Kenapa Sih Turis Asing Suka Berfoto Bugil di Tempat Suci di Bali?

Siswanto, ABC

Sabtu, 27 Agustus 2022 | 17:21 WIB
Kenapa Sih Turis Asing Suka Berfoto Bugil di Tempat Suci di Bali?
Ilustrasi Bali (Elements Envato)

Suara.com - Ada banyak perasaan yang muncul saat kita menginjakkan kaki di tempat yang dianggap suci atau sakral.

Mungkin tiba-tiba ingin menangis karena begitu karisma tempat itu, atau segera memegang dan merasakan material bangunan yang sudah berusia ratusan tahun. Atau mungkin ingin hanya ingin berbisik berbagi kekaguman kita dengan orang di sebelah.

Tapi keinginan untuk telanjang? Ini jadi tren aneh yang melanda Asia Tenggara yang dilakukan sejumlah turis dari negara-negara Barat.

Beberapa dari mereka berfoto dengan pose telanjang di monumen, kuil, dan tempat yang dianggap suci atau keramat.

Seperti yang dikatakan Ravinjay Kuckreja, peneliti agama Bali di Universitas Hindu Negeri Denpasar Bali, yang mengatakan aksi foto bugil di lokasi-lokasi ini "terus berulang."

Menurutnya sebagian besar foto bugil itu tampaknya dibuat oleh 'influencer', yang "dengan sengaja melakukannya demi konten", tapi ada juga yang bukan 'influencer'.

"Banyak dari mereka sepertinya adalah yang bergerak di bidang kesehatan atau aktor atau influencer yoga," katanya.

Dia memberikan beberapa contoh, termasuk 'influencer' Rusia dideportasi dari Bali bulan Mei kemarin, setelah berpose telanjang di depan pohon yang dianggap keramat berusia 700 tahun.

Sebulan sebelumnya, seorang aktor dan blogger kesehatan asal Kanada juga menyinggung perasaan orang Bali dan Mori saat ia menyiarkan langsung dirinya melakukan Haka dalam keadaan telanjang di puncak Gunung Batur.

baca juga

Pria itu juga dideportasi.

Ravinjay mengatakan perilaku ini juga mengundang keras dari pemerintah setempat.

"

"Pertanyaan besarnya adalah mengapa [ini] terus terjadi lagi dan lagi?" katanya.

"

Mengapa berfoto telanjang di tempat suci?

Ravinjay mengatakan sejak 2018, kelakuan turis Eropa dan Australia menambah daftar aktivitas tidak sensitif budaya yang meningkat di Bali, yang kemudian mereka dokumentasikan atau diunggah secara online.

Ada insiden seperti "pasangan Ceko mencipratkan air suci ke punggung seseorang pada tahun 2019", katanya. Atau warga Australia Barat telanjang mengendarai skuter masuk ke kolam pada tahun yang sama, dan pada tahun 2021 influencer Rusia lainnya berpose bugil di atas seekor gajah. .

Menurutnya yang jadi masalah bukan soal telanjangnya.

"

"Tapi telanjang di kuil dan tempat suci, itu yang sangat dilarang."

"

"Biasanya, Anda harus masuk dengan sarung dan selempang untuk menutup tubuh bagian bawah Anda ... Ini pada dasarnya untuk menghormati roh atau dewa dan leluhur yang diyakini mendiami tempat-tempat seperti itu."

Tapi insiden turis berfoto bugil di tempat-tempat yang dianggap suci tidak hanya terjadi di Indonesia.

Ada serangkaian kasus, berakhir dengan deportasi, yang juga dilakukan turis dengan bertelanjang di tempat-tempat suci di Kamboja dan Malaysia.

Ben Groundwater, seorang 'travel writer' dan mantan pemandu wisata, mengatakan perilaku seperti ini bukanlah hal baru.

Ketika dia menjadi pemandu di awal tahun 2000-an, ada "banyak perilaku buruk" di antara turis, termasuk "banyak orang telanjang di tempat-tempat yang tidak seharusnya,” katanya.

"Tapi tidak begitu jelas [di mata publik]. Saat itu tidak ada media sosial [jadi] tidak ada yang diunggah dan tidak ada yang dipulangkan."

Perilaku tersebut masuk ke dalam kategori "tindakan yang tidak berbahaya, tetapi ternyata cukup bermasalah".

Ben percaya ada dua kelompok orang yang berbeda di sini.

Ada kelompok yang dia anggap kurang dalam "perspektif": "hanya pelancong biasa yang melakukan hal-hal gila dan konyol ketika mereka bepergian dan hal-hal yang mungkin tidak sopan.”

Mereka mungkin tidak mempertimbangkan dampak dari kelakuan mereka.

Kemudian ada kelompok influencer, yang "sangat fokus dan haus untuk mendapatkan perhatian [dan] lebih banyak pengikut. Apa yang mereka lakukan adalah untuk memberikan kesan kepada para pengikutnya [dan] demi membuat konten untuk dibagikan,” katanya.

"Saya merasa sangat sulit percaya kalau orang-orang ini tidak tahu bahwa yang mereka lakukan adalah salah", katanya.

"

"Siapa pun yang bepergian tahu bahwa jika kita pergi ke tempat ibadah, kuil atau gereja atau apa pun, ada hal-hal tertentu yang perlu dilakukan untuk menunjukkan rasa hormat."

"

"Dan jelas salah satunya adalah tidak melepas semua pakaian Anda dan berfoto."

Ravinjay setuju jika media sosial telah mendorong beberapa pelancong untuk menggunakan negara asing "sebagai panggung untuk diri mereka sendiri".

