Drg Syamsiar menceritakan Niamh memenuhi janjinya datang lagi ke kliniknya sesuai jadwal untuk menyelesaikan pengerjaan dan perawatan giginya.
Ia mengatakan tidak ada obat-obatan apa pun yang diberikan kepada Niamh saat itu.
"Enggak ada minum obat, enggak ada suntikan, … tidak ada tindakan operasi yang berpotensi menimbulkan alergi atau keracunan, atau yang lain … jadi saya rasa tidak ada kemungkinan kejadian [kematian] ini dari [perawatan di] klinik kami."
Tapi drg Syamsiar selalu ingat permintaan terakhir Niamh sebelum meninggalkan klinik.
"Dia bilang: 'boleh enggak saya peluk kamu? Mungkin saya tidak akan kembali lagi' ... jadi ya saya peluklah dia," kata Syamsiar.
"Saat itu saya cuma menjawab, 'aduh kok kamu kurus banget, kelihatannya kamu harus menaikkan berat badan kamu deh'," tutur drg Syamsiar.
Ia mengatakan turut sedih dan terpukul atas meninggalnya Niamh karena selama ini ia punya hubungan yang baik dengan semua pasiennya yang sudah dianggapnya sebagai keluarga sendiri.
"Saya juga sempat tanya ke dia, kamu ada rencana jalan-jalan ke mana saja selama di Bali, tapi dia jawab enggak mau ke mana-mana dan hanya mau membaca saja."
Sempat membuat tato di Bali
AKBP Bambang Yugo Pamungkas mengatakan polisi juga memeriksa pihak Two Guns Tattoo pada 16 Desember lalu.
"Jadi memang betul, yang bersangkutan korban tanggal 1 Desember sekira pukul 17.00 WITA membuat tato di lengannya."
ABC kemudian menghubungi studio tato yang disebutkan polisi.
Salah satu staf Two Guns, yang tidak ingin disebutkan namanya, membenarkan kedatangan Niamh untuk membuat tato ke studio tersebut.
"Tato kecil, tulisan ‘and miles to go…’ [jadi pengerjaannya] enggak lama."
ABC juga sempat melihat rekaman CCTV saat Niamh mendatangi studio tato tersebut bersama seorang pria dengan perawakan seperti orang Indonesia.
Saat ABC menanyakan kepada polisi siapa laki-laki tersebut dan apakah dia juga sudah diperiksa, AKBP Bambang Yugo Pamungkas mengatakan polisi masih menyelidiki identitas laki-laki tersebut.
"Kita masih mencari [identitasnya], masih kita selidiki ... dan kita juga masih fokus menunggu hasil otopsi."
Turis ke Bali untuk perawatan
Banyaknya turis, termasuk warga Australia, pergi ke Bali untuk mendapatkan perawatan kesehatan disebabkan biayanya yang relatif lebih murah dibandingkan di Australia.
Pemerintah Indonesia menyadari potensi 'health tourism' secara umum di Bali, karenanya sudah mencanangkan Bali sebagai destinasi wisata berbasis kesehatan sejak tahun 2021.
"Health tourism ini sangat besar potensinya, dan Bali sekarang diproyeksikan untuk menjadi destinasi unggulan untuk health tourism. Kami secara overall mempersiapkan destinasi pariwisata kesehatan dengan logo branding Indonesia health tourism," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, November lalu.
"Di forum B20 rencana pengembangan Bali sebagai destinasi berbasis kesehatan telah disosialisasikan dengan beberapa unggulan. Untuk itu, Kemenparekraf terus berkolaborasi dengan Kementerian Kesehatan, dan kementerian lembaga lainnya."
Dr Syamsiar mengatakan meski pun harga perawatan gigi lebih murah dibanding negara-negara barat, bukan berarti kualitas dokter gigi di Indonesia tidak sebaik negara lain.
"Saya pikir mereka yang datang ke Bali bukan sekadar mencari dokter yang asal murah saja, tapi lebih mencari perawatan yang terjangkau."
“Kami juga menjaga [SOP] Standard operating procedures kami dan kualitas kerja dan pelayanan kami kepada pasien, kami tidak sembarangan," ujarnya.