Warga China Berbondong-bondong Beli Tiket Pesawat usai Pembatasan Perjalanan Dibuka

Diana Mariska | BBC | Suara.com

Kamis, 29 Desember 2022 | 10:27 WIB
Warga China Berbondong-bondong Beli Tiket Pesawat usai Pembatasan Perjalanan Dibuka
Covid-19 di China: Warga berbondong-bondong beli tiket pesawat setelah pembatasan perjalanan dibuka. (BBC)

Suara.com - Khalayak China berbondong-bondong memesan tiket pesawat ke luar negeri setelah pemerintah mengumumkan rencana pembukaan pembatasan perjalanan bulan depan.

Sejumlah situs perjalanan mencatat lonjakan angka pengunjung sejak rencana tersebut diumumkan pada Senin (26/12). Kebijakan itu mencakup penghapusan syarat wajib karantina bagi pendatang mancanegara.

Adapun bagi masyarakat China yang ingin terbang ke luar negeri, pengajuan pembuatan paspor akan dibuka kembali pada 8 Januari, kata kantor imigrasi China.

Meski begitu, turis China tidak dapat masuk ke semua negara tujuan tanpa syarat perjalanan.

Para pejabat di Amerika Serikat sedang mempertimbangkan pembatasan baru terhadap para pelancong dari China karena kekhawatiran tentang lonjakan kasus dan kurangnya transparansi dari pemerintah China.

"Ada kekhawatiran yang meningkat di komunitas internasional tentang lonjakan Covid-19 yang sedang berlangsung di China dan kurangnya data transparan, termasuk data urutan genomik virus," kata pejabat AS dalam pernyataan yang dikutip oleh sejumlah kantor berita.

"Tanpa data ini, semakin sulit bagi pejabat kesehatan masyarakat untuk memastikan bahwa mereka akan dapat mengidentifikasi potensi varian baru dan mengambil langkah cepat untuk mengurangi penyebaran."

Kemudian Jepang, yang merupakan salah satu destinasi paling populer bagi wisatawan China, mengumumkan syarat khusus bagi pendatang dari negara tersebut.

Pendatang dari China harus menunjukkan tes negatif Covid-19 per kedatangan atau karantina selama tujuh hari akibat membludaknya kasus di negara tersebut.

Bahkan, India masih mewajibkan pelaku perjalanan dari China dan negara-negara tertentu lainnya untuk membawa hasil tes Covid-19 negatif saat mendarat. Peraturan ini sudah berlaku sebelum China melonggarkan peraturan terkait wabah penyebaran Covid-19.

Strategi 'nol Covid' disusul peningkatan kasus Covid

Pelonggaran syarat berpergian - bagian terakhir dari kebijakan 'nol-covid' pemerintah China - muncul seiring dengan upaya negara tersebut untuk melawan gelombang penularan baru.

Pemerintah China memutuskan untuk melonggarkan kebijakan terkait Covid-19 setelah warga melakukan protes besar-besaran terhadap Presiden Xi Jinping pada November lalu.

Tetapi, langkah ini diikuti dengan peningkatan kasus Covid-19 yang membuat rumah sakit kewalahan dan apotek kehabisan obat.

Pengumuman tentang dibukanya kembali perjalanan mancanegara mengemuka sehari setelah pemerintah menghilangkan syarat karantina bagi pelancong yang mendarat di China.

Pemerintah China juga membatalkan pembatasan jumlah penerbangan harian.

Tak hanya itu, Komisi Kesehatan Nasional China akan menurunkan tingkat bahaya Covid-19 menjadi penyakit Kelas B pada 8 Januari nanti.

Sebelum penghapusan syarat perjalanan, masyarakat China dianjurkan agar tidak bepergian ke luar negeri. Penjualan tur grup dan paket perjalanan dilarang, menurut perusahaan solusi pemasaran Dragon Trail International.

Pengunjung situs perjalanan meningkat

Hanya setengah jam setelah terbitnya pengumuman pelonggaran pembatasan perjalanan, media China melaporkan pencarian destinasi liburan pada situs perjalanan Trip.com naik 10 kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Destinasi yang paling banyak dicari warga China mencakup Makau, Hong Kong, Jepang, Thailand, dan Korea Selatan.

Selain itu, pencarian terkait penerbangan pada situs biro perjalanan Qunar naik tujuh kali lipat dalam kurun 15 menit setelah pengumuman, berdasarkan laporan China Daily.

Sebelum pandemi, menurut Statista, jumlah pelaku perjalanan yang berasal dari China mencapai 155 juta orang pada 2019. Angka tersebut turun menjadi 20 juta orang pada 2020.

Tahun ini, sejumlah warga China berharap dapat mengunjungi keluarga dan orang terdekat mereka dalam rangka Tahun Baru Imlek yang akan jatuh pada 22 Januari 2023.

Oleh karena itu, banyak warga China memiliki perasaan campur-aduk mengenai pelonggaran kebijakan Covid-19.

"Saya senang mendengarnya tetapi juga kaget. Kalau China akan melakukannya [pembukaan kembali] kenapa saya harus menjalani semua tes Covid-19 harian dan penguncian area setahun terakhir ini?" kata Rachel Liu yang tinggal di Shanghai.

Ia mengatakan dirinya mengalami karantina wilayah selama tiga bulan, sedangkan semua anggota keluarganya telah tertular Covid-19 dalam beberapa minggu terakhir.

Orangtuanya, kakek-neneknya, dan pacarnya - yang tinggal di tiga kota berbeda yakni Xi'an, Shanghai, dan Hangzhou - semua sakit demam pekan lalu.

Di media sosial, banyak juga yang mengaku khawatir tentang pembukaan kembali perjalanan, padahal kasus Covid-19 sedang tinggi.

