2 Karyawan Microsoft Dipecat karena Protes Kerja Sama AI dengan Militer Israel

Bella

Selasa, 08 April 2025 | 16:19 WIB
2 Karyawan Microsoft Dipecat karena Protes Kerja Sama AI dengan Militer Israel
Logo Microsoft (Shutterstock)

Suara.com - Microsoft memecat dua karyawannya yang melakukan aksi protes dalam perayaan ulang tahun ke-50 perusahaan, menyusul kritik terbuka terhadap keterlibatan raksasa teknologi itu dalam penyediaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk militer Israel.

Aksi ini menjadi sorotan luas dan memicu kembali perdebatan mengenai batasan kebebasan berekspresi di lingkungan kerja korporasi teknologi.

Protes terjadi pada Jumat (5/4) di kampus utama Microsoft di Redmond, Washington.

Dalam momen yang disiarkan langsung dan dihadiri tokoh penting seperti Bill Gates dan mantan CEO Steve Ballmer, seorang insinyur perangkat lunak bernama Ibtihal Aboussad mendadak naik ke atas panggung ketika CEO Microsoft AI Mustafa Suleyman sedang memaparkan visi jangka panjang perusahaan di bidang AI.

“Anda mengaku peduli dengan penggunaan AI untuk kebaikan, tetapi Microsoft menjual senjata AI kepada militer Israel,” teriak Aboussad ke arah Suleyman.

Ia menuding perusahaan terlibat dalam genosida di Palestina.

Seorang anak duduk termenung diantara puing-puing bangunan yang hancur di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara
Seorang anak duduk termenung diantara puing-puing bangunan yang hancur di kamp pengungsi Jabalia di Jalur Gaza utara

“Lima puluh ribu orang telah tewas dan Microsoft mendukung genosida ini di wilayah kami,” katanya.

Insiden tersebut memaksa Suleyman menghentikan presentasinya sejenak.

Dalam rekaman acara, Suleyman terlihat mencoba menanggapi dengan tenang.

baca juga

“Terima kasih atas protes Anda, saya mengerti,” katanya.

Namun, Aboussad melanjutkan aksinya dengan menuduh Microsoft dan pemimpinnya berlumuran darah, lalu melemparkan syal keffiyeh ke panggung sebelum akhirnya diamankan oleh petugas keamanan.

Tidak lama kemudian, seorang karyawan lain, Vaniya Agrawal, juga menyampaikan protes di bagian selanjutnya acara.

Agrawal diketahui sebelumnya telah mengajukan pengunduran diri dan dijadwalkan berhenti pada 11 April. Namun pada Senin (8/4), Microsoft mempercepat kepergiannya menjadi efektif segera.

Menurut kelompok advokasi pekerja No Azure for Apartheid, Aboussad yang berbasis di kantor pusat Microsoft di Toronto, Kanada, menerima pemberitahuan pemecatan melalui panggilan telepon dengan perwakilan HRD.

Microsoft menuduh aksinya sebagai pelanggaran yang dirancang untuk mendapatkan perhatian publik dan menyebabkan gangguan maksimal pada acara yang sangat dinanti.

Dalam surat pemecatannya, Microsoft menegaskan bahwa Aboussad bisa saja menyampaikan kekhawatiran melalui saluran internal, namun ia justru memilih untuk melakukan tuduhan yang bermusuhan, tidak berdasar, dan sangat tidak pantas terhadap Suleyman dan perusahaan.

Perilaku tersebut dinilai sangat agresif dan mengganggu, hingga membuatnya harus dikawal keluar ruangan.

Sementara itu, kepada Agrawal, manajer Microsoft mengirimkan email bahwa perusahaan memutuskan pengunduran dirinya berlaku efektif segera. Kedua karyawan kehilangan akses ke akun kerja mereka setelah protes.

