Kota Tua pada 2029

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:21 WIB

Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!

Rupiah Anjlok ke Rp17.500, Puan Maharani Ingatkan Pemerintah: Jangan Sampai Indonesia Terpuruk!

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:18 WIB

Waktu Makin Mepet, Puan Buka Suara Soal Arah Pembahasan RUU Pemilu

Waktu Makin Mepet, Puan Buka Suara Soal Arah Pembahasan RUU Pemilu

News | Selasa, 12 Mei 2026 | 12:17 WIB