Suara.com - Pengungkapan kasus pembunuhan berencana terhadap Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J menjadi ujian tersendiri bagi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Dalam sebuah wawancara dengan Kompas TV, Kapolri secara blak-blakan mengaku menemui sejumlah kesulitan dalam mengungkap kasus ini.
Apa saja tantangan yang dihadapi Kapolri dalam kasus yang meyeret Ferdy Sambo ini? Berikut ulasannya.
Sempat dibohongi Ferdy Sambo
Dalam wawancara yang diunggah di kanal YouTube Kompas TV tersebut, Kapolri menyatakan dirinya sempat dikelabui oleh Ferdy Sambo.
Ia mengatakan, sempat beberapa kali memanggil mantan Kadiv Propam Mabes Polri itu, ketika kasus kematian Brigadir J makin mencuri perhatian publik.
Saat pertama kali dipanggil, Ferdy Sambo mengungkapkan peristiwa kematian Brigadir J di rumah dinasnya berdasarkan skenario awal yang dibuat oleh Sambo.
“Saya tanya apakah terlibat atau tidak, karena saya akan usut kasus ini," ujar Kapolri menerangkan dan memastikan jika ia sudah melakukan komunikasi awal pada Ferdy Sambo.
Kapolri sempat memercayai cerita Sambo tersebut. Sebab menurut Kapolri, Ferdy Sambo sempat bersumpah atas cerita yang ia sampaikan sebelumnya.
Kebohongan Ferdy Sambo terungkap
Setelah berani bersumpah atas skenario awal yang ia buat, kebohongan Ferdy Sambo akhirnya terungkap setelah Richard Eliezer atau Bharada E ditetapkan sebagai tersangka.
Setelah menyandang ststus tersangka, pengakuan Bharada E berubah. Terlebih saat itu Bharada E telah mengajukan diri sebagai justice collaborator. Ternyata, keterangan yang diungkap Bharada E bertentangan dengan cerita yang disampaikan Ferdy Sambo kepada Kapolri.
Kapolri lalu kembali memanggil Ferdy Sambo untuk mempertanyakan lagi peristiwa yang sebenarnya terjadi. Setelah beberapa kali didesak, akhirnya Ferdy Sambo mengaku.
Penyidik diintimidasi
Selain sempat dikelabui oleh Ferdy Sambo, Kapolri mengaku sejumlah penyidik dalam kasus pembunuhan berencana Brigadir J mengalami intimidasi saat mengusut kasus ini.
Intimidasi itu dilakukan agar penyidik ikut memperkuat skenario versi Ferdy Sambo yang sudah diungkapkan ke publik.
"Saya mendapatkan informasi bahwa ada upaya untuk menghalang-halangi, mengintimidasi, bahkan membuat cerita-cerita di luar yang dilakukan untuk memperkuat skenario yang bersangkutan ke banyak orang," kata Listyo.
Ia juga mengakui jika sejumlah penyidiknya takut dalam mengusut kasus ini, mengingat saat itu Ferdy Sambo masih menjabat sebagai Kadiv Propam Mabes Polri.
Hal itulah kemudian yang membuat Kapolri mengambil langkah untuk menonaktifkan Ferdy Sambo dari jabatan tersebut.
Akui Ferdy Sambo punya pengaruh besar
Hal lain yang menjadi tantangan dalam mengungkap kasus pembunuhan berencana terhadap Brigadir J adalah besarnya pengaruh Ferdy Sambo di Institusi Polri.
Menurut Kapolri, sebagai mantan Kadiv Propam Mabes Polri, Ferdy Sambo memiliki kekuatan dan kemampuan untuk mempengaruhi dan bahkan menekan penyidik.
Terlebih penyidik tersebut pangkatnya di bawah Ferdy Sambo. Tak hanya itu, Ferdy Sambo dinilai juga bisa mempengaruhi para jenderal dalam Polri.
Tak sampai disana, Ferdy Sambo juga memiliki pengaruh untuk merangkul petinggi negara lainnya, seperti para amggota DPR, agar percaya dengan omongannya.
Kontributor : Damayanti Kahyangan