alexametrics
abcaustralia

Tahanan Imigrasi di Hotel yang Sama dengan Novak Djokovic Angkat Bicara

Siswanto | ABC
Tahanan Imigrasi di Hotel yang Sama dengan Novak Djokovic Angkat Bicara
Ilustrasi imigran [shutterstock]

Sekelompok pengungsi dan pencari suaka hanya bisa memandang keluar dari jendela kamar Park Hotel, Melbourne, saat sekerumunan orang berkumpul memberi dukungan kepada Novak.

Suara.com - Sekelompok pengungsi dan pencari suaka hanya bisa memandang keluar dari jendela kamar Park Hotel, Melbourne, saat sekerumunan orang berkumpul memberi dukungan kepada Novak Djokovic.

Sejak akhir pekan lalu, Novak Djokovic ditahan di hotel tersebut, bersama para pengungsi dan pencari suaka. Bahkan beberapa di antara mereka ada yang sudah ditahan di sana selama sembilan tahun.

Mereka menggambarkan fasilitas di hotel seperti 'peti mati', 'akuarium', 'pusat penyiksaan'. Bahkan pada bulan Oktober lalu, Park Hotel mendapat julukan "Outbreak Hotel" karena menyebarnya penularan COVID-19 di kalangan penghuni.

Para aktivis pembela pengungsi dan pencari suaka mengatakan jendela kamar hotel tersebut sengaja diberi lapisan, dengan karpet yang kotor, sampah jarang dibersihkan, ada bau yang busuk, hingga banyak serangga.

Baca Juga: Andy Murray: Kasus Novak Djokovic Mencederai Dunia Olahraga

Juru bicara dari lembaga yang menangani masalah tahanan imigrasi di Australia, yakni Australian Border Force (ABF) mengatakan kepada ABC bahwa para tahanan mendapatkan "makanan yang layak", tetap bisa melakukan aktivitas, mendapat akomodasi yang bersih dan fasilitas internet.

"Penanganan tahanan di pusat penahanan imigrasi atau di tempat lain dilakukan dengan pertimbangan soal keamanan dan keselamatan seluruh individu, staf dan publik," kata juru bicara tersebut.

Kebanyakan dari tahanan yang berada di hotel tersebut adalah para pengungsi dari negara-negara konflik, seperti Afghanistan dan Myanmar.

Jamal Mohamed yang sudah ditahan di hotel tersebut sejak tahun 2013 berharap Novak Djokovic menggunakan posisinya untuk membantu "mereka mendapatkan kebebasan".

"Sekarang dunia bisa melihat bagaimana kami diperlakukan, namun dunia masih senyap dengan apa yang terjadi pada kami," kata Jamal.

Baca Juga: Novak Djokovic Hadiri Acara di Beograd 24 Jam Usai Dites Positif COVID-19

Jane Salmon, salah satu aktivis yang membantu para tahanan selama 9 tahun terakhir, mengatakan beberapa tahanan masuk ke hotel tersebut saat masih remaja.

Mereka melewati masa-masa remaja dan dibesarkan sebagai tahanan, tanpa tuduhan melakukan tindak kriminal apa pun.

Jane mengatakan setelah sembilan tahun berulang kali mengangkat masalah yang dihadapi mereka, kedatangan Djokovic sekarang seperti "hadiah" karena perhatian sekarang dialihkan ke masalah yang dihadapi para pencari suaka.

"Salah satu pria paling kaya di dunia saat ini berada di tempat yang sama dengan mereka yang sangat terperangkap," katanya kepada ABC.

"Ini menjangkau orang-orang dan banyak pengunjuk rasa Serbia yang berada di luar hotel, yang sebelumnya tidak tahu soal tahanan imigrasi lainnya di sini."

Banyak tahanan menyampaikan simpati dengan apa dialami oleh Djokovic, namun yang lain mengatakan saat dunia mendukung bintang tenis asal Serbia tersebut, nasib mereka tetap tidak mendapat perhatian.

"Memilukan, saat orang ini [Djokovic] baru dua hari di sini dan banyak orang melakukan protes dan khususnya di media yang memberikan perhatian penuh," kata Zahid Hussain kepada ABC. 

"Kami sudah sembilan tahun ditahan. Kami juga manusia. Kami juga memiliki keluarga. Kami juga memiliki kehidupan dan mimpi."

Pemindahan untuk perawatan kesehatan yang tidak pernah terjadi

Zahid, sekarang berusia 33 tahun, dipindahkan dari tahanan di Manus Island dengan alasan kesehatan pada tahun 2019.

Namun sampai sekarang dia belum mendapatkan perawatan sama sekali.

Zahid mengalami masalah gusi yang berdarah yang membuat rasa sakit yang terus menerus.

"Saya tidak bisa mengunyah makanan apa pun, rasanya sakit sekali," katanya kepada ABC, yang juga mengalami susah tidur karena pendarahan dan rasa sakit.

Zahid mengatakan  masalah yang dihadapinya seperti "lingkaran setan", karena pada awalnya dia diberitahu harus membayar sendiri biaya perawatan, padahal ia tidak bekerja karena berada dalam tahanan.

Para aktivis mengumpulkan dana agar Zahid bisa dibawa ke dokter gigi. Namun setelah dananya ada, dia juga masih ditolak untuk mendapatkan perawatan. 

"Mereka mempermainkan kesehatan saya, seluruh kehidupan saya," katanya.

Carolyn Graydon, pengacara di lembaga Asylum Seeker Resource Centre (ASRC) mengatakan apa yang dialami Zahid bukan satu-satunya kasus yang ada.

Dia mengatakan banyak kliennya yang mengalami masalah kesehatan tidak pernah mendapat perhatian atau ditelantarkan.

"Saya kira perlakuan buruk yang diterima para tahanan menunjukkan bahwa nilai mereka sebagai manusia sama sekali tidak dianggap," kata Carolyn kepada ABC.

"Persoalannya adalah kita tidak memiliki perlindungan hak asasi manusia atau persyaratan standar minimum yang diatur hukum Australia untuk bisa membebaskan para tahanan."

Berbeda dengan penjara untuk pelaku kejahatan yang dinyatakan bersalah oleh pengadilan, untuk penahanan imigrasi tidak ada kerangka hukum yang mengaturnya.

Menurut hukum Australia, mereka yang tiba lewat laut untuk mencari suaka harus ditahan dan tidak ada batas sampai kapan penahanan akan dilakukan.

Pemerintah sudah mengatakan kebijakan penahanan dilakukan untuk mencegah penyeludupan manusia dan risiko kematian di laut.

Namun para aktivis mengatakan mencari suaka bukanlah pelanggaran hukum.

"Tidak satu pun di antara mereka menjadi ancaman bagi komunitas. Kebanyakan mereka adalah pengungsi. Tidak ada alasan sama sekali bagi penahanan mereka," ujar Carolyn.

Ia menambahkan masih belum jelas apakah kasus yang dihadapi Djokovic akan membantu nasib para tahanan.

"Sangat mengecewakan, setelah munculnya masalah dengan bintang olahraga seperti Djokovic, masalah tahanan yang sudah berlangsung selama hampir 10 tahun baru muncul di permukaan," katanya.

"Namun masih bagus juga, karena sekarang ada perhatian terhadap tindakan Pemerintah yang sama sekali tidak manusiawi dan tidak adil, dan sebelumnya tidak mendapat perhatian apa pun meski banyak dikritik dunia internasional."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

Komentar