Klaim Tampil di Paris Fashion Week, Gerakan Ekonomi Kreatif Dinilai Mencoreng Muka Indonesia

Chandra Iswinarno, Mohammad Fadil Djailani

Kamis, 17 Maret 2022 | 19:11 WIB
Klaim Tampil di Paris Fashion Week, Gerakan Ekonomi Kreatif Dinilai Mencoreng Muka Indonesia
Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian. [Dokumen DPR]

Suara.com - Gaduh klaim brand lokal tampil di Paris Fashion Week 'Gadungan' terus menuai kontroversi. Selain diprotes kalangan praktisi fashion, seperti desainer kondang Oscar Lawalata dan lainnya, kalangan legislator dan akademisi pun bersikap senada.

Alih-alih promosikan merek lokal, acara yang dihelat Gekraf tersebut dinilai mencoreng muka Indonesia di mata dunia.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian menyebut dirinya sangat menyayangkan ada miskomunikasi perhelatan yang seolah-olah Paris Fashion Week namun ternyata bukan.

"Karena itu juga membawa nama kita (Indonesia), menjadi kurang baik. Tapi saya yakin ke depan memang produk-produk kita membutuhkan even-even dan momen-momen untuk memperkenalkan produk kita keluar, dan ini menjadi PR juga untuk pemerintah dan DPR," ujarnya, Kamis (17/3/2022).

Ia pun mengaku akan mengevaluasi terkait rumor jika kegiatan tersebut menghabiskan APBN dan tidak tepat sasaran.

"Nanti kita evaluasi lah, karena kita juga pada saat ini membutuhkan kesempatan untuk ekspose. Walaupun dengan digital ekonomi yang sedang dikembangkan ini kita sebenarnya bisa saja memasarkan sesuatu tanpa menghadirkan fisiknya. Ini bahan evaluasi kita bersama supaya tidak terjadi lagi hal seperti ini," tuturnya.

Hetifah menyebut, Gerakan Ekonomi Kreatif memang bukan bagian dari pemerintah. Namun, tidak tertutup kemungkinan ada penggunaan dana dari APBN.

Di kesempatan terpisah, pengajar hubungan internasional Dinna Prapto Raharja menyesalkan bahwa Gekraf menggelar acara yang penamaannya justru mengundang protes dari Paris Fashion Week.

"Alih-alih menciptakan brand baru yang membanggakan Indonesia, justru mencoreng nama Indonesia dan tidak produktif bagi dunia fashion dan industrinya di Indonesia," ujar pendiri Synergy Policies.

baca juga

Dirinya pernah melakukan studi kecil untuk menjajaki bentuk promosi yang disarankan oleh pelaku industri fesyen, dan menemukan bahwa fashion itu ada ragam tingkatan kreativitas dan pangsa pasar.

"Mulai dari fesyen barang-barang konsumen yang sifatnya untuk diproduksi massal seperti pakaian dan kelengkapan aksesoris untuk sehari-hari sampai fesyen yang sifatnya untuk diproduksi dalam jumlah terbatas agar unik dan harga jualnya terjaga tinggi," tuturnya.

Ia mencontohkan produk fashion terbatas seperti haute couture, atau tenun ikat dan batik kualitas tinggi.  Menurutnya masing-masing butuh bentuk promosi yang berbeda-beda.

"Yang haute couture butuh fashion show tetapi kemasannya bisa diolah agar menguasai dulu pangsa pasar terdekat. Misalnya saja bisa dibuat fashion show tahunan untuk mendahului program penghargaan musik/film se-Asia seperti Mnet atau Asian Film Awards Academy, atau se-Indonesia. Tapi untuk produk-produk sehari-hari, yang penting justru kerjasama dengan berbagai brand-besar untuk menitipkan desainer-desainer Indonesia memproduksi sebagian koleksi musim panas atau musim semi misalnya," ujarnya.

