74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek

Vania Rossa

Kamis, 06 Agustus 2026 | 22:53 WIB
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek
74 Kontraktor SPPG Minta Kepastian Pembayaran dan Penyelesaian Administrasi Proyek. (Dok. ist)
baca 10 detik
  • Forum Kontraktor menagih kepastian pembayaran proyek dapur MBG senilai Rp800 miliar yang tertunda sejak Maret 2026.
  • Sebanyak 74 perusahaan kontraktor menanggung beban biaya pemeliharaan dan tekanan finansial akibat administrasi yang belum rampung.
  • Forum telah mengirimkan enam surat permohonan audiensi kepada Badan Gizi Nasional untuk meminta kejelasan pembayaran proyek tersebut.

Suara.com - Forum Komunikasi Kontraktor Pembangunan Sarana Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Badan Gizi Nasional (BGN) APBN Tahun Anggaran 2025 menagih kepastian pembayaran proyek pembangunan dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang hingga kini belum terselesaikan.

Nilai pembayaran yang masih tertunda diperkirakan mencapai sekitar Rp800 miliar.

Ketua Forum Komunikasi Kontraktor Pembangunan Sarana SPPG BGN APBN TA 2025, Arifin Nababan, mengatakan para kontraktor telah melaksanakan pekerjaan sesuai kontrak dan menggunakan modal sendiri.

Namun, hingga kini mereka masih menghadapi ketidakpastian administrasi dan pembayaran dari pihak pengguna.

"Sejak awal kami berkomitmen mendukung program strategis pemerintah di bidang pemenuhan gizi nasional. Kami melaksanakan pekerjaan berdasarkan kontrak yang sah, menggunakan modal sendiri, memberdayakan tenaga kerja, dan menyelesaikan pekerjaan sesuai target yang telah ditetapkan. Karena itu, yang kami harapkan bukan perlakuan khusus, melainkan kepastian administrasi dan kepastian pembayaran," kata Arifin dalam keterangan tertulis, Kamis (6/8/2026).

Berdasarkan data forum, pembangunan Sarana SPPG melalui mekanisme e-Katalog atau mini kompetisi telah mencakup 315 titik hingga akhir Maret 2026. Dari jumlah tersebut, 66 titik telah selesai 100 persen, sedangkan 249 titik masih dalam proses penyelesaian sesuai kontrak.

Persoalan tersebut disebut melibatkan 74 perusahaan kontraktor yang mengerjakan pembangunan Sarana SPPG di 22 provinsi.

Selain pembayaran yang belum tuntas, forum juga menyoroti sejumlah bangunan yang telah selesai dibangun namun belum dapat diserahterimakan karena proses administrasi belum rampung.

Akibatnya, kontraktor masih harus menanggung biaya pemeliharaan bangunan, keamanan, utilitas, serta operasional lainnya meski pekerjaan konstruksi telah selesai.

baca juga

"Bangunan yang sudah selesai tidak bisa begitu saja kami tinggalkan. Selama proses serah terima belum dilakukan, kami tetap harus menjaga aset tersebut, membayar keamanan, pemeliharaan, utilitas, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya," ujar Arifin.

Forum menilai keterlambatan penyelesaian administrasi pembayaran tidak hanya berdampak pada kontraktor, tetapi juga terhadap pemasok material, vendor jasa, subkontraktor, pelaku UMKM, hingga ribuan tenaga kerja yang terlibat dalam proyek pembangunan Sarana SPPG.

Menurut Arifin, para kontraktor tetap harus memenuhi kewajiban pembayaran kepada pemasok material, pekerja, serta lembaga pembiayaan di tengah belum adanya kepastian pencairan pembayaran proyek.

"Kondisi ini membuat para penyedia berada dalam tekanan yang sangat berat. Kami tetap harus memenuhi kewajiban kepada pekerja, membayar pemasok material, vendor, subkontraktor, hingga memenuhi kewajiban kepada lembaga pembiayaan," katanya.

