Suara.com - Richard Eliezer atau Bharada E dibuat geleng-geleng kepala saat Ferdy Sambo yang tak lain adalah mantan bosnya di kesatuan Polri membeberkan kesaksiannya saat peristiwa penembakan yang menewaskan Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di rumah Duren Tiga.
Dalam video yang beredar di media sosial serta sejumlah akun televisi nasional itu memperlihatkan, saat Ferdy Sambo ditanya hakim soal penembakan yang menewaskan Brigadir J. Sementara Bharada E tampak duduk di kursi bersebelahan dengan tim pengacaranya.
Kepada hakim Ferdy Sambo menceritakan kesaksian versi dirinya saat Bharada E menembak Brigadir J.
Menurut Ferdy Sambo, sebelum penembakan terjadi, Yosua atau Brigadir J awalnya masuk bersama Kuat Maruf dan Ricky ada di belakangnya.
"Begitu masuk, saya sudah emosi waktu itu, mengingat perlakukan Yosua terhadap istri saya. Saya kemudian berhadapan dengan Yosua," ujar Ferdy Sambo.
"Saya sampaikan kepada Yosua, kenapa kamu tega sama ibu. Jawaban Yosua tidak seperti yang saya harapkan, dia malah menanya balik, ada apa komandan, seperti menantang," sambungnya.
Lantas, Ferdy Sambo berucap kamu kurang ajar. Kemudian, kata dia, ia perintahkan Richard untuk menghajar Yosua.
"Saya perintahkan Richard, kamu hajar Chad, kemudian ditembaklah Yosua sambil maju, sampai roboh yang Mulia. Itu kejadian cepat sekali, kemudian saya sampaikan stop berhenti,"
"Begitu kemudian Yosua jatuh dan sudah ada berlumuran darah, saya jadi panik yang Mulia, kemudian saya berpikir dengan pengalaman saya yang paling memungkinkan bahwa peristiwa penembakan ini adalah tembak menembak,"
"Akhirnya kemudian saya melihat ada senjata Yosua di pinggang, kemudian saya mengambil dan mengarahkan tembakan ke dinding yang Mulia," tutur Ferdy Sambo membeberkan kesaksiannya.
Di momen Ferdy Sambo menuturkan kesaksiannya itulah, Bharada E tampak seperti tak percaya atas apa yang dikatakan mantan bosnya itu. Ia tampak serius memperhatikan keterangan Sambo.
Matanya serius sembari sesekali menulis catatan di kertas. Ia lantas menggeleng-gelengkan kepala mendengar kesaksian Ferdy Sambo di depan hakim.
Di lain sisi, keterangan berbeda terkait penembakan Brigadir J diungkapkan Richard Eliezer. Menurut dia, sebelum penembakan terjadi, leher bagian belakang Yosua sempat dipegang Ferdy Sambo sembari didorong untuk merunduk.
"Berlutut kau, berlutut kau situ, berlutut," ujar Bharada E menggambarkan momen saat ia melihat Ferdy Sambo emosi memerintahkan Yosua berlutut.
"Baru dia (Ferdy Sambo) melihat ke saya, woi kau tembak, kau tembak, cepat kamu tembak dia. Saya mengeluarkan senjata lalu saya tembak yang mulia," ujar Bharada E kepada hakim.
Kemudian hakim bertanya, jarak berapa meter Bharada E menembak Brigadir J.
"Sekitar dua meter yang mulia," jawab Richard.
"Bagaimana saudara menembak," tanya hakim.
"Saya keluarga saja, saya sempat menutup mata ketika tembakan pertama," jawab Richard.
Ia juga sempat menggambarkan momen Yosua sempat berjalan sembari mundur sembari bertanya "ada apa pak,".
"Berapa kali saudara tembak," tanya hakim lagi.
"Seingat saya tiga sampai empat kali yang mulia," jawab Richard.
Menurut Richard, Yosua sempat mengerang saat terkena tembakan hingga kemudian jatuh di ujung tangga. Setelah Yosua jatuh, kata dia, di saat itulah ia maju dan melihat Ferdy Sambo langsung pegang dan kokang senjata lalu ke arah Yosua.
"Dia (Ferdy Sambo) ada sempat tembak ke arah almarhum," ucap Richard.
Di momen lain, ucapan 'hajar Chad, hajar Chad' oleh Ferdy Sambo kemudian dipertegas dalam pertanyaan kuasa hukum Richard, yang menanyakan apakah perintah itu untuk menghajar Yosua pakai tangan atau pakai kaki?
"Saya saat itu tidak berpikir hajar menggunakan tangan atau kaki atau senjata, tapi terjadilah penembakan itu, sehingga saya sudah sampaikan ke Richard, saya yang akan bertanggung jawab," jawab Sambo.
Diketahui baik Ferdy Sambo dan Richard Eliezer sama-sama duduk sebagai terdakwa pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Bedanya, status Richard saat ini adalah sebagai justice collaborator yang mana dirinya dinilai sebagai saksi kunci dalam kasus yang ini.