Dinna berpendapat, bisa juga dikembangkan program promosi di kalangan kaum muda Indonesia di pentas-pentas seni sekolah.  Cara ini bisa dilaksanakan karena sebenarnya sekolah-sekolah seni sebelum pandemi sudah punya program kunjung ke sekolah-sekolah.

Selain itu, dirinya juga menyerukan agar pemerintah semestinya juga perlu konsisten membesarkan nama Indonesia dan Fashion Week-nya.

Ina Raya, desainer yang juga founder komunitas fashionpreneurindo menyayangkan, jika kepergian para brand lokal hanya sekedar mengejar branding atau prestise saja.

"Ini kembali pada kejujuran, kalau memang tidak ke PFW yang asli ya jangan pakai hastag PFW. Bukannya membanggakan tapi malah memalukan," tuturnya.

Ina menyebut sayang sekali jika kepergian mereka hanya sekedar untuk prestis saja, dan tidak untuk branding.  "Jika memang untuk branding produk Indonesia, oke saja, tapi harus dipersiapkan dengan matang," kata dia.

Ia juga menyebut Indonesia sudah punya Indonesian Fashion Week (IFW) yang prestisnya sudah mendekati PFW, dan hal ini tugas Kemenparekraf untuk lebih menggaungkannya lagi.

"Saya yakin IFW bisa kok jadi ajang bergengsi sekelas PFW, apalagi Indonesia punya desainer-desainer bagus, yang kurang cuma publish ke luarnya saja. Ini yang harus ditingkatkan," tuturnya. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Reza Arap Tertawa Ditanya Kisruh Paris Fashion Week: Gue Lagi di Bareskrim

Reza Arap Tertawa Ditanya Kisruh Paris Fashion Week: Gue Lagi di Bareskrim

Entertainment | Kamis, 17 Maret 2022 | 17:43 WIB

Sempat Klaim Ikut Paris Fashion Week, Bos MS Glow Shandy Purnamasari Minta Maaf

Sempat Klaim Ikut Paris Fashion Week, Bos MS Glow Shandy Purnamasari Minta Maaf

Riau | Senin, 14 Maret 2022 | 15:44 WIB

Oscar Lawalata Geram Soal Paris Fashion Week 'Gadungan', Kini Pertanyakan Uang Negara yang Dipakai ke Prancis

Oscar Lawalata Geram Soal Paris Fashion Week 'Gadungan', Kini Pertanyakan Uang Negara yang Dipakai ke Prancis

Entertainment | Senin, 14 Maret 2022 | 16:40 WIB

Terkini

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Dewa United Perkenalkan Eks Timnas, David Singleton jadi Pelatih Baru

Sport | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 23:10 WIB

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Dari Selera Hingga Nutrisi, Riset Ilmiah IPB Siapkan Standardisasi Baru Makanan Kucing

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 22:01 WIB

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

Bamsoet jadi Wantimpres, Bahlil Singgung PAW Anggota DPR

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:55 WIB

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

Anggota Wantimpres Siap Beri Masukan ke Prabowo: Agar Lebih Terarah dan Terukur

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:42 WIB

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

Ariawan Titip Pesan ke KWP 2026-2028: Jangan Pecah, Tetap Kompak dan Solid

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:27 WIB

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Memelihara Ikan Hias Tak Cuma untuk Penghobi, Bisa Jadi Aktivitas Seru Bareng Keluarga

Lifestyle | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:23 WIB

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

Margarito soal Gugatan Ijazah Gibran di MK: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:15 WIB

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

KWP Punya Nahkoda Baru, Ariawan: Jaga Kekompakan dan Solidaritas!

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:08 WIB

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Review The Early Spring: Pahit Manisnya Dunia Kerja Korporat!

Your Say | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 21:00 WIB

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

7 Pekan Pascagempa Nagekeo, Warga Masih Butuh Bantuan dan Pendampingan Psikososial

News | Jum'at, 02 Oktober 2026 | 20:55 WIB

×