Perang Ukraina: Cek Fakta Tuduhan Rusia Soal Senjata Biologi

Siswanto, BBC

Minggu, 13 Maret 2022 | 14:01 WIB
Perang Ukraina: Cek Fakta Tuduhan Rusia Soal Senjata Biologi
BBC

Suara.com - Pemerintah Rusia mengeklaim bahwa sejumlah senjata biologi sedang dikembangkan oleh laboratorium-laboratorium di Ukraina dengan sokongan Amerika Serikat.

Rusia berkata saat ini bukti-bukti tengah dihancurkan guna menutupi keberadaan program senjata Ukraina.

Namun, AS menegaskan tuduhan Rusia "benar-benar tidak masuk akal" dan Rusia sedang menciptakan narasi bohong untuk membenarkan rangkaian tindakannya di Ukraina.

BBC mengurai klaim-klaim Rusia dan meninjau apakah ada bukti yang mendukung klaim-klaim tersebut.

Tidak ada bukti: AS mendanai riset senjata biologi di Ukraina

Rusia menuduh AS dan Ukraina mengerjakan "patogen-patogen dan berbagai infeksi berbahaya" di 30 laboratorium yang tersebar di seantero Ukraina. Patogen adalah mikroorganisme yang bisa menyebabkan penyakit.

Ukraina punya puluhan laboratorium kesehatan umum yang fokusnya adalah meneliti dan memitigasi ancaman penyakit berbahaya.

Beberapa laboratorium ini menerima pendanaan dan sokongan lain dari AS, Uni Eropa, dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)seperti terjadi di banyak negara lainnya.

Rusia mengeklaim bahwa itu adalah laboratorium-laboratorium "rahasia", namun rincian mengenai keterlibatan AS bisa ditemukan pada laman Kedutaan Besar AS.

Baca juga:

baca juga

Sebagai tambahan, AS mendirikan "Program Pengurangan Ancaman Biologi" pada 1990-an menyusul kejatuhan Uni Soviet guna mengurangi risiko senjata biologi yang ditinggalkan di berbagai negara termasuk Ukraina.

Melalui program ini, beberapa laboratorium tertentu menerima pendanaan dari AS untuk modernisasi dan perlengkapan. Namun, fasilitas tersebut dikelola oleh Ukraina, bukan AS.

Departemen Pertahanan AS telah bermitra dengan Kementerian Kesehatan Ukraina sejak 2005 untuk meningkatkan kualitas laboratorium-laboratorium kesehatan umum Ukraina.

AS menyediakan sokongan teknis dan, menurut Kedutaan AS di Ukraina, "bekerja dengan negara mitra untuk melawan ancaman wabah (yang disengaja, kecelakaan, atau alamiah) penyakit menular paling berbahaya di dunia".

Tidak ada bukti bahwa mereka memproduksi senjata biologi. Pada Januari lalu, AS mengatakan program itu justru berupaya "mengurangi ancaman proliferasi senjata biologi".

Tuduhan tak berdasar Rusia mengenai laboratorium biologi sokongan AS yang beroperasi di negara-negara tetangga rupanya pernah disampaikan di masa lalu.

Pada 2018, ada laporan yang dimuat media pemerintah Rusia bahwa terdapat obat-obatan belum teruji yang diberikan kepada warga di sebuah laboratorium sokongan AS di Georgia.

BBC mengunjungi laboratorium itu dan berbincang dengan sejumlah individu yang terlibat dalam riset tersebut. Hasilnya, BBC tidak menemukan bukti-bukti yang menyokong klaim Rusia.

Tidak ada bukti: Ukraina menghancurkan patogen-patogen untuk menyembunyikan riset ilegal

Para pejabat Rusia juga mengeklaim Ukraina berupaya menyembunyikan bukti kegiatan-kegiatan terlarang.

