Sejarah Hari Raya Galungan dan Perhitungan Tanggal Peringatannya

Farah Nabilla

Rabu, 08 Juni 2022 | 19:00 WIB
Sejarah Hari Raya Galungan dan Perhitungan Tanggal Peringatannya
Sejarah Hari Raya Galungan - Pemuka Agama Hindu memercikkan air suci saat persembahyangan Hari Raya Galungan di Pura Aditya Jaya, Rawamangun, Pulogadung, Jakarta, Rabu (10/11/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Hari Raya Galungan merupakan perayaan yang dilakukan oleh masyarakat umat Hindu di Bali. Seperti apa sejarah Hari Raya Galungan hingga jadi peringatan sakral bagi umat Hindu?

Galungan identik dengan Penjor yang dipasang di tepi jalan dan menghiasi jalan raya. Penjor adalah bambu yang dihias untuk perayaan Galungan. Di masa kini, hari raya Galungan merupakan salah satu tujuan pariwisata. Pulau Bali disorot sebagai pulau yang indah sekaligus religius. 

Sejarah Hari Raya Galungan

Sejarah Hari Raya Galungan adalah ketika umat Hindu memperingati terciptanya alam semesta. Oleh karena itulah Hari Raya Galungan identik dengan hiasan yang terbuat dari alam. Masyarakat mensyukuri perayaan ini untuk bersyukur atas terciptanya alam semesta.

Selain itu, perayaan ini juga merayakan kemenangan bahwa kebaikan telah mengalahkan kejahatan. Galungan merupakan kata dari bahasa Jawa Kuno yang berarti bertarung. Galungan bisa disebut dengan dungulan yang artinya menang. Perbedaan penyebutan Wuku Galungan di Jawa dengan Wuku Dunguan di Bali adalah memiliki arti yang sama yakni yang ke sebelas.

Belum diketahui kapan Hari Raya Galungan pertama kali dilaksanakan. Menurut Drs I Gusti Agung Gede Putra selaku Mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddhe dari Departemen Aama RI memperkirakan perayaan Hari Raya Gulungan sudah dirayakan oleh umat hindu di seluruh Indonesia sebelum populer di Pulau Bali.

Pendapat lain yakni berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa. Menurut lontar tersebut, Hari Raya Galungan pertama kali dirayakan di hari purnama Kapat atau Budha Kiwon Dungulan tahun 882 Masehi atau tahun saka 804. Lontar tersebut berbunyi “Punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya.”

Artinya: “Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka.”

Lontar merupakan daun yang diibaratkan sebagai pustaka suci yang disucikan atau kitab pedoman dan disimpan oleh umat Hindu.

Galungan dikaitkan dengan legenda peperangan Bhatara Indra yang melambangkan Dharma melawan Mayadenawa yang melambangkan kebatilan. Mayadenawa adalah raksasa yang sangat ditakuti masyarakat. Ia ingin semua orang tunduk dengannya dan menyembahnya.

Masyarakat dilarang sembahyang ke Pura untuk menyembah Dewa. Dewa-dewa pun geram dengan perilaku Mayadenawa yang sewenang-wenang dan akhirnya mengutus Bhatara Indra untuk melawannya dan turun ke dunia.

Ketika Bhatara Indra bertemu Mayadenawa, Bhatara mengatakan bahwa tindakan Mayadenawa salah. Mayadenawa tidak terima dan terjadilah peperangan. Namun kesaktia Bhatara Indra membuatnya menjadi pemenang. Mayadenawa pun tewas. Hari kemenangan tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Raya Galungan.

Hari Raya Galungan dirayakan dua kali dalam satu tahun. Jarak antara Galungan dan Kuningan sendiri adalah 10 hari. Perhitungan tanggal perayaan tersebut berdasarkan kalender Bali. Galungan dilaksanakan setiap hari Rabu pada Dungulan, sementara Kuningan setiap hari Sabtu pada wuku Kuningan. Contohnya seperti Galungan pada tahun 2012 dirayakan pada 1 Februari 2012 dan 29 Agustus 2012. Kuningan di tahun 2012 telah dirayakan pada 11 Februari dan 8 September 2012.

Demikian sejarah Hari Raya Galungan yang saat ini populer dan identik di Bali. Perayaan ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat karena alam semesta dan seluruh isinya. Oleh karena itulah, perayaan ini identik dengan alam.

Kontributor : Annisa Fianni Sisma

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sembahyang Hari Raya Galungan Usai, Mangir Lor Langsung Diguyur Berkat lewat Hujan

Sembahyang Hari Raya Galungan Usai, Mangir Lor Langsung Diguyur Berkat lewat Hujan

Jogja | Rabu, 08 Juni 2022 | 17:22 WIB

Perayaan Hari Raya Galungan di Sejumlah Daerah

Perayaan Hari Raya Galungan di Sejumlah Daerah

Foto | Rabu, 08 Juni 2022 | 16:27 WIB

Potret Miris Perantau Yang Tak Bisa Pulang Saat Galungan, Makan Nasi Beserta Kertas Tulis Lauk

Potret Miris Perantau Yang Tak Bisa Pulang Saat Galungan, Makan Nasi Beserta Kertas Tulis Lauk

Bali | Rabu, 08 Juni 2022 | 15:30 WIB

Sebagian Wilayah NTB Berpotensi Diguyur Hujan di Hari Raya Galungan

Sebagian Wilayah NTB Berpotensi Diguyur Hujan di Hari Raya Galungan

Bali | Rabu, 08 Juni 2022 | 10:24 WIB

Tradisi Mepatung Daging Babi Menjelang Galungan, Urunan dari Warga Untuk Warga

Tradisi Mepatung Daging Babi Menjelang Galungan, Urunan dari Warga Untuk Warga

Bali | Selasa, 07 Juni 2022 | 17:26 WIB

Makna Dan Tujuan Ritual Penampahan Galungan Bagi Umat Hindu Bali

Makna Dan Tujuan Ritual Penampahan Galungan Bagi Umat Hindu Bali

Bali | Selasa, 07 Juni 2022 | 11:02 WIB

Harga Cabai Meningkat Jelang Galungan, di Buleleng Capai Rp 150 Ribu Per Kilogram

Harga Cabai Meningkat Jelang Galungan, di Buleleng Capai Rp 150 Ribu Per Kilogram

Bali | Senin, 06 Juni 2022 | 19:00 WIB

Terkini

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:48 WIB

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:35 WIB

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:54 WIB