Tapi dia percaya ada motivasi lain yang lebih mendesak: kurangnya pendidikan dan gelembung perjalanan mandiri.

"Orang-orang tidak lagi menggunakan pemandu wisata lokal," katanya.

"Mereka tinggal sendiri di Airbnb atau vila yang dikelola secara lokal. Mereka menggunakan aplikasi transportasi online. Mereka tidak berbicara dengan penduduk lokal mana pun. Mereka tidak memiliki supir atau kontak apa pun, jadi mereka tidak benar-benar tahu apa yang terjadi. Mereka tidak benar-benar tahu apa yang ada di sekitar mereka," katanya.

Anggapan hukuman bisa disogok

Ravinjay percaya orang-orang dari negara-negara Barat kadang-kadang memandang penegakan hukum di negara-negara Asia Tenggara kurang professional.

Dia mengatakan ada mentalitas di kalangan turis asing jika hukum dapat dihindari dengan sogokan di tempat-tempat seperti Bali.

"

"[Mereka pikir] bisa lolos dari segalanya, selama mau sedikit keluar uang atau bertemu dengan orang yang tepat", katanya.

"

Namun faktanya, otoritas di banyak tempat, termasuk di Bali, bisa lebih konservatif daripada di beberapa negara Barat.

Deportasi akibat perilaku yang tidak pantas seperti 'selfie' telanjang di tempat-tempat keramat adalah bagian dari "Pemerintah Indonesia turun tangan, seolah mengatakan, 'Hai, kami ada dan kami memiliki hukum, dan kami dengan senang hati akan menegakkannya', jelas Ravinjay.

“Sekarang, Kemenkum HAM Indonesia mendeportasi orang sebagai bentuk sikap atau pernyataan."

"

"Anda tidak bisa pergi ke negara asing seperti Indonesia dan melakukan apa pun yang ingin Anda lakukan."

"

Gubernur Bali, Wayan Koster, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa lebih "penting melestarikan budaya dan menghormati martabat Bali" daripada menoleransi perilaku seperti foto telanjang di tempat-tempat suci untuk dolar turis.

Ravinjay mengatakan sebagai turis yang baru pertama kali mengunjungi Bali, banyak orang Australia yang pernah atau tahu sedikit tentang Bali, termasuk soal adat dan tradisinya.

"Mereka agak mampu membedakan [situs] mana yang suci dan mana yang tidak .. Mereka jauh lebih sadar," katanya.

Mereka yang "benar-benar asing dengan budaya Asia" lebih cenderung menunjukkan perilaku yang dianggap tidak sopan, katanya.

"Ketika mereka datang, mereka tidak benar-benar tahu ... batas antara apa yang suci dan tidak."

Tapi menurut Ravinjay jumlah wisatawan yang bepergian dan tetap menghormati budaya Bali masih jauh lebih banyak daripada yang tidak.

Ia hanya ingin perilaku buruk wisatawan yang ada dihilangkan, selain juga memastikan orang-orang yang bepergian ke Bali atau tujuan luar negeri lainnya untuk "menghormati budaya lokal dan juga belajar sesuatu yang baru.”

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari ABC News.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Mengenal Istilah 'Bangsa Kepiting', Analogi yang Dipakai Prabowo untuk Sifat Saling Menjatuhkan

Mengenal Istilah 'Bangsa Kepiting', Analogi yang Dipakai Prabowo untuk Sifat Saling Menjatuhkan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:51 WIB

Bukan Teror Tembakan! BGN Pastikan Kaca Kantor Pecah Akibat Cuaca Panas Ekstrem

Bukan Teror Tembakan! BGN Pastikan Kaca Kantor Pecah Akibat Cuaca Panas Ekstrem

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:47 WIB

KPK Ungkap Modus Eks Bupati Kuansing Sunat SHU Petani KUD untuk Suap Menteri Kehutanan

KPK Ungkap Modus Eks Bupati Kuansing Sunat SHU Petani KUD untuk Suap Menteri Kehutanan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:41 WIB

Anggaran Seret, Pemerintah Larang Pemda Rumahkan PPPK

Anggaran Seret, Pemerintah Larang Pemda Rumahkan PPPK

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:39 WIB

Tarik-tarikan HP dengan Tentara di Kejagung, Wartawan Tempo Alami Intimidasi dan Trauma

Tarik-tarikan HP dengan Tentara di Kejagung, Wartawan Tempo Alami Intimidasi dan Trauma

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:35 WIB

Mendagri Tegaskan Komitmen Integrasikan Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia

Mendagri Tegaskan Komitmen Integrasikan Data Kemendagri ke Satu Data Indonesia

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:30 WIB

Sempat Dijaga Ketat Brimob, Situasi Mabes Polri Kamis Malam Kini Terpantau Normal

Sempat Dijaga Ketat Brimob, Situasi Mabes Polri Kamis Malam Kini Terpantau Normal

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Gugurnya Tiga Polisi di Katingan

Prabowo Sampaikan Belasungkawa atas Gugurnya Tiga Polisi di Katingan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Prabowo Ungkap Temuan Harta Karun Baru dari BRIN dan TNI: Cadangan Emas Raksasa di Papua

Prabowo Ungkap Temuan Harta Karun Baru dari BRIN dan TNI: Cadangan Emas Raksasa di Papua

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:19 WIB

Percepatan Program Sekolah Rakyat, Wamensos: Tahapan Tetap Sesuai Aturan

Percepatan Program Sekolah Rakyat, Wamensos: Tahapan Tetap Sesuai Aturan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 19:18 WIB

×