Harga Minyak Mentah Naik Pesat, Mengapa OPEC Tidak Menurunkannya?

Siswanto | BBC | Suara.com

Selasa, 10 Mei 2022 | 12:18 WIB
Harga Minyak Mentah Naik Pesat, Mengapa OPEC Tidak Menurunkannya?
BBC

Suara.com - Negara-negara eksportir minyak bumi terbesar di dunia akan bertemu Kamis (05/05). Forum itu bakal berlangsung di tengah seruan global yang menuntut penurunan harga minyak.

Namun para negara anggota organisasi produsen minyak (OPEC+), termasuk Rusia, tidak ingin terburu-buru menyikapi tuntutan ini.

Apa itu OPEC+?

OPEC+ adalah organisasi berisi 23 negara pengekspor minyak bumi yang bertemu setiap bulan di Wina, Austria. Mereka berkumpul secara rutin untuk memutuskan berapa banyak minyak mentah yang akan dimasukkan ke pasar dunia.

Anggota inti dari kelompok ini adalah 13 negara anggota OPEC, yang sebagian besar merupakan negara Timur Tengah dan Afrika.

OPEC dibentuk pada tahun 1960 sebagai asosiasi yang bertujuan memperbaiki pasokan minyak mentah di seluruh dunia, termasuk mengontrol harganya.

Saat ini seluruh negara anggota OPEC memproduksi sekitar 30% minyak mentah dunia atau sekitar 28 juta barel setiap hari. Produsen minyak tunggal terbesar di OPEC adalah Arab Saudi, yang memproduksi lebih dari 10 juta barel per hari.

Baca juga:

Pada 2016, ketika harga minyak sangat rendah, OPEC dan 10 negara produsen minyak yang belum bergabung dengan asosiasi itu mendirikan OPEC+.

Salah satu negara yang bergabung saat itu adalah Rusia, yang juga memproduksi lebih dari 10 juta barel per hari.

Seluruh anggota OPEC+ menghasilkan sekitar 40% dari semua minyak mentah dunia.

"OPEC+ menyesuaikan penawaran dan permintaan untuk menyeimbangkan pasar," kata Kate Dourian, dari Energy Institute.

"Mereka menjaga harga tetap tinggi dengan menurunkan pasokan ketika permintaan minyak merosot," tuturnya.

OPEC+ juga dapat menurunkan harga dengan menempatkan lebih banyak minyak ke pasar, sebagaimana diinginkan oleh importir besar seperti Amerika Serikat dan Inggris.

Bagaimana harga minyak bisa melambung tinggi seperti saat ini?

Pada musim semi 2020, ketika Covid-19 menyebar ke seluruh dunia dan banyak negara menutup perbatasan, harga minyak mentah jatuh karena jumlah pembeli menurun drastis.

"Produsen membayar orang untuk mengambil minyak dari tangan mereka, karena mereka tidak memiliki cukup ruang untuk menyimpan semuanya," kata Dourian.

Sejak saat itu, anggota OPEC+ sepakat memangkas produksi sebesar 10 juta barel per hari demi untuk mendorong harga minyak kembali naik.

Pada Juni 2021, ketika permintaan minyak mentah mulai pulih, OPEC+ mulai secara bertahap meningkatkan pasokan, menempatkan tambahan 400.000 barel per hari ke pasar dunia.

Saat ini mereka memasok nyaris kurang dari dua setengah juta barel minyak per hari dibandingkan pada musim semi tahun 2020.

Ketika Rusia menginvasi Ukraina, harga minyak mentah melonjak hingga lebih dari $100 (Rp1,4 juta) per barel. Hal ini menyebabkan kenaikan harga bahan bakar minyak BBM di SPBU berbagai negara secara signifikan.

"Ketika OPEC+ memangkas pasokan sebesar 10 juta barel per hari pada Mei 2020, mereka memotong terlalu banyak," kata David Fyfe, kepala ekonom di Argus Media.

"Sekarang mereka sangat lamban meningkatkan pasokan dan tidak memperhitungkan efek dari krisis Rusia-Ukraina," ujarnya.

Menurut Fyfe, saat ini muncul ketakutan di antara importir minyak mentah bahwa Uni Eropa akan mengikuti AS dan memberlakukan embargo pada impor minyak dari Rusia.

Eropa saat ini mengimpor lebih dari dua setengah juta barel minyak mentah per hari dari Rusia.

"Ancaman embargo minyak Rusia telah membuat pasar cemas karena dapat menyebabkan tekanan besar pada jumlah pasokan," tuturnya.

Mengapa OPEC+ tidak meningkatkan produksi minyak?

Presiden AS, Joe Biden, berulang kali mengimbau Arab Saudi untuk meningkatkan produksi minyaknya. Namun permintaan Biden tidak berhasil.

Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, juga meminta Arab Saudi dan Uni Emirat Arab untuk meningkatkan produksi. Permintaan itu juga bertepuk sebelah tangan.

"Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki cadangan minyak, tapi mereka menolak meningkatkan jumlah produksi. Mereka tidak ingin didikte oleh Barat," kata Kate Dourian.

"Mereka mengatakan bahwa kesenjangan antara pasokan dan permintaan menyempit dan harga minyak yang tinggi hari ini hanya mencerminkan kepanikan dari importir," tuturnya.

Negara-negara anggota OPEC+ lainnya merasa sulit untuk meningkatkan produksi minyak mereka.

"Produsen seperti Nigeria dan Angola telah mengurangi kuota produksi sebesar satu juta barel per hari selama setahun terakhir," kata David Fyfe.