Baca juga:

Jenderal Igor Kirillov mengatakan dokumen-dokumen yang ditemukan militer Rusia di Ukraina pada 24 Februarihari ketika invasi Rusia dimulai"menunjukkan Kementerian Kesehatan Ukraina bertugas menghancurkan sepenuhnya agen-agen biologi di laboratorium-laboratorium".

"Pentagon tahu bahwa jika dokumen-dokumen ini jatuh ke tangan para pakar Rusia, amat mungkin Ukraina dan Amerika Serikat ketahuan melanggar Konvensi Pelarangan Senjata Biologi dan Racun," paparnya.

BBC News belum dapat memverifikasi secara independen dokumen-dokumen yang dikutip Jenderal Kirillov.

Kepada BBC, WHO mengaku telah menganjurkan Ukraina untuk memusnahkan patogen-patogen dengan ancaman tinggi yang disimpan di laboratorium-laboratorium kesehatan publik guna mencegah "potensi tumpahan" yang bisa menyebarkan penyakit di antara penduduk.

Organisasi itu menyatakan telah berkolaborasi dengan laboratorium-laboratorium kesehatan publik Ukraina selama bertahun-tahun untuk meningkatkan keamanan dan keselamatan biologi serta mencegah "pelepasan patogen-patogen secara disengaja maupun tidak disengaja".

WHO tidak membeberkan kapan rekomendasi itu disampaikan dan apakah itu dipatuhi. WHO juga tidak memberikan rincian mengenai jenis-jenis patogen yang disimpan di laboratorium-laboratorium Ukraina.

AS mengatakan Kementerian Kesehatan Ukraina telah memerintahkan "pemusnahan sampel-sampel secara aman" setelah invasi Rusia guna mengurangi risiko ketika Rusia melancarkan serangan.

"Tidak ada indikasi apapun bahwa laboratorium-laboratorium Ukraina terlibat dalam kegiatan jahat atau ada riset atau pengembangan yang bertentangan dengan Konvensi Senjata Biologi," kata Filippa Lentzos, pakar keamanan biologi dari King's College London.

Dia menambahkan patogen-patogen yang disimpan di laboratorium-laboratorium biologi adalah bakteri dan virus, bukan "cetak biru atau komponen senjata biologi".

"Alasan mengapa mereka menyimpannya di fasilitas yang aman adalah demi alasan keamanan biologi sehingga orang-orang tidak sakit ketika mengaksesnya."

Salah: Banyaknya patogen mengindikasikan riset senjata biologi

Jenderal Kirillov juga mengeklaim bahwa ranah kerja laboratorium-laboratorium Ukraina bersifat militer. Hal itu, menurutnya, dipastikan oleh "tingginya jumlah patogen biologi" yang disimpan di sana.

Akan tetapi, sebagaimana disampaikan Filippa Lentzos, pakar keamanan biologi dari King's College London, argument ini tidak pas dengan logika sains.

"Jumlahnya benar-benar tidak masalah. Seseorang bisa saja mengembangkan patogen di laboratorium" menggunakan jumlah sampel yang sedikit.

"Laboratorium-laboratorium ini mempublikasikan karya ilmiah yang bisa diakses umum. Mereka berkolaborasi dengan mitra-mitra global pada banyak proyek kesehatan umum," papar Brett Edwards, dosen senior di bidang kebijakan dan keamanan publik di University of Bath.

"Mengalokasikan jumlah uang yang besar dan sumber daya secara signifikan untuk melakukan riset senjata biologi sama sekali tidak masuk akal bagi Ukraina dalam konteks strategis mengingat sulitnya menggunakan [senjata biologi] dalam konflik," papar Dan Kaszeta, mantan anggota militer AS dan pakar di bidang pertahanan senjata biologi.

"Persenjataan tempur konvensional jauh lebih mudah dan lebih efektif digunakan untuk negara seperti Ukraina," sambungnya.

Kapan tuduhan serupa disampaikan?