Forum mengungkapkan telah enam kali mengirimkan surat permohonan audiensi kepada Kepala Badan Gizi Nasional untuk meminta kejelasan mengenai mekanisme penyelesaian administrasi, jadwal serah terima bangunan, dan kepastian pembayaran. Namun, hingga kini mereka mengaku belum memperoleh tanggapan.

Karena itu, forum meminta BGN segera mempercepat penyelesaian administrasi, melakukan serah terima bangunan yang telah selesai, serta membuka ruang dialog dengan para kontraktor.

Meski demikian, Arifin menegaskan pihaknya tetap mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis sebagai salah satu program strategis pemerintah.

"Kami tidak datang untuk mempertentangkan program pemerintah. Kami ingin memastikan Program Makan Bergizi Gratis dan pembangunan Sarana SPPG dapat berjalan dengan baik. Yang kami harapkan adalah kepastian administrasi, kepastian pembayaran, dan ruang dialog yang terbuka agar seluruh persoalan dapat diselesaikan bersama," tutupnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung Tinjau Penanganan Dugaan Keracunan MBG di Kabupaten Jayapura

Wamendagri Ribka Haluk Turun Langsung Tinjau Penanganan Dugaan Keracunan MBG di Kabupaten Jayapura

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 21:02 WIB

Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?

Zulhas Goda Kepala BGN Sudaryono: Belum Sebulan Menjabat Sudah Turun Berapa Kilo?

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 20:03 WIB

Keracunan MBG Marak Lagi, Bisakah Pengelola dan Pejabat Dipidanakan?

Keracunan MBG Marak Lagi, Bisakah Pengelola dan Pejabat Dipidanakan?

News | Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:32 WIB

Terkini

Kualitas Udara di Siak Sangat Tidak Sehat, Sekolah Masih Diliburkan

Kualitas Udara di Siak Sangat Tidak Sehat, Sekolah Masih Diliburkan

Riau | Selasa, 15 September 2026 | 15:55 WIB

Penumpang MRT Dievakuasi Massal, Gerbong Berasap di Stasiun Bukit Gombak

Penumpang MRT Dievakuasi Massal, Gerbong Berasap di Stasiun Bukit Gombak

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:52 WIB

Kini Bela SC Heerenveen, Mees Hilgers Kecewa Gagal Gabung ke Juara 2X Liga Champions

Kini Bela SC Heerenveen, Mees Hilgers Kecewa Gagal Gabung ke Juara 2X Liga Champions

Bola | Selasa, 15 September 2026 | 15:52 WIB

Warga 9 Kelurahan Jakbar dan Jakut Siap-Siap, Pasokan Air Bersih Terganggu hingga Besok

Warga 9 Kelurahan Jakbar dan Jakut Siap-Siap, Pasokan Air Bersih Terganggu hingga Besok

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:51 WIB

Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah

Purbaya Dicopot, DPRD DIY Tantang Menkeu Baru Batalkan Seluruh Pemangkasan Anggaran Daerah

Jogja | Selasa, 15 September 2026 | 15:51 WIB

Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer

Buat Kaget! Hoshi SEVENTEEN Alami Cedera Lutut saat Ikuti Wajib Militer

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 15:50 WIB

MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan

MBG Ikut Dongkrak Harga Pangan, Pedagang Pasar Mulai Tertekan

Bisnis | Selasa, 15 September 2026 | 15:49 WIB

Hakim Kabulkan Praperadilan Roy Suryo, Menkeu Kena Perintah Bayar Ganti Rugi

Hakim Kabulkan Praperadilan Roy Suryo, Menkeu Kena Perintah Bayar Ganti Rugi

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:45 WIB

Suahasil Gantikan Purbaya, DPR: Gaya 'Koboi' Kini Berganti Sosok Pendiam yang Bekerja

Suahasil Gantikan Purbaya, DPR: Gaya 'Koboi' Kini Berganti Sosok Pendiam yang Bekerja

News | Selasa, 15 September 2026 | 15:44 WIB

Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI

Modernisasi Keselamatan Kelautan: Dari Analisis Pascatragedi Menuju Pencegahan Dini Berbasis AI

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 15:41 WIB

×