"Kenapa mereka tidak menunggu gelombang ini berlalu baru membuka kembali? Para tenaga kesehatan sudah kewalahan dan lansia tidak akan kuat melewati dua gelombang infeksi dalam satu bulan," tulis salah satu komentar teratas di Weibo.

Masyarakat yang tinggal di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai, yang sedang mengalami musim dingin, mulai kehabisan obat flu dan batuk-pilek.

Ada kerisauan bahwa ratusan orang yang meninggal karena Covid-19 tidak dilaporkan sebab beberapa krematorium kewalahan.

Di ibu kota Beijing, para pejabat mengutarakan rencana untuk mendistribusikan tablet Paxlovid buatan Pfizer sebagai upaya meringankan infeksi berat. Namun, menurut The Global Times, posko-posko kesehatan mengaku belum menerima obat tersebut dari pemerintah.

Pada Senin lalu, Presiden Xi menyampaikan pesannya terkait perubahan kebijakan untuk pertama kali. Ia meminta agar para pejabat melakukan apa yang 'dapat dilakukan' untuk menyelamatkan nyawa.

Perubahan drastis pada kebijakan di China telah menempatkan Xi dalam posisi yang sulit. Ia merupakan pendorong utama di balik kebijakan 'nol-Covid' yang banyak diprotes warga karena membuat hidup mereka susah dan memperlambat ekonomi.

Tetapi, berhubung kebijakan tersebut sudah dicabut, para analis mengatakan Xi harus bertanggung jawab atas gelombang penyebaran besar dan penuhnya rumah sakit.

Banyak yang mempertanyakan mengapa China tidak lebih siap menghadapi ledakan kasus tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Kasus Covid Tinggi Lagi, Warga China Mau Kabur ke Negara Lain

Kasus Covid Tinggi Lagi, Warga China Mau Kabur ke Negara Lain

Bisnis | Kamis, 29 Desember 2022 | 09:56 WIB

Disebut Aktris Pasca-00 dengan Akting Terbaik, Begini Respons Zhang Zifeng

Disebut Aktris Pasca-00 dengan Akting Terbaik, Begini Respons Zhang Zifeng

Your Say | Kamis, 29 Desember 2022 | 07:05 WIB

Belum Bersertifikat Halal, Penikmat Es Krim Mixue Asal China di Indonesia Kebablasan

Belum Bersertifikat Halal, Penikmat Es Krim Mixue Asal China di Indonesia Kebablasan

| Rabu, 28 Desember 2022 | 18:33 WIB

CORE: Tahun 2023 Ekonomi AS dan Uni Eropa Terguncang, Indonesia China Menguat

CORE: Tahun 2023 Ekonomi AS dan Uni Eropa Terguncang, Indonesia China Menguat

Bisnis | Rabu, 28 Desember 2022 | 15:59 WIB

China Akui Khawatirkan Kenaikan Anggaran Pertahanan Jepang

China Akui Khawatirkan Kenaikan Anggaran Pertahanan Jepang

News | Rabu, 28 Desember 2022 | 15:29 WIB

Sertifikat Halal Es Krim Mixue Jadi Sorotan, Begini Kata Manajemen

Sertifikat Halal Es Krim Mixue Jadi Sorotan, Begini Kata Manajemen

| Selasa, 27 Desember 2022 | 19:11 WIB

Terkini

Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa

Sempat Dikira Tidur, Pria di Depan Gedung HNSI Juanda Ternyata Sudah Tak Bernyawa

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 16:18 WIB

Pengamat: Dasco Baca Situasi Dunia, Maka Jadi 'Arsitek Pertemuan' Prabowo-Mega

Pengamat: Dasco Baca Situasi Dunia, Maka Jadi 'Arsitek Pertemuan' Prabowo-Mega

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 16:09 WIB

Ini Prediksi yang Bakal Dialami AS-Israel Pasca Pengangkatan Mohammad Bagher Zolghadr

Ini Prediksi yang Bakal Dialami AS-Israel Pasca Pengangkatan Mohammad Bagher Zolghadr

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 16:00 WIB

Gus Ipul Kunjungi Pesantren Pendiri NU, Sosialisasikan Agenda Muktamar

Gus Ipul Kunjungi Pesantren Pendiri NU, Sosialisasikan Agenda Muktamar

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:47 WIB

Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu

Benjamin Netanyahu Diserang Orang Kepercayaan: Jubir Sindir Tas Mewah Sara Netanyahu

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:46 WIB

Terbongkar! Prancis dan 2 Negara Eropa Dituding Diam-diam Bantu AS Bombardir Iran

Terbongkar! Prancis dan 2 Negara Eropa Dituding Diam-diam Bantu AS Bombardir Iran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:25 WIB

Yaqut Sempat Jadi Tahanan Rumah, Jubir Hingga Pimpinan KPK Dilaporkan ke Dewas

Yaqut Sempat Jadi Tahanan Rumah, Jubir Hingga Pimpinan KPK Dilaporkan ke Dewas

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:24 WIB

Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak, Terminal Kalideres Dipantau Ketat Selama Arus Mudik Lebaran

Cegah Kekerasan Perempuan dan Anak, Terminal Kalideres Dipantau Ketat Selama Arus Mudik Lebaran

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:19 WIB

Mendagri Ungkap Penyebab Antrean BBM di Kalbar, Panic Buying Gegara Hal Ini

Mendagri Ungkap Penyebab Antrean BBM di Kalbar, Panic Buying Gegara Hal Ini

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:15 WIB

Stok Bahan Bakar Tinggal 45 Hari Lagi! Filipina Tetapkan Status Darurat

Stok Bahan Bakar Tinggal 45 Hari Lagi! Filipina Tetapkan Status Darurat

News | Rabu, 25 Maret 2026 | 15:14 WIB