Tuduhan Rusia soal laboratorium-laboratorium Ukraina disuarakan kembali oleh China pekan ini. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, menuding AS menggunakan fasilitas-fasilitas di Ukraina untuk "mewujudkan rencana biologi militer".

Tuduhan-tuduhan serupa juga disampaikan para pejabat Iran dan Suriah.

Meski rangkaian tudingan ini digaungkan di berbagai tempat "sebagian besar narasi Rusia sesungguhnya ditujukan pada penduduk mereka sendiri", menurut Milton Leitenberg, peneliti senior dari Pusat Kajian Internasional dan Keamanan di University of Maryland (CISSM).

Dia menilai klaim-klaim itu disampaikan guna "mengacaukan pikiran para penduduk Rusia" yang tidak punya informasi alternatif dan tidak tahu bahwa tuduhan-tuduhan itu bohong.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Asisten Raffi Ahmad Duduk di Kursi Komisaris Krakatau Posco, Siapa Mufli Budi Ananda?

Asisten Raffi Ahmad Duduk di Kursi Komisaris Krakatau Posco, Siapa Mufli Budi Ananda?

Bisnis | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:58 WIB

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:33 WIB

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:28 WIB

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:24 WIB

Kenakan Baju PSI, Jokowi Beri Sinyal: Kalau Sudah Memakai, Artinya Tahu Sendiri

Kenakan Baju PSI, Jokowi Beri Sinyal: Kalau Sudah Memakai, Artinya Tahu Sendiri

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 17:10 WIB

Bielsa Ngamuk Usai Uruguay Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Maki-maki Diri Sendiri

Bielsa Ngamuk Usai Uruguay Tersingkir dari Piala Dunia 2026, Maki-maki Diri Sendiri

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:21 WIB

Jalan Argentina ke Final Piala Dunia 2026 Terbuka Lebar: Lawan Terpetakan, Ujian Berat Menanti

Jalan Argentina ke Final Piala Dunia 2026 Terbuka Lebar: Lawan Terpetakan, Ujian Berat Menanti

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:21 WIB

Video Pemain Hampir Baku Pukul di Sesi Latihan, Pelatih Panama: Itu Normal

Video Pemain Hampir Baku Pukul di Sesi Latihan, Pelatih Panama: Itu Normal

Bola | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:20 WIB

Blusukan ke ke Sentra UMKM Maliosewu, Jokowi Beli Jajanan SD dari Es Teh hingga Sosis Bakar

Blusukan ke ke Sentra UMKM Maliosewu, Jokowi Beli Jajanan SD dari Es Teh hingga Sosis Bakar

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 13:10 WIB

Survei Terbaru 80,6% Publik Nilai Kinerja Polri Membaik, GIC Sebut Bukti Reformasi Nyata

Survei Terbaru 80,6% Publik Nilai Kinerja Polri Membaik, GIC Sebut Bukti Reformasi Nyata

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 12:05 WIB

Terkini

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

Gubernur Jakarta Siapkan Jalur Bawah Tanah di Bundaran HI Buat Penjalan Kaki

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:33 WIB

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

Janji Pramono Anung di HUT ke-499 Jakarta: Banjir Masih Ada, Tapi Tidak Akan Separah Dulu

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:28 WIB

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

Pramono Ungkap Biang Kerok Kemacetan Jakarta, 8 Juta Orang Keluar-Masuk Setiap Hari

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 23:24 WIB

Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta

Unik! Demi Nonton Mahalini, Warga 'Nangkring' di Atas Mobil Damkar saat Perayaaan HUT Jakarta

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:59 WIB

Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta

Bocah Terpisah dari Ortu hingga Istri Kehilangan Suami Warnai Malam Puncak HUT DKI Jakarta

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:53 WIB

5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!

5 Peserta Latsarmil KDMP Tewas, Koalisi Sipil: Stop Militerisasi Ruang Sipil!

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 22:45 WIB

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:53 WIB

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 20:38 WIB

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:47 WIB

HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno

HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno

News | Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:41 WIB

×