"Investasi turun selama pandemi dan kilang minyak di beberapa lokasi belum terpelihara dengan baik. Mereka sekarang merasa tidak dapat benar-benar meningkatkan produksi secara penuh," ujarnya.

Bagaimana sikap Rusia?

OPEC+ juga harus menghormati keinginan Rusia karena negara ini merupakan satu dari dua mitra terbesar dalam aliansi tersebut.

"Rusia senang dengan harga pada tingkat ini. Mereka tidak akan mendapatkan keuntungan apapun jika harga turun," kata Carole Nakhle, CEO Crystol Energy.

"OPEC ingin menjaga hubungan baik dengan Rusia, jadi mereka kemungkinan besar akan melanjutkan kesepakatan yang mereka buat tahun lalu, yaitu meningkatkan pasokan minyak mentah secara bertahap sejak saat ini hingga September nanti," ujar Nakhle.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Usut Suap Bea Cukai, KPK Bedah Misteri Kontainer yang Mengendap 30 Hari di Tanjung Emas

Usut Suap Bea Cukai, KPK Bedah Misteri Kontainer yang Mengendap 30 Hari di Tanjung Emas

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:03 WIB

Platform Resep Gerak Berbasis Ilmiah Hadir, Bantu Masyarakat Hidup Aktif dan Aman

Platform Resep Gerak Berbasis Ilmiah Hadir, Bantu Masyarakat Hidup Aktif dan Aman

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 16:55 WIB

Luhut Klarifikasi soal Tugas Bea Cukai Diganti BUMN Ekspor PT DSI

Luhut Klarifikasi soal Tugas Bea Cukai Diganti BUMN Ekspor PT DSI

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:58 WIB

Bekal Penting Sebelum ke Luar Negeri: Cara Calon Pekerja Migran Hindari Jeratan Love Scam

Bekal Penting Sebelum ke Luar Negeri: Cara Calon Pekerja Migran Hindari Jeratan Love Scam

Your Say | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:55 WIB

Membaca Strategi De la Fuente, Timnas Spanyol Akan Main Bertahan di Piala Dunia 2026?

Membaca Strategi De la Fuente, Timnas Spanyol Akan Main Bertahan di Piala Dunia 2026?

Bola | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:52 WIB

10 Raksasa Sawit Diduga Manipulasi Ekspor, Nama-nama Konglomerat Ini Diincar Kejagung?

10 Raksasa Sawit Diduga Manipulasi Ekspor, Nama-nama Konglomerat Ini Diincar Kejagung?

Bisnis | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:51 WIB

Kabar Gembira! 93 Sekolah Rakyat Rampung Juni, Gus Ipul Siapkan Lowongan bagi 8.000 Tenaga Pendidik

Kabar Gembira! 93 Sekolah Rakyat Rampung Juni, Gus Ipul Siapkan Lowongan bagi 8.000 Tenaga Pendidik

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:48 WIB

Peta Kekuatan Grup F Piala Dunia 2026, Timnas Belanda Dikepung 3 Kuda Hitam

Peta Kekuatan Grup F Piala Dunia 2026, Timnas Belanda Dikepung 3 Kuda Hitam

Bola | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:35 WIB

Demi Bisa Ikut Sidang Skripsi, Mahasiswi di Kampus Swasta Nekat Tawarkan Staycation ke Dosen

Demi Bisa Ikut Sidang Skripsi, Mahasiswi di Kampus Swasta Nekat Tawarkan Staycation ke Dosen

Entertainment | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:31 WIB

Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri

Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:21 WIB

Terkini

Usut Suap Bea Cukai, KPK Bedah Misteri Kontainer yang Mengendap 30 Hari di Tanjung Emas

Usut Suap Bea Cukai, KPK Bedah Misteri Kontainer yang Mengendap 30 Hari di Tanjung Emas

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 17:03 WIB

Kabar Gembira! 93 Sekolah Rakyat Rampung Juni, Gus Ipul Siapkan Lowongan bagi 8.000 Tenaga Pendidik

Kabar Gembira! 93 Sekolah Rakyat Rampung Juni, Gus Ipul Siapkan Lowongan bagi 8.000 Tenaga Pendidik

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:48 WIB

Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri

Tepis Isu Pesanan, Dasco Tegaskan Revisi UU Polri Bukan Demi Jabatan Kapolri

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:21 WIB

Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama

Konflik Papua Tak Kunjung Usai, Komnas HAM Desak Tiga Pihak Ini Segera Duduk Bersama

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:17 WIB

Jerit Keadilan Keluarga M Berlian di DPR: Vonis Seumur Hidup Cuma Modal Lie Detector!

Jerit Keadilan Keluarga M Berlian di DPR: Vonis Seumur Hidup Cuma Modal Lie Detector!

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 16:06 WIB

Kronologi Lengkap Oknum Peneliti Indonesia Diduga Palsukan Riset Demi 'Travel Grant'

Kronologi Lengkap Oknum Peneliti Indonesia Diduga Palsukan Riset Demi 'Travel Grant'

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:54 WIB

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

Penjajahan Gaya Baru? PSN Papua Berpotensi Singkirkan Warga Lokal

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:47 WIB

Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha

Pramono Wukuf di Arafah, Wagub Rano Karno Pimpin Jakarta Rayakan Idul Adha

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:42 WIB

Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu

Final dan Mengikat, Dasco Pastikan Putusan MK Soal Kuota Perempuan 30 Persen Masuk Revisi UU Pemilu

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:41 WIB

Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat

Mendagri Serahkan Hewan Kurban Kemendagri dan BNPP, Bentuk Kepedulian Sosial Kepada Masyarakat

News | Selasa, 26 Mei 2026 | 15:39 WIB