Microsoft menegaskan pihaknya memberikan ruang bagi karyawan untuk menyuarakan pendapat, namun menekankan bahwa hal itu harus dilakukan tanpa mengganggu jalannya bisnis.

“Kami menyediakan banyak cara agar semua suara dapat didengar. Yang terpenting, kami meminta agar hal ini dilakukan dengan cara yang tidak menyebabkan gangguan bisnis,” kata Microsoft dalam pernyataan pada Jumat (5/4).

Perusahaan tidak mengungkap apakah akan ada tindakan lebih lanjut terhadap karyawan lainnya.

Meski demikian, ini bukan pertama kalinya Microsoft menghadapi protes internal terkait kerja samanya dengan militer Israel.

Pada Februari lalu, lima karyawan dilaporkan dikeluarkan dari sebuah pertemuan dengan CEO Satya Nadella karena menyuarakan kritik terhadap kontrak perusahaan dengan Israel.

Laporan investigasi dari Associated Press awal tahun ini mengungkap bahwa teknologi AI Microsoft dan mitranya, OpenAI, telah digunakan oleh militer Israel dalam memilih target pengeboman selama operasi militer di Gaza dan Lebanon.

Salah satu serangan yang dikabarkan keliru menghantam kendaraan sipil di Lebanon, menewaskan tiga anak perempuan dan nenek mereka.

Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa di Google pada tahun lalu, ketika puluhan karyawan dipecat setelah melakukan aksi duduk di kantor New York dan Sunnyvale, California.

Protes tersebut menentang keterlibatan Google dalam Project Nimbus, kontrak senilai US$1,2 miliar yang menyediakan layanan cloud dan AI untuk pemerintah Israel.

Para pekerja Google yang diberhentikan kemudian mengajukan pengaduan ke Dewan Hubungan Perburuhan Nasional (NLRB), berharap dapat memulihkan hak kerja mereka.

Aksi-aksi ini menyoroti meningkatnya ketegangan antara kepentingan bisnis raksasa teknologi dengan nilai-nilai yang dipegang sebagian karyawannya, terutama terkait konflik geopolitik dan dampak sosial teknologi yang mereka kembangkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Balita Temukan Artefak 3.800 Tahun, Ternyata Punya Kaitan dengan Kisah di Alkitab

Balita Temukan Artefak 3.800 Tahun, Ternyata Punya Kaitan dengan Kisah di Alkitab

Tekno | Selasa, 08 April 2025 | 13:59 WIB

Microsoft Tunda Proyek Pembangunan Pusat Data di Indonesia, Ada Apa?

Microsoft Tunda Proyek Pembangunan Pusat Data di Indonesia, Ada Apa?

Tekno | Senin, 07 April 2025 | 22:06 WIB

13 Jurnalis Tewas Per Minggu di Gaza: Kisah Tragis di Balik Perang Israel-Hamas

13 Jurnalis Tewas Per Minggu di Gaza: Kisah Tragis di Balik Perang Israel-Hamas

News | Senin, 07 April 2025 | 19:52 WIB

Aksi Solidaritas Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Palestina

Aksi Solidaritas Tenaga Kesehatan Indonesia untuk Palestina

Foto | Senin, 07 April 2025 | 18:39 WIB

Perang Gaza Jadi Konflik Paling Mematikan Bagi Jurnalis, Lampaui Korban Gabungan PD I dan II

Perang Gaza Jadi Konflik Paling Mematikan Bagi Jurnalis, Lampaui Korban Gabungan PD I dan II

News | Senin, 07 April 2025 | 18:04 WIB

Titik Nadir Gaza? UNRWA: Tak Ada Lagi Harapan, Pasokan Kemanusiaan Kritis

Titik Nadir Gaza? UNRWA: Tak Ada Lagi Harapan, Pasokan Kemanusiaan Kritis

News | Senin, 07 April 2025 | 14:26 WIB

Penampakan Konsol Genggam Xbox Misterius Beredar, Bukan Project Kennan?

Penampakan Konsol Genggam Xbox Misterius Beredar, Bukan Project Kennan?

Tekno | Minggu, 06 April 2025 | 16:00 WIB

Lebih 50 Ribu Nyawa Melayang: Perempuan dan Anak Jadi Korban Mayoritas Agresi Israel

Lebih 50 Ribu Nyawa Melayang: Perempuan dan Anak Jadi Korban Mayoritas Agresi Israel

News | Sabtu, 05 April 2025 | 21:59 WIB

Hamas Konfirmasi Komandan Seniornya Terbunuh dalam Serangan Israel di Lebanon

Hamas Konfirmasi Komandan Seniornya Terbunuh dalam Serangan Israel di Lebanon

News | Jum'at, 04 April 2025 | 21:42 WIB

Gaza Terancam Kosong? Israel Rebut "Zona Keamanan", Warga Takut Depopulasi Permanen

Gaza Terancam Kosong? Israel Rebut "Zona Keamanan", Warga Takut Depopulasi Permanen

News | Jum'at, 04 April 2025 | 20:57 WIB

Terkini

Gelombang Panas Mematikan di Eropa: 1300 Orang Tewas, Suhu Tembus 41,7 C di Jerman

Gelombang Panas Mematikan di Eropa: 1300 Orang Tewas, Suhu Tembus 41,7 C di Jerman

News | Rabu, 01 Juli 2026 | 01:55 WIB

Di Balik Viral Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung: Tradisi Adat atau Simbol Politik?

Di Balik Viral Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung: Tradisi Adat atau Simbol Politik?

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 22:08 WIB

Potongan Jadi 8 Persen Mulai Besok, Koalisi Ojol Nasional: Janji Prabowo-Dasco Terbukti

Potongan Jadi 8 Persen Mulai Besok, Koalisi Ojol Nasional: Janji Prabowo-Dasco Terbukti

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:40 WIB

MUI Usul RUU Pidana LGBT, Gus Ipul: Patut Ditindaklanjuti, Tapi Dibahas Dulu

MUI Usul RUU Pidana LGBT, Gus Ipul: Patut Ditindaklanjuti, Tapi Dibahas Dulu

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:37 WIB

TKD Anjlok 59 Persen, Jakarta Tak Bisa Lagi Bergantung pada APBD demi Kejar Status Kota Global

TKD Anjlok 59 Persen, Jakarta Tak Bisa Lagi Bergantung pada APBD demi Kejar Status Kota Global

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:20 WIB

Sempat Tertahan di Papua, Bobby Nasution Pastikan Kontingen Pesparawi Sumut Pulang Besok

Sempat Tertahan di Papua, Bobby Nasution Pastikan Kontingen Pesparawi Sumut Pulang Besok

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:09 WIB

PDIP Surati Nanik S Deyang Minta Data Nama-nama Kader yang Terlibat MBG

PDIP Surati Nanik S Deyang Minta Data Nama-nama Kader yang Terlibat MBG

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:06 WIB

BNN Catat 50 Orang Meninggal Tiap Hari Akibat Narkoba, Rehabilitasi Harus Jadi Prioritas

BNN Catat 50 Orang Meninggal Tiap Hari Akibat Narkoba, Rehabilitasi Harus Jadi Prioritas

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:01 WIB

Buru Bupati dan Sekda Kuansing, KPK Telusuri Dugaan Kebocoran Informasi

Buru Bupati dan Sekda Kuansing, KPK Telusuri Dugaan Kebocoran Informasi

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 20:35 WIB

Dittipideksus Bareskrim Sita 18,1 Ton Sianida Ilegal, Dua Tersangka Ditetapkan

Dittipideksus Bareskrim Sita 18,1 Ton Sianida Ilegal, Dua Tersangka Ditetapkan

News | Selasa, 30 Juni 2026 | 20:25